November 2, 2016

About

Berawal dari seorang pembicara di TedxTalks Jakarta pada Desember 2014 lalu, seorang (calon) penulis tergerak untuk memenuhi lini sosial media yang sedang hits kala itu dengan tagar #NyarisPuitis. Tidak lagi sekedar berbagi foto-foto yang bersifat pamer, namun sesuatu yang layak disebut karya. Tidak berlebihan, namun butuh niat yang berkecukupan.

Kecintaannya pada kata-kata membuat #NyarisPuitis terus bertumbuh, sebut saja #quote, #quotestoliveby, #sajak, #puisi, apapun itu. Yang puitis tak lagi sulit dicerna, karena nyaris doang, sih. Tetap beredar di orbit ‘kekinian’ namun tak pula mengkhianati bahasa dan kata-kata indah.

Tentang yang konon merintis #NyarisPuitis

Kota kecil itu ada di pulau Sumatra, provinsi Riau. Untung saja kala ia bertumbuh, ia jatuh di antara kata-kata di majalah Bobo. Terima kasih kepada Ayahnya yang setia berlangganan loper koran kala itu. Jatuh lalu mencinta, hingga detik ini. Pada kisah, dongeng, fabel, fiksi, artikel, apapun itu… dalam bentuk tulisan, lisan dan perasaan.

Hingga saat ini, semestanya masih sibuk merangkai kata-kata, di luar kesibukannya menjadi ‘normal’ dengan bekerja kantoran (sambil menganalisa market data dan segala jenis client). Terkadang masih suka melamunkan hal-hal yang bersinggungan di batas hitam dan putih; absurd dan surreal, apalagi kalau sedang dalam perjalanan. Tapi, jikalau duniamu bersinggungan dengannya, jangan sungkan untuk menyapa, ya?

Amfibi yang hidup di antara realita dan kata-kata ini bisa diajak kolaborasi dan berbagi pikiran di:

hai.kamu@nyarispuitis.com

tanerina42@gmail.com

Terjangkau di berbagai media sosial, terutama Instagram. Ia memang banci Instagram, sih. Dengan hashtag #NyarisPuitis, mungkin? (: