Tentang Akhir Tahun (2021: You Decide)

Biasanya di akhir tahun, pikiran Daisy berkabut dan ribut, seperti suara Daisy Duck kwek kwek kwek memenuhi semua sudut benaknya. Kilas balik memikirkan banyaknya resolusi yang belum tercapai, hal-hal bodoh yang ia lakukan di tahun ini, lalu kalut tentang apa yang akan terjadi di depan.

Akhir tahun seperti ombak pantai yang menjilat pergi masa-masa mudanya; akhir tahun seperti masa-masa matahari tenggelam yang terlalu cepat menjadi malam. Ah, Daisy tidak rela kalau waktu berlari cepat seperti ini, melesat mendorongnya ke tepi jurang. “Aku belum menjadi pribadi yang cukup baik!” protes Daisy, walau ia tahu ia tak punya pilihan, selain melompat ke dalam ketidakpastian.

Tapi, tahun ini.. Bagi Daisy, 2020 terlalu spesial untuk disebut sebagai sebuah tahun. Saking spesialnya, mestinya 2020 ini kita hadiahkan mahkota dan singgasana, lalu sambil kita haturkan sembah sujud, kita berikan juga upeti.

“Wah, sarkas ya kamu.” tembok yang disandari Daisy seakan menyahut.

Tapi, kamu yang sedang mendengarkan ini juga setuju, kan? 2020 adalah tamu yang tak diundang, berlagak kayak raja, datang mengacaukan seluruh isi rumah, walau Daisy tak sudi menjamu. “Bisa ngga ya, covid pergi barengan sama 2020 aja?” tanya Daisy, yang lalu dibalas, “jangan halu.” sama si tembok. Tapi, Daisy rasa tembok yang tak-akan-terjangkit-covid saja mengerti: bahwa covid tidak akan pergi kalau kondisi di luar sana masih begini-begini saja. Tapi, siapa yang bisa kamu salahkan? Kita semua memiliki peran kolektif dalam pandemi ini, dan inilah kenyataannya.

Saking spesialnya tahun ini, Daisy bahkan tidak kaget lagi kalau besok-besok ada alien yang menginvasi bumi; atau ada monster dan zombie yang datang menggedor pintunya. Silakan, silakan, sudah cukup kacau aku dibuat 2020 ini, coba lihat-lihat apalagi yang bisa kau bikin lebih kacau.

Namun, tahun ini menyingkap banyak hal yang awalnya terasa tak mungkin, Daisy menemukan banyak keajaiban yang menyala di saat-saat tergelapnya, salah satu yang paling mendasar: kemampuan untuk bertahan hidup. Di sela-sela itu, karena saking bosannya terkungkung dalam kotak yang itu-itu saja, Daisy mau tidak mau belajar berdamai dengan versi dirinya yang paling buruk. Versi yang paling jujur, yang akhirnya membuatnya bernafas lega dalam pengapnya #DiRumahAja.

Dan juga, mungkin ini momen yang tepat untuk berterima kasih pada orang-orang yang peduli pada Daisy, yang meluangkan waktu untuk bertanya barang sejenak, “bagaimana harimu? bagaimana kondisimu?” dan membuat 2020 sedikit lebih indah untuk dijalani.

Yang paling penting, di penghujung tahun kali ini, tidak ada desakan resolusi yang meletus dan membuat hatinya sangat kacau, Alih-alih, Daisy merasa tenang, lebih tenang. Seakan ia sudah menggenggam obat mujarab, siap menghadapi keadaan terburuk, karena ia sudah punya lebih dari cukup ‘asam-garam kehidupan.’

Tidak lagi mimpi yang muluk-muluk; tidak juga berharap bisa secepatnya berada lagi dalam hiruk pikuk.

2021, Daisy memilih untuk realistis. 2021, Daisy sendiri-lah yang menentukan, bahwa di setiap momen, ia akan berusaha sebaik mungkin, bertanggung jawab menjaga mental dan fisiknya agar tetap sehat, supaya setidaknya ia tidak merepotkan orang-orang di sekitarnya. Resolusi yang realistis seperti ini, membuat Daisy merasa lebih ringan. Kalaupun didesak ke tepi jurang, rasanya ia tidak akan jatuh melesak, melainkan terbang melayang.

2021, Daisy berdoa agar akarnya tetap tegar, dan ia mampu mekar sebagai kuntum yang segar. Dan Daisy yakin, selama hatinya masih berdebar, hidup harus tetap berkibar.


Versi podcast bisa didengarkan di sini:

Music credit: DooPiano – Life Goes On (BTS)

*Untuk kamu yang membaca ini, semoga kamu sehat dan bahagia ya. Sampai jumpa di 2021 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *