Nostalgila bareng Crazy Rich Asians (A Movie Review)

Detik-detik pertama film ini dimulai, Crazy Rich Asians sudah berhasil mencuri hati saya. Bukan karena saya adalah salah satu dari crazy rich asians yang kebetulan bermata sipit, pelit dan logat pelo’ yang legit, tapiiii karena soundtrack-nya! Lagu yang berhasil menarik saya masuk dalam pusaran waktu, ke masa kecil di mana old jazzy chinese songs sering ‘berkeliaran’ di rumah.

Kala itu, saya sering misuh-misuh, karena lagunya nggak seksi di kuping. Nggak jelas. Dan nggak terlalu mirip sama lagu sincia (imlek, dengan ornamen genderang dan penyanyi yang menggebu bersemangat). Namun, para senior di rumah tetep insist suka suka dan sukaaaa banget muter lagu-lagu itu (dari VCD Player, of course, Teresa Teng oh Teresa Teng!), sehingga begitu film ini dimulai, alam bawah sadar saya langsung bereaksi: OH LAGU INI!

(dan tentu saja reaksi seperti ini berlanjut hingga scene-scene lain yang heboh tak terperikan)

Beberapa minggu sebelum Crazy Rich Asians tayang, ada pesan dari WhatsApp group yang isinya rekan kantor lama, bunyinya kurang lebih: “Gue lagi baca novel ini dan langsung inget lo, Chen!” (‘Chen’ adalah panggilan sayang dari fellow kantor lama) dan setelah menonton ini, saya kurang lebih mengerti. Here we go for the why:

#1. Filosofi keluarga yang sudah jadi makanan sehari-hari dari kecil: main mahyong, pakai baju warna merah (karena baju putih atau warna gelap hanya untuk pemakaman), peruntungan bisa dilihat dari bentuk muka, bikin makanan khas bareng-bareng (bukan pangsit sih, tapi tangyuan—onde dan bakcang), lingkungan dengan beragam bahasa campur sari, tidak hanya mandarin tok, tapi juga bahasa daerah seperti teochew, hokkien, kanton dan yessss, singlish!

#2. Dalam menghelat acara, makanannya lebih baik berlebih, nggak boleh kurang, biar nggak dibilang pelit.

#3. Rantai-rantai persaudaraan dari keluarga besar yang penuh drama. Sama sekali tidak sederhana. Ribet bet bet. (Ini pastinya berlaku untuk semua keluarga sih, ya). Dan oh, tentu saja komentar para aunty yang nyinyir sudah menjadi suatu ciri khas.

#4. Walaupun demikian, tetap yang dipentingkan di atas segalanya adalah keluarga (dalam konteks CRA, lebih penting keluarga daripada mengejar passion sendiri—seperti yang dikatakan oleh Eleanor kepada Rachel, suatu bentuk ekspresi diferensiasi antara budaya timur dan barat. Sarkasme yang rapih).

#5. Bicara sarkasme, wah film ini lihai banget deh menyisipkan sindiran-sindiran yang… sering banget kita pakai di hidup sehari-hari familiar banget di kuping kita, mah.

#5. Untuk mempertebal kesan asiannya, semua orang di film ini memakai nama marga sebagai nama belakang: Rachel Chu, Astrid Leong, Colin Khoo, Bernard Lie, Peik Lin, Nick Young, Erina Tan.

#6. Istilah ‘kaki lang’ alias ‘orang kita sendiri’ (There is a Hokkien phrase ‘kaki lang’. It means: our own kind of people, and you’re not our own kind—Eleanor Young) yang kadang bikin gregetan. Karena seringkali ada tuntutan tidak langsung yang menekankan “kan dia itu kaki lang, jadi cincai lah.” Ingat poin #4, harta yang paling berharga? adalah keluargaaaa… Dan kalo lo udah dianggap keluarga, maka lo termasuk orang beruntung.


Selama menonton film ini, tak terhitung berapa kali saya mengangguk-angguk spontan, karena… rasanya begitu relatable! Beberapa percakapan yang jelas menggoda kebudayaan barat, menunjukkan bahwa Macan Asia memang sudah menggeliat. Seakan dengan sangat solid ingin menyampaikan bahwa “kita memang orang asia, terus kenapa?!” Dan itu kentara banget dari scene pertama, which is yang sudah nonton ini pasti langsung ngeh, ketika Eleanor Young yang dipandang rendah oleh resepsionis hotel, nggak usah pake marah-marah lebay, “BANGKE LO, GUE PUNYA DUIT NJIR, GUE KASIH REVIEW JELEK JUGA LO DI TRIPADVIS*R!”

Hanya dengan satu telepon singkat, satu hotel itu dibeli ama dia! Horang kayah mah bebasssssh.

nyoh! nyoh!

“Let China sleep, for when she wakes she will shake the World.” -Napoleon

Crazy Rich Asian jelas adalah eye candy dengan detail yang menakjubkan. Gegap gempita yang warna-warni, tak jarang bikin terperangah, semacam The Great Gatsby, versi asia!

Walau dalam kenyataannya, kita nggak kaya melintir kayak orang-orang nyinyir di film ini, tapi ada banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari film ini, terutama tokoh cewek-cewek yang jadi panoetan. Women Empowerment bingits!

Rachel Chu

Suka banget dengan cara Rachel Chu dalam mengambil keputusan: fierce, bitchy dan berani di saat bersamaan. Dari caranya menghadapi teman-teman Nick yang backstabber, hingga beberapa kali berhadapan dengan Eleanor tentu sajjjjjjjja. Masuk dalam keluarga Nick bagaikan bungee jumping tanpa pengaman, dan pengalaman. Namun, Rachel jelas adalah cewek bold yang tahu apa yang ia mau, ketika digertak sama Mama Nick, hingga Neneknya (padahal ‘kan lau yang bilang muke gue bawa hoki, neeek…), hingga dikorek-korek privasinya (ah elah, Facebook kita di add sama orangtua aja udah pada males accept, yagasih?). Namun, bukannya melangkah mundur dari keluarga kaya dengan derai airmata, Rachel memilih untuk menghadapinya dengan cara yang elegan. Ngajak calon mertua si nenek sihir main mahyong!

Rachel Chu: “I just love Nick so much, I don’t want him to lose his mom again. So I just wanted you to know: that one day – when he marries another lucky girl who is enough for you, and you’re playing with your grandkids while the Tan Hua’s are blooming, and the birds are chirping – that it was because of me: a poor, raised by a single mother, low class, immigrant nobody.”

(Dalam konteks pemilihan dialog, sering nemu juga yang cantik seperti kata-kata Rachel di atas, puitis ala chinese, #quotable tentu saja).

Astrid Leong

Karakter yang paling saya kagumi di film ini. Menjulang, mandiri, elegan serta berusaha untuk membumi. Dari awal sudah jelas bahwa Astrid adalah ‘penyelamat’ Rachel yang paling memungkinkan. No surprise for that. Namun, yang bikin surprise kemudian adalah hubungan rumitnya dengan suami, tapi begitu manusiawi. Keputusan-keputusan yang abu-abu, berani tapi penuh perhitungan; memanjakan diri tapi memikirkan perasaan suami sendiri; lemah lembut tapi sangar (ingat pas adegan Astrid dan Michael di dalam mobil menuju resepsi Colin-Araminta?) Bahkan pada akhirnya pun, keputusan yang ia ambil menjadi sangat beralasan, dan tidak juga membuktikan bahwa suaminya salah. Karakter Astrid adalah contoh biar kita jadi realistis, dan nggak semuanya bisa seimbang, apalagi dengan cara membahagiakan semua pihak. Insecurity sucks. 

Astrid Leong: “It was never my job to make you feel like a man. I can’t make you something you’re not.”

(Dialog ini juga… benar-benar ‘menampar.’ #quoteoftheday).


Pertanyaan yang sering banget dilontarkan setelah “Lo udah nonton Crazy Rich Asians belom?” adalah “Lo nangis nggak?” karena begitu banyak netijen yang meleleh pas adegan Michael Teo buka baju dan sixpack nya terlalu menggoda!!! Colin dan Araminta menikah.

Adegan yang manis, bikin terenyuh dan  membuktikan bahwa tidak harus selamanya menjadi tokoh utama untuk bersikap romantis. Adu-tatap antara Rachel dan Nick, juara sih, speechless. Love wins. Tatapan yang seakan sama-sama meyakinkan dan menguatkan agar nggak menyerah sama hubungan mereka.

Alur yang mengalir, bermuara di  happy ending yang manis, ditutup dengan gubahan lagu Yellow – Coldplay dalam versi mandarin.

Haru biru, apalagi setelah membaca surat yang ditulis Jon Chu (sang sutradara) saat meminta izin kepada Coldplay.

As a Yellow lover, I found the letter is deeply impressing:

Dear Chris, Guy, Jonny and Will,

I know it’s a bit strange, but my whole life I’ve had a complicated relationship with the color yellow. From being called the word in a derogatory way throughout grade school, to watching movies where they called cowardly people yellow, it’s always had a negative connotation in my life. That is, until I heard your song.

For the first time in my life, it described the color in the most beautiful, magical ways I had ever heard: the color of the stars, her skin, the love. It was an incredible image of attraction and aspiration that it made me rethink my own self image. I remember seeing the music video in college for the first time on TRL. That one shot with the sun rising was breathtaking for both my filmmaker and music-loving side. It immediately became an anthem for me and my friends and gave us a new sense of pride we never felt before…(even though it probably wasn’t ever your intention). We could reclaim the color for ourselves and it has stuck with me for the majority of my life.

So the reason I am writing this now, is because I am directing a film for Warner Bros. called CRAZY RICH ASIANS (based on the best selling novel) and it is the first ALL-ASIAN cast for a Hollywood studio film in 25 years. Crazy. We were recently featured on the cover of Entertainment Weekly to commemorate the fact. The story is a romantic comedy about a young Asian-American woman (played by Constance Wu) from New York coming to terms with her cultural identity while she’s visiting her boyfriend’s mother (played by Michelle Yeoh) in Singapore.

It’s a lavish, fun, romantic romp but underneath it all, there’s an intimate story of a girl becoming a woman. Learning that she’s good enough and deserves the world, no matter what she’s been taught or how she’s been treated, and ultimately that she can be proud of her mixed heritage. The last scene of the movie shows this realization as she heads to the airport to return home a different woman. It’s an empowering, emotional march and needs an anthem that lives up and beyond her inner triumph, which is where Yellow comes in.

It would be such an honor to use your song that gave me so much strength throughout the years, to underscore this final part of our film. And for me personally, it would complete a journey that I’ve been going through, fighting to make it in the movie business. I know as an artist it’s always difficult to decide when it’s ok to attach your art to someone else’s–and I am sure in most instances you are inclined to say no.

However, I do believe this project is special. I do believe this is an unique situation in which the first Hollywood studio film, with an All-Asian cast is not playing stereotypes or side-players, but romantic and comedic leads. It will give a whole generation of Asian-Americans, and others, the same sense of pride I got when I heard your song. I know it’s recontextualized but I think that’s what makes it powerful. I want all of them to have an anthem that makes them feel as beautiful as your words and melody made me feel when I needed it most.

Your consideration would mean so much to me and our project. I can show you the movie if you want to see the context, or talk to you if you have any questions.

Thank you for taking the time to listen.

Much love,

Jon M. Chu

 

Pada simpulnya, setelah keluar dari bioskop dan euforia warna-warni yang emosional, ada senyum tersungging di bibir, karena, film ini terlalu dekat dengan rumah.


*Gambar dari: Warner Bros, Giphy dan berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *