(Tidak Akan) Ahli dalam Perpisahan

Kita bisa menjadi ahli dalam apapun, tapi tidak akan pernah ahli dalam perpisahan

Tepat ketika toga wisuda dilempar ke udara, nasib Nara juga ikut dilempar ke udara. Melayang, tanpa tahu di lingkungan apa ia akan mendarat. Wisuda adalah penanda kedewasaan seseorang, karena setelah itu, jalan di depan yang terhampar adalah hutan rimba, harus ditebas sendiri.

Sejak kecil, Nara selalu berdoa biar cepat tumbuh dewasa, karena menurut iklan susu kesukaannya: tumbuh besar itu enak. Namun, ada satu pinta yang luput dari doanya, agar ia dibekali dengan ketegaran menghadapi perpisahan, karena tumbuh dewasa tidak serta merta menjadi dewa, bebas ngapain aja, melainkan hidup berdampingan dengan perpisahan.

“Masih ngga nyangka kalau musisi terkenal itu meninggal, padahal masih muda,” ujar seorang kolega Nara, di sela-sela bahasan mereka tentang pekerjaan.

Nara menahan nafasnya, ada sesak yang membubung di hatinya, beliau adalah musisi kesukaan yang mengisi masa remaja Nara, dan juga, kolega-nya itu baru saja melayangkan surat pengunduran diri. Bagaimana bisa perpisahan dibahas sambil-lalu seperti ini, seperti membahas ‘makan apa ya nanti’ di hari-hari biasa. Rasanya lebih enak meninggalkan daripada ditinggalkan, namun bukankah kita semua pernah meninggalkan dan ditinggalkan?

Setiap pertemuan adalah belantara kompleks di mana garis-garis kadang menjadi tak punya definisi. Menjadi dewasa, Nara sepatutnya menjadi seorang tenaga ahli, dalam pekerjaan maupun hal lainnya, mestinya tidak perlu melibatkan perasaan yang emosional. Namun, coba jelaskan, bagaimana caranya agar tidak menjadi sentimental, kalau kita, satu sama lain, terikat secara emosional? Ah, mungkin memang benar, dalam menjadi dewasa, kita bisa menjadi ahli dalam apapun, tapi tidak akan pernah ahli dalam perpisahan.

Lagipula, siapa yang tidak merasakan kehilangan di tahun 2020? Tahun ini seakan tidak memberi Nara udara untuk bernafas lega barang sejenak. Perpisahan dan kehilangan, dalam konteks apa saja, membanjir bagai bandang, meleburkan pertahanan Nara sekali lagi, sekali lagi, lalu menjadi tak terhitung. Pilu yang membuat lidahnya kelu; duka yang membuatnya murka pada dirinya sendiri.

“Nama panjang lo apa? Sayonara? Pantesan lo sedih mulu kalo ada yang pergi,” guyon koleganya lagi.

Tapi, bukankah aku dan kamu, pernah menjadi Nara? Atau bahkan, masih menjadi Nara hingga saat ini. Orang-orang datang dan pergi. Mereka datang sebagai orang asing yang mengenalkan diri, dan kemudian pergi sebagai sahabat yang erat di hati; atau kembali menjadi asing. Bagaimanapun juga, hidup adalah lautan yang mesti diarungi sendiri, kapal-kapal kita mungkin berpapasan, lalu layar harus dibentangkan sesuai kompas masing-masing. Tapi, kita, masih berpusar di samudra yang sama, di langit yang sama. Bahkan di malam-malam tergelap kita, kita masih mengandalkan mercusuar yang sama, yakni kebaikan hati dan memori indah yang selalu kita rayakan. Mungkin dengan begitu, pilu dalam perpisahan akan lebih bisa kita rangkul.

Nara menatap koleganya dengan senyum simpul, tahu bahwa Nara bukan kepanjangan dari Sayonara, melainkan Narasi yang sudah menjadi bagian dalam hidup. Kenang-kenangan manis, akan kita dekap baik-baik dalam degup jantung ini. Dan semua itu, sudah cukup bagi kita, untuk berlayar kembali.

Dengarkan versi podcast di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *