Reply 1988 dan tempat yang selamanya di hati.

Berhubung sedang #DirumahAja dan ada banyak waktu yang bisa dihamburkan untuk menawar rasa sendu nggak bisa ke mana-mana, saya akhirnya mengeksplor lagi drama korea (biasanya cuma ngikutin drama-drama terbaru doang yang lagi heboh, seperti Crash Landing On You dan Kingdom). Dan berkat rekomendasi adik saya, akhirnya saya menonton Reply 1988. Jujur, inilah drama korea pertama yang bikin saya langsung menangis telak di episode pertama, karena bener-bener bisa relate dengan tokoh utama ceweknya, Sung Deoksun yang juga digambarkan sebagai anak tengah.

Reply 1988 ini bagaikan comfort food for the soul. Apa makanan yang dari kecil yang sering kamu makan, dan sampai tumbuh dewasa, kesan dari makanan itu tidak pernah luput dari ingatanmu? Bagi saya, indomie kuah rasa ayam bawang yang dibikin di rumah. Pakai telor rebus yang dihancurkan, kuahnya diminum sampai hampir habis. Tidak pernah sampai habis karena selalu dimarahi Mama, ‘kuah indomie itu nggak sehat.’ Ada satu momen saat malam-malam nggak bisa tidur, lalu turun ke dapur untuk masak indomie. Rasa itu, masa itu, tiba-tiba berkelebat kembali begitu ending drama ini selesai diputar. Perasaan kembali ke rumah; kembali ke masa muda.

Rasanya sudah lama sekali tidak ketemu dengan drama atau film yang benar-benar menyentuh pas ke hati. Bukan karena ending-nya sesuai ekspektasi atau pemerannya keren-keren atau jalan ceritanya mind-blowing. Reply 1988 ini… justru hadir dengan begitu sederhana dan apa adanya, jujur dan mentah. Dirilis di tahun 2016, mengambil setting tahun 1988 hingga 1994, drama ini masih relevan ditonton di tahun 2020 di masa pandemi ini (duh, ke mana aja sih gue).

Menceritakan tentang 5 sekawan yang tinggal di satu komplek yang sama: Ssangmundong, bersama dengan keluarganya. Kesan pertama yang membekas tentu saja acara kumpul-kumpul di kamar sambil nonton film Hongkong, disertai teriakan para Mama yang memanggil anak-anak dan suaminya untuk makan: “Bab Moekja!” Di setiap episodenya yang mengalir bagaikan hari-hari kita biasanya, terselip banyak sekali kejadian dan pesan sederhana yang selalu bisa dikaitkan dalam hidup kita. Dan waktu yang diambil untuk drama ini juga emas banget: Kelas 2 SMA. Masa-masa di mana sudah cukup dewasa untuk berpikir tentang hidup, tapi juga tidak terlalu terbebani dengan ujian kelulusan, masa-masa paling indah dan seru.

Yang bikin hati adem, di drama ini juga tidak ada antagonis dengan intensi ingin menjatuhkan orang lain, persaingan sengit yang bikin penonton jadi penasaran siapa-yang-menang. Sebaliknya, semua keluarga hidup harmonis dengan bumbu-bumbu yang pas, semua anggota keluarga kebagian porsi ‘cobaan hidup’ yang kadang bikin hati pilu; yang nonton jadi termangu. Atau tak jarang juga bikin senyum-senyum tersipu. Hal-hal simpel begini bikin saya jadi tidak sabaran untuk menonton episode berikutnya, dan berikutnya… padahal satu episode drama ini tergolong lama lho, satu setengah jam. I was totally glued to this series.

Reply 1988 adalah paket lengkap tentang keluarga dan persahabatan, hingga ke detil-detil terkecil yang luput dari pengamatan kita.

  • Tentang begitu banyak white lies yang diucapkan, karena ada kepentingan lebih besar di balik itu, misalnya orang tua yang bilang nggak suka makanan itu, padahal memang disisakan untuk anaknya.
  • Tentang persahabatan yang selfless, dituangkan dalam tindakan-tindakan kecil yang bikin hati hangat, sesederhana scene Jung Hwan yang mendapati Sun Woo lagi termenung sendiri sambil minum soju. Tanpa diminta, Jung Hwan duduk nemenin minum tanpa banyak bertanya. Cukup hadir di sana dan juga melontarkan white lie begitu ditanya Sun Woo, ‘bukannya lu nyetir ya?’ dengan jawaban ‘naik bus malam,’ padahal doi memang rencananya mau nyetir. Banyak sekali ‘tindakan-tindakan kecil demi sahabat’ seperti ini, berhamburan di drama ini, yang kadang saking tulus dan naturalnya, bikin saya jadi sedikit banyak jadi curiga, ‘ini friendzone? Jangan-jangan ini homo? Ini beneran sebaik ini?” tapi memang iya, sebaik iniiiii. Faith in humanity, restored!
  • Tapi tentu saja, benar kata orang-orang bijak, tidak ada persahabatan yang murni antara cowok dan cewek, jadi memang yang namanya friendzone, the one that got away tetap saja ada. Namun, sama sekali tidak menyurutkan rasa sayang mereka sebagai sahabat untuk satu sama lain. Tulus yang jujur dan lurus. Seakan satu sama lain punya soft spot yang entah bagaimanapun, sulit digoyah dalam kondisi apapun.
  • Tentang menjadi orangtua sesuai dengan kapasitas masing-masing, dan semua tokoh orangtua di drama ini benar-benar juara! Favorit saya adalah Papa Jung Hwan yang kocak dan kekanakan, tapi selalu menjadi penghidup suasana bagi istrinya yang galak dan anak-anaknya yang seringnya flat. Ada satu bagian percakapan orangtua Jung Hwan yang membekas banget di hati, intinya kira-kira: ‘bukan orangtua yang membesarkan anak-anak, tapi anak-anak yang membesarkan orangtua,’ lalu mereka saling berpandangan sambil tertawa kecil, ‘kita (suami dan istri, red) juga saling membesarkan satu sama lain.’
  • Tentang komunikasi dalam keluarga dalam bentuk marah-marah, teriak-teriak, jambak-jambakan, keluh-kesah. Ini seringkali muncul di keluarga Deok Sun yang miskin karena tinggal di rumah setengah-basemen, tapi sebenarnya itulah cara mereka saling menyayangi. Kakak perempuan sulung mereka yang galaknya bukan main, Sung Bo Ra, ternyata adalah kakak yang tangguh, penuh tanggung jawab dan tahu cara bersikap ketika orangtuanya sibuk mempersiapkan upacara kematian nenek mereka, sementara Deok Sun dan adik laki-lakinya hanyut dalam kesedihan.
  • Cara komunikasi dalam setiap keluarga juga berbeda, misalnya pada keluarga Choi Taek yang hanya tinggal berdua dengan Papanya. Love language juga diam-diam terselip di sini, dalam kasusnya Choi Taek dan Papanya, tentu saja acts of service.

Banyak… banyak sekali hal-hal esensial yang dibahas padat dalam Reply 1988, tentang momen-momen masa muda, persaudaraan, kebersamaan, rela berkorban, saling tolong-menolong dengan cara yang ‘pinter,’ keberanian, kekonyolan, pokoknya hampir semua esensi keluarga dan sahabat yang saking berlimpahnya sulit untuk dituangkan satu persatu di tulisan ini, tapi bagi siapa saja yang menontonnya, mungkin mengerti maksud saya 😉

Satu yang pasti, ketika drama ini selesai, untuk pertama kalinya saya benar-benar termangu lama sekali… dengan hati yang penuh. Hati yang bersyukur karena dipertemukan dengan cerita yang seindah ini (walau udah telat 4 tahun, haha), hati yang berterimakasih karena menyadarkan saya, bahwa drama ini pasti dibikin dari hati, karena benar-benar berkesan. Pesan-pesannya, secara emosional benar-benar sudah diterima dengan baik.

Hingga pada akhirnya, saya tidak lagi berkutat dengan pertanyaan khas #ReplySeries: “Siapa ya suaminya?” karena siapa saja yang akhirnya menjadi suami Deok Sun sudah bukan lagi menjadi persoalan—duh, siap-siap didemo sama netizen, hahaha. Bagi saya, siapa akhirnya sahabat yang menjadi suami ini, begitu erat kaitannya dengan pilihan hidup dan waktu yang pas, serta kebulatan tekad, hingga akhirnya juga bikin saya sadar atas keresahan Deok Sun sedari awal: tentang dirinya yang tidak berharga untuk dicintai, sungguhlah tidak berdasar. Karena sejak awal, semua sahabatnya ‘toh memang sayang sama dia dengan cara masing-masing.

Retro-drama ini akan rela saya tonton ulang di kemudian hari (janji ke diri sendiri ini dibuat bahkan sebelom drama ini kelar, hehe). Fix, drama yang paling sulit untuk di-move on-in. Setelah direnungkan kembali, mungkin karena ceritanya yang begitu dekat dengan kita, namun seringkali terlewatkan. Pengingat yang baik bahwa kita semua punya masa-masa indah bersama keluarga dan sahabat.

Kita semua, punya Reply 1988 versi kita sendiri.

Rating? Tentu saja 10/10.

*images source: TvN, dramabeans, Soompi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *