Ombang-Ambing

Dalam Bimbang, Menunggu Imbang

Paling enak itu berada di antara, tidak perlu memilih untuk berada di kanan atau kiri; iya atau tidak; suka atau tidak suka. Jalanin aja gitu. Nanti juga waktu yang akan menjawab. Kau pikir semudah itu, tapi berada di antara bukanlah satu garis lurus yang imbang, di mana kau hanya perlu berdiri tegak memperhatikan segalanya dan menikmatinya, tidak semudah itu, Ferguso. Berada di antara, seringkalinya seperti kapal yang terombang-ambing dan  membuat duniamu chaos.

“Mau pesan apa, Kak?” Barista di depanmu bertanya lagi hal yang sama.

“Hmm.. bedanya café latte dan chai latte itu apa ya?” Kau lalu bertanya balik, lalu penjelasan si Barista hanya berupa garis buram yang numpang lewat belaka, karena kau kembali berselancar di lautan benakmu.

Boleh tidak kalau tidak perlu memilih? Toh, tidak memilih juga merupakan suatu pilihan, kan? Dengan begitu kau bebas menari tanpa batas waktu, tanpa batas ruang dan kalau sudah lelah, kau tinggal pergi saja tanpa ada tanggung jawab untuk menjelaskan. Persetan kalau dikejar-kejar orang yang terbiasa bersamamu, lagipula kau tidak pernah menjanjikan sesuatu, jadi penjelasan apa yang harus diberikan? Kau pun sebenarnya tidak bisa menjawab karena ya, kau kan juga lagi bingung.

“Boleh dibantu untuk pesanannya, Kak?” Barista itu kembali menyela perang batinmu.

“Hmm.. yang recommended aja, deh.“ Begitu akhirnya jawabmu, karena tidak enak sama orang yang sudah antri lama di belakangmu. Korban kebingunganmu.

Berada di status quo, tidak boleh lama-lama, begitu kata orang-orang, tapi apa jadinya kalau ternyata kau adalah segelintir orang yang bukannya tidak mau memilih, tapi sesederhana kau belum tahu apa yang benar-benar kau mau. Hanya satu hal yang kau tahu jelas, kau tahu bahwa yang ini bukan sesuatu yang kau mau, tapi tidak mau juga langsung menolaknya, karena kesannya akan jadi jahat banget.

“Rekomendasi di sini kopi susu gula aren, Kak.”

Lalu kau hanya mengangguk sekenanya sambil membuka aplikasi untuk memindai barcode—ingin cepat-cepat membayar, menerima struk dan bergeser ke samping. Memangnya orang yang ada dalam status quo tidak bisa bergeser, ya? Take side. Dalam kondisi terombang-ambing, sebenarnya bisa toh mendayung ke agak kiri atau ke agak kanan, menjauhi daratan atau mendekati daratan? Putuskan saja apapun yang menurutmu baik, atau setidaknya tidak membuatmu sengsara.

That’s why I’m easy, easy like a Sunday morning.1

Lagu yang sayup-sayup terdengar di coffee shop ini. Nah, oke, kau mulai tahu dan berkesimpulan bahwa mungkin saja kau tidak ingin mengambil keputusan karena takut. Takut di cap murah. Takut kalau… pilihanmu salah. Tapi, apa definisi dan tolak ukur salah atau benar? Apa sih, yang kamu cari? Dan apakah respon “take your time” akan membuatmu merasa sedikit lega, karena ada waktu bernafas dan berpikir ulang, atau membuatmu lepas dari beban dan kemudian kembali rebahan? Ada badai yang sebentar lagi datang, kau boleh memilih untuk lari sekencang mungkin atau mendirikan tenda. Sayangnya, seringnya, sebelum badai itu datang, kau sudah berpusar dan terombang-ambing dalam kemungkinan-kemungkinan yang kau ciptakan sendiri. Tapi memang bener sih, kalau badai itu datang, entah kau memilih lari atau tinggal, kau akan tersapu ke dalamnya dan keluar sebagai orang yang berbeda, setidaknya begitu kira-kira katanya Abang Murakami2.

“Kak Reiwa, satu kopi susu gula aren!” teriak si Barista, suaranya bagai badai yang mendestruksi lamunanmu, lagi-lagi. Memang, coffee shop bukan tempat baik untuk kontemplasi. Kau menjulurkan tangan mengambil gelas dengan wangi kopi mengepul, hmm.. smells good. Kafein menerjang otakmu, merangsang endorfin dan seketika kau tidak terlalu sendu dan berat lagi. Oke, kini saatnya (mencoba) menghadap badai. Sebelumnya, mungkin menyeruput seteguk kopi akan membantu sistem otakmu bekerja dengan baik. There you go, sosok berkemeja biru polkadot yang sudah duduk menunggu di ujung ruangan. Kau menarik nafas, sedikit membusungkan dada biar terlihat lebih percaya diri dan melemparkan senyum, kecil, kepadanya. Cukup agar dia tahu bahwa kau tahu.

“Hai, Reiwa.” sapanya, suara berat yang agak tipis, persis seperti favoritmu.

“Hello.” Kau membalas sambil menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.

“Jadi…” Ia mengulum senyum sambil menatap matamu, “Apa yang membuatmu ingin bergabung dengan perusahaan kami?”

Jelas, kau tahu yang paling melelahkan adalah berkenalan. Mengenalkan diri dan menceritakan jenis-jenis topeng yang kau pahat dan koleksi selama masa hidupmu, lalu setelah berjam-jam tanya jawab, diakhiri dengan salaman dan berlalu tanpa kabar. Kau tidak tahu, sebenarnya mereka ini akan memproses aplikasimu atau langsung membuang CV-mu, hhhh… sungguh apa salahnya berkabar, sih? Namun, kalau kau cukup beruntung, kau lalu bertemu dengan mereka yang juga berpikir bahwa kau adalah kandidat yang tepat. Dan dimulailah tanya-jawab di level berikutnya, kau mulai punya keberanian untuk melepaskan topengmu, dengan resiko ketika obrolan itu sudah selesai, belum tentu kalian akan bertemu lagi. Karena, tidak sopan untuk menanyakan “apakah kita akan bertemu lagi?” dan “apakah perusahaan anda akan mempekerjakan saya?” Tidak segampang itu, Ferguso. Terlalu banyak kemungkinan: inflasi, jenis jabatan, budget perusahaan, karaktermu, kandidat lain, jenis musik yang kau suka, integrasimu, kesannya terhadapmu… waktu yang tepat. Begitulah mungkin lawan bicaramu pun terombang-ambing dalam pertimbangannya. Make sense, karena dalam timbangan, butuh banyak sekali faktor agar pikiran jadi imbang.

Easy to come easy to go

I jump from the train I rode off alone

I never grew up it’s getting so old

Help me hold onto you3

Bagus, sekarang lagunya sudah ganti. Suaranya Taylor Swift, tapi nggak tau lagu apaan, andai saja sekarang kau bisa langsung buka hengpong dan bertanya ke Shazam.

“Karena saya tumbuh dewasa memakai produk dari perusahaan ini, jadi saya rasa saya tahu betul kelebihan yang harus dipertahankan dan kekurangan yang bisa diperbaiki.” Thank you, Taylor Swift, lirikmu menginspirasi.

Who could ever leave me darling, but who could stay?

Dark side, I’m searching for your dark side3

Mungkin saja, menjadi terombang-ambing adalah sinyal bahwa kita no play-play; tidak main-main, apalagi dalam hal mengambil keputusan. Tapi harusnya, mengambil keputusan jangan pernah bikin kita putus harapan. Satu-satu. Kau melangkah satu-satu. Lalu kau pilih satu yang kau rasa cocok dengan hatimu. Sama-sama. Kau kumpulkan keberanianmu yang berserakan di mana-mana, biar mereka bisa sama-sama lagi. Kau akan tahu bahwa kau tidak sendiri, banyak sekali orang yang mencari kerja di luar sana dan ada banyak sekali lapangan kerja yang menunggu orang yang tepat untuk mengisinya. Satu-satu, sama-sama4.

Jakarta, 18 Feb 2020.


Catatan Kaki:

1 Easy Like A Sunday Morning – Lionel Richie

2 Haruki Murakami, seorang penulis Jepang. Kutipan yang dimaksud adalah “And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in.”

3  The Archer – Taylor Swift

4 Kata-kata penyemangat yang seringkali dipakai oleh Kak Kenny Santana @kartuposinsta di Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *