Menjadi Awan, Menjadi Hujan – #NyarisPuitis

judul nyarispuitis puisi

Bolehkah aku menjadi awan saja, yang mengalun di langit senja

Terlihat tak ke mana-mana, namun perlahan berkelana ke mana saja

Tidak perlu punya tujuan dan melesat seperti pesawat yang melayang di atasnya

Tapi tak juga bingung ke mana arah akan berlabuh, karena aku adalah awan

Dan angkasa adalah arahku berkelana

Lalu kalau tiba saatnya, aku akan turun menjadi hujan

Disambut gegap gempita oleh tanah kerontang dengan penuh rasa syukur

Dicela oleh ibu-ibu yang lupa mengangkat pakaian yang ia jemur

Ditatap nanar dari balik jendela oleh pelamun yang terpekur

Melihatku menjatuhkan diri tanpa mengeluh kesakitan, kemudian belajar makna legowo

Lagipula, coba jelaskan padaku…

Jelaskan padaku, mengapa aku harus meringis ketika aku singgah di pundak bocah yang sedang menari sambil bermain hujan? Aku… merasa disambut, merasa dicintai, merasa berguna karena bisa menghibur orang lain

Jelaskan pula padaku, mengapa aku harus senang ketika aku singgah pada pakaian yang sudah kering? Aku tidak punya pilihan lain selain membasahinya, dan sayup omelan si ibu menyayat hatiku. Aku… merasa ditolak, merasa tidak berguna, karena hadir di saat yang tidak diinginkan

Lalu tanpa terasa, seiring semilir angin berpadu mentari, aku kembali menjadi awan

Apakah aku adalah awan yang sama dengan sebelumnya?

Apakah aku adalah awan yang beda dengan sebelumnya?

Aku tidak mampu menjawabnya

Seluruh angkasa adalah arah yang baru bagiku

Dan begitulah aku menjadi awan dan tidak menjadi awan

Dan begitulah aku menjadi hujan dan tidak menjadi hujan

“Ayo masuk! Jangan main hujan terus, nak!” seru ibu-ibu yang masih uring-uringan karena takut anaknya masuk angin, namun ia lega karena hari ini jemurannya sudah ia angkat.

Bocah yang diteriaki itu berlari masuk rumah, mengibaskan rambutnya sambil meminta handuk. Cipratan air dari rambutnya mengenai si bapak yang sedang melamun memandangi jejak air hujan di balik jendela. Membuyarkan lamunannya.

Tanpa seutas kata pun, si bapak beranjak ke kamar, mengambilkan handuk untuk anaknya.

*Jakarta, 13 November 2020.

Merenungkan betapa lepas dan bebasnya, kalau aku–kalau kita, menjadi seperti awan.


Dibawakan dalam bentuk audio yang bisa diakses di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *