Sumba, I’m in Love (A Travel Review)

Tanah Sumba adalah tentang matahari yang jatuh di awan-awan tersipu malu,

ranting-ranting kerontang menolak menjadi rapuh,

hamparan rumput-rumput bergulung di undakan yang bertemu,

dan jernih laut dengan riak dan pantul yang bersemu.

Sudah sebulan yang lalu perjalanan ke Sumba, tapi setiap kali #throwback lagi, inilah liburan gue yang terasa paling pas. Sulit dideskripsikan kenapa, tapi kombinasi laut-danau-air terjun-padang savana-lembah selama 5 hari 4 malam ini memang bikin ogah move on. Memang, Sumba bukanlah destinasi wisata yang cocok untuk semua orang, terutama untuk mereka yang tidak tahan duduk lama di mobil dengan jalan yang berkelok-kelok, panas-panasan sampe bikin kulit gosong, dan yang ngga bisa hidup tanpa sinyal. Tapi, semua ‘kesengsaraan’ itu terbayar tuntas dengan pemandangan tanah Sumba yang…bahkan sebagus apapun terefleksi di foto, akan selalu lebih bagus dilihat dengan mata kepala sendiri!

Karena destinasi wisata di Sumba masih tergolong baru dan sepi, maka tidak heran banyak open trip memiliki jadwal yang kurang lebih sama. Sumba dibagi menjadi dua kawasan: Sumba Timur dan Sumba Barat dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Kami bermalam di Sumba Barat (Tambolaka) selama dua malam; di Sumba Timur (Waingapu) selama dua malam juga. Kalau dipikir-pikir, dua kawasan ini—walaupun masih sama-sama Sumba, menawarkan sensasi yang berbeda. Ibarat superhero ya semacam Captain America sama Thor lah, sama-sama tjakep dan bikin melting (siapa yang bilang Thor jelek gendut, tabok neh! Haha). Kuy, kita mulai dengan pembahasan tempat-tempat wisata menarique di sini 🙂

SUMBA BARAT

DANAU WEEKURI

Jatuh cinta dengan Danau Weekuri, despite of bulu babi yang mengintai, tapi danau ini bener-bener menyimpan warna yang cantik banget, anak-anak lokal juga suka berenang di sini. Bagi yang masih takut-takut berenang atau bahkan ngga bisa berenang? Ngga usah kuatir, karena tersedia ban pelampung di sini. Waktu paling asik? Sore-sore biar bisa nyebur habis panas-panasan, terus habis itu minum air kelapa. Maknyus!

TANJUNG MAREHA

Tanjung Mareha, walaupun waktunya ngga kekejar untuk singgah di Pantai Mbawana (pantai instagrammable dengan batu bolong di tengah itu) yang harus ditempuh dengan rute lain, menikmati pemandangan dari atas otomatis bikin hati jadi melankolis (padahal puanasnyaaaa bisa sambil nyambi rebus telorrr).

BUKIT LENDONGARA

Bukit Lendongara, mungkin karena inilah bukit pertama yang gue datangi untuk menikmati sunset, dan rasanya damai sekali. It was my first reason to fell in love with Sumba, damn that was effortless though.

SUMBA TIMUR

PANTAI WALAKIRI

Pantai Walakiri!! Awalnya memang pengen ke sini banget for the sake of the gram. Nyampe sini pas banget di akhir pekan dan wow, orang-orang pada antri dong buat foto di pohon bakau legendaris itu! Dan jujur, inilah tempat wisata di Sumba yang menurut gue paling komersil (karena di tempat lain sama sekali ngga serame ini), dan juga adalah sunset pantai terbaik dalam hidup gue. Sumpah, gue ngga ngerti lagi, ini memang langitnya yang memerah atau wajah dan mata gue yang memerah saking tersentuh dan terharunya :’)

Bukit Wairinding. Another mainstream spot, tapi hal yang menarik perhatian gue di tempat ini bukan hanya hamparan buktinya, tapi bocah-bocah yang main di sekitar. Luchu banget mereka, suka bergerombol dan nyanyi-nyanyi.

View yang lumayan sering terlihat dari jendela mobil, tinggal minta guide untuk stop sebentar, lalu terjadilah foto ini. Dramatis, tapi terik mampus.

Tentu saja, masih banyak tempat lain yang gue kunjungi selain yang disebutkan di atas, seperti Kampung Adat Prai Ijing, Air Terjun Lapopu, Savana Puru Kambera, Bendungan Wekelo (sebenarnya dari bendungan ini, bisa masuk lagi ke Air Terjun Wekelo yang dikelilingi oleh sawah, tapi berhubung habis hujan airnya butek, maka kami mengurungkan niat untuk lanjut ke air terjun) dan lain-lain, tapi yang paling berkesan itu bagi gue, ya yang gue ceritain di atas sih.

TENTANG LELAP DALAM SENYAP
Ini juga hal yang gue risaukan waktu berencana pergi ke Sumba. Hotelnya oke ngga ya? Jorok ngga sih? Dan ternyata, dua hotel yang gue inapi ini jauh lebih bagus dari ekspektasi gue! (Bahkan kalau di googling foto-fotonya biasa aja, tapi percayalah dua hotel ini nyaman bangets).

Hotel Ella di Sumba Barat ini tergolong hotel baru yang… secara luas biasa saja, tapi suasananya homey banget. Bikin betah. Menu sarapan dan makan malam juga enak banget, seperti berasa lagi di rumah. Recommended!

Hotel Padadita Beach di Sumba Timur juga juara, gimana ngga? Ada balkon, yang kalau hoki bisa dapet pemandangan pantai langsung di depan. Waktu itu, gue dapat yang agak menyerong, menghadap ke rumah warga, gereja dan sekelumit pantai (yang juga sedang surut airnya). Damai sekali pas malam sayup terdengar paduan suara dari gereja, pagi-pagi waktu menyibakkan jendela kamar sudah ketemu sunrise dengan susunan awan yang cantik parah. Sarapan? Well, menunya standar, tapiiiii… pemandangan dan suasana outdoor restorannya kece parah. Sayup suara debur ombak, langit putih keemasan, sepoi-sepoi angin, sambil menyetel lagu dan leha-leha mengobrol… i think that’s the perfect definition of contentment.

Pemandangan di balkon kamar hotel Padadita

BAHAGIA YANG SEDERHANA

Dibahas dari sisi pribadi, banyak sekali hal-hal kecil tak terhitung yang bikin gue selalu merasa beruntung, karena gue memilih untuk pergi ke Sumba walaupun harga tiketnya bersaing dengan Osaka. Harga tiket pesawat JKT-BALI-SUMBA pulang-pergi sekitar 4,2 juta, btw. Tapi, i can say it was goddamn worth it!

Pertama, hati yang senang pasti ngga jauh dari perut yang kenyang. Makanannya enak-enak: tumis bunga pepaya, ikan kuah asam, ikan bakar, cumi tinta hitam. Belum lagi pengalaman makan nasi kotak dan minum air kelapa sambil bengong ngeliatin laut lepas, dan yes, a lot of coconut water!

Kedua, senyum anak-anak Sumba yang tulus dan jujur. Jadi, sebelum kami berangkat, kami sudah menyiapkan snack-snack untuk dibagikan kepada anak-anak di tempat wisata. Tapi tidak disangka, ternyata banyak sekali bocah-bocah yang kami temui di sepanjang jalan. Tak jarang tampak mereka sedang membantu orang tua nya membawa barang. Mengamati mereka dari jauh, berjalan di bawah terik matahari yang memanggang, lalu mobil kami yang mendadak berhenti dengan snack yang tersodor di depan mereka? Ya ampun… senyum mereka yang mendadak merekah dan mata yang berbinar-binar itu lho, selalu berhasil bikin kami-kami ini tersentuh hatinya. Makasih ya dek-adek, kalian sudah memberi kami kesempatan untuk mencicipi kebahagiaan seperti ini. Tentu saja, ada juga bocah-bocah yang lari terbirit-birit begitu disuguhi snack (mungkin kami-kami ini tampangnya kayak bandit kali ye) atau yang minta-minta lagi walaupun sudah diberi. Dan bukan hanya bocah-bocah ini aja yang lucunya bikin pengen dimandiin, tapi binatang nya jugaaa… anak kuda, anak babi, anak anjing, lucuuu semuaa!

Ketiga, makna perjalanan itu sendiri. Yang tiap kali dipikirkan kembali, selalu memancing senyum-senyum simpul yang mengingatkan diri, bahwa seringnya bahagia bersembunyi di hal-hal sederhana.

Dan Sumba kini menjelma

menjadi riak-riak air pantai yang berirama

derai angin melewati padang bukit dan pohon,

menjadi pengingat bahwa

sepanas apapun hati yang berkobar bagai bara matahari

akan selalu ada senyum-senyum tulus di balik keringat mengucur

pengingat agar di tiap kondisi, selalu ingat untuk bersyukur

Sumba, 1-5 Mei 2019.

Open trip rasa private trip bersama @mysumba

*PS: Untuk siapa saja yang membaca ini dan timbul keinginan untuk pergi berpetualang ke Sumba, i hope it can be realised super soon!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *