nyarispuitis_perpisahan

(Tidak Akan) Ahli dalam Perpisahan

Kita bisa menjadi ahli dalam apapun, tapi tidak akan pernah ahli dalam perpisahan Tepat ketika toga wisuda dilempar ke udara, nasib Nara juga ikut dilempar ke udara. Melayang, tanpa tahu di lingkungan apa ia akan mendarat. Wisuda adalah penanda kedewasaan seseorang, karena setelah itu, jalan di depan yang terhampar adalah hutan rimba, harus ditebas sendiri. Read more about (Tidak Akan) Ahli dalam Perpisahan[…]

My First Audio Book: Flash Fiction ‘Monster di Bawah Ranjang’

Baca puisi yang ditulis sendiri sambil merekam suara sendiri pernah aku lakukan iseng-iseng, waktu itu lagi menggandrungi spoken word, yang kemudian aku upload di Soundcloud dengan judul The Talking Coffee (padahal isinya bahasa indonesia, haha). Lalu minat itu tertidur, tenggelam oleh kegiatan-kegiatan lain. Cukup lama, sampai di sela mumetnya pandemi, work from home dan segala Read more about My First Audio Book: Flash Fiction ‘Monster di Bawah Ranjang’[…]

Matanya, Kota yang Sepi

Matanya mengingatkanku pada kota yang sepi. Entah karena aku pernah mendengar kata-kata seperti ini di salah satu film, tapi memang begitulah matanya memberi kesan. Matanya tidak indah hingga layak dibikinkan lagu; tidak pula bulat seperti bola pingpong dan bikin susah lupa. Matanya seperti kota yang sepi, dan di sanalah aku tersesat. “Kalau memang begitu, kamu Read more about Matanya, Kota yang Sepi[…]