My First Audio Book: Flash Fiction ‘Monster di Bawah Ranjang’

Baca puisi yang ditulis sendiri sambil merekam suara sendiri pernah aku lakukan iseng-iseng, waktu itu lagi menggandrungi spoken word, yang kemudian aku upload di Soundcloud dengan judul The Talking Coffee (padahal isinya bahasa indonesia, haha). Lalu minat itu tertidur, tenggelam oleh kegiatan-kegiatan lain. Cukup lama, sampai di sela mumetnya pandemi, work from home dan segala drama… aku menemukan cara ‘menyembuhkan diri sendiri’ dengan menyelami hobiku. Membongkar lagi cerpen yang dulu kutulis di Storial, lalu mengemasnya menjadi audio book.

Judulnya ‘Monster di Bawah Ranjang serta Kemungkinan Diculik ketika Berjualan Es Krim.’ Dengan beberapa penyesuaian tentu saja. Proses pengerjaannya cukup seru, aku sangat menikmatinya, dan masih terus terpukau: bagaimana mungkin cerpen yang aku tulis 4 tahun lalu, saat ini bisa ‘menyelamatkanku’ dari kusutnya pikiran ‘tidak bisa ke mana-mana dan ngapa-ngapain.’ Oleh karena itu, aku sungguh-sungguh berterima kasih.

Cerpen ini membahas tentang ketakutan, yang di dalamnya terselip pola asuh orang tua (yang juga clueless tentang bagaimana cara merawat anak); dan si anak, pemilik mimpi-mimpi absurd yang ragu-ragu, karena terkungkung oleh ketakutan itu sendiri. Membaca kembali cerpen ini, cukup membuatku tertohok. Ngga sadar kalau ternyata aku di masa lalu, berhasil memberi nasehat pada aku di masa kini. Good job, Nana.

Sekarang, dengan penuh kerendahan hati, kupersembahkan cerita pendek ini kepada siapapun yang membaca ini, semoga memberi nyala pada muram. Semoga sisa-sisa keberanian yang dikumpulkan bisa memantik bara dalam dirimu. Senantiasa ingat-ingat, bahwa tidak ada yang sia-sia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *