Jepang, kalau bisa dideskripsikan sebagai manusia.

Ada satu hal yang tidak bisa lepas dari benak begitu pertama kali mendarat di bandara Haneda:

Once you fall in love with Japan, you could never fall out love with Japan, ever.

Menjelajah Jepang mungkin adalah impian yang mainstream, tapi bagi gue, Jepang jelas adalah bucketlist in a bucket! Mulai dari menyaksikan Gunung Fuji dari jarak yang nyata (bukan dari TV, gambar atau foto kalender), mengalami musim semi dan merayakan sakura yang hanya hidup selama 14 hari (beruntungnya bisa dapat tiket murah di high season), pergi ke Wizarding World of Harry Potter, bernostalgia dengan Sailormoon, makan ramen sepuasnya dengan rasa yang otentik, foto di tori (pilar-pilar) Fushimi Inari, berdoa di kuil dengan gestur lempar koin-tepuk tangan-berdoa-bunyiin lonceng, tinggal di rumah yang kayak Doraemon. Ada banyak sekali impian masa kecil maupun ketika tubuh dewasa yang mekar di sini.

Alasan tentang Why Japan and not anywhere else, karena…. negara ini adalah kampung halaman Hideaki Takizawa! Bagi yang penasaran siapa ini Hideaki Takizawa, tinggal google aja, ya beliau ini adalah idola dari kecil, yang saking diidolakannya sampai-sampai nama belakangnya dicaplok sampai sekarang, hehehe. Well, if it sounds familiar to you, we’re on the same age, then! Di sisi lain, budaya jepang cukup mempengaruhi masa kecil dan remaja, makanya begitu sampai Jepang, gue jadi supernorak, begitu sering senyum-senyum sendiri. Duh, hepiiiii!

#1.

Kalau Jepang bisa dideskripsikan sebagai manusia, maka ia adalah seorang yang minim bicara dengan hati yang hangat. Yang memberi ruang tak terbatas untuk siapa saja dalam menjadi diri sendiri; namun ketika jalan menjadi membingungkan, ia akan menjadi tempat bertanya yang ramah setengah mati, dan senantiasa mengupayakan yang terbaik untuk solusi.

Selama 10 hari di Jepang, gue hanya pernah ketemu satu orang yang menolak ketika ditanya jalan. Kalau memang tidak berniat membantu, orang Jepang biasanya akan menolak di saat pertama. Tapi kalau mereka niat bantu, mereka akan bantu sampai tuntas. Sering kali merasa bersyukur atas attitude orang Jepang yang begitu ‘bertanggung jawab’, walau bahasa inggris mereka pas-pasan, seringkali malah pake bahasa jepang, tapi herannya kita ngerti aja sambil “hai, hai, arigatou.”

#2.

Kalau Jepang bisa dideskripsikan sebagai manusia, maka ia adalah tipe yang minimalis dan perfeksionis, dengan setelan jas rapih dan tas tenteng. Atmosfir dengan rongga berlimpah untuk bernafas dan berdecak kagum, yang bahkan dalam lautan manusia sekalipun, kau tidak akan terasa sesak atau megap-megap, karena saking teratur dan sesuai urut-urutan, tanpa terasa kau melebur dalam keteraturannya itu. Untuk berbaris saat mengantri kereta, naik eskalator, makan di restoran dan belanja. Teratur dalam alur, konsisten walau untuk hal kecil.

Pernah sekali gue ditegur petugas Uniqlo Ginza yang aslik cakep banget, gara-gara mau minta goodie bag Shonnen Jump yang super lucu. Ditegesin dengan “next time, please queue.” sambil ngasih gue goodie bag-nya. Itu kebetulan hari terakhir gue di Jepang, dalem hati sih langsung ngedumel, “well, there’s probably no next time, bro ganteng.” #songong. Tapi, pengalaman itu bikin gue jadi tambah sadar bahwa mereka simply segitu menghargai keteraturan dan privasi. Lain kali, ku pasti ngantri yah, bang.

Balik lagi tentang minimalis dan perfeksionis, gue selalu terkagum-kagum dengan tempat tinggal maupun bangunan Jepang, terutama Osaka dan Kyoto. Kalau Tokyo, mungkin sudah begitu padat, tapi begitu banyak public space yang bikin kita bernafas dan lega. Tempat tinggal, semua hostel, apartemen dan villa airBnB yang kita datangi, jarang banget ada yang mengecewakan. Seringnya malah bikin senang, apalagi kalau tempat tinggalnya sudah lengkap dengan mesin cuci dan setrika yang gratis. *anaknya mure.*

#3.

Jepang, kalau bisa dideskripsikan sebagai manusia, maka ia adalah tipe manusia yang dalam sekali jentik jari saja, sudah berhasil bikin kau meleleh. Tak sulit memang, untuk jatuh cinta dengan ‘manusia’ seperti ini. Manusia yang efektif, selalu cepat sampai pada kesimpulan. Bukan tipikal ramah yang mengulur-ulur dan mendayu, tapi tepat pada sasaran dan tahu apa yang dibutuhkan!

Bagaimana tidak, begitu merasa haus, lapar, kedinginan, ada vending machine di mana-mana, mau minuman panas atau dingin, makanan juga, you made the choice. Makan di restoran, pilih menunya sendiri dan langsung bayar di vending machine juga, praktis! Begitu juga dengan transportasi yang begitu tepat waktu, tapi kalaupun ketinggalan juga tidak apa-apa, karena biasanya jarak satu kereta dan kereta lain tidak begitu lama.

Oh ya, satu lagi, kalau Jepang bisa dideskripsikan sebagai manusia, maka ia adalah tipe manusia yang masakannya enak-enak, cuma kurang micin! *dasar orang indo* Makanan pertama yang gue cobain di Jepang, jelas adalah Yoshinoya! Sudah terbayang enaknya Yoshinoya versi pork, tapi nyatanya sahabat…. rasanya TAWAR! Begitu pula makanan lainnya yang sudah tersohor di Indonesia, misalnya Ichiran, Coco Ichibanya dan lain-lain. Satu-satunya makanan super-enak di Jepang, cuma Gyukatsu Motomura! Ngantri btw, setengah jam, itu pun di cabang Osaka. Kalau di Tokyo, lebih ramai lagi. Thanks to @anakjajan dan @kartuposinsta yang sering banget nge-post makanan ini, akhirnya ngga penasaran lagi 😀

Pada dasarnya, Gyukatsu ini adalah daging mentah yang dibalut katsu, cara makannya mesti kita bakar sendiri dengan bumbu yang sudah disediakan. Wagelaseh tapi rasanya, sedap betul! Nggak sia-sia keluar dari sana dengan coat, baju dan rambut yang bau asap, tapi hati tambah mantap! #ea.

Terlepas dari micin, makanan Jepang sangatlah berkualitas, nasi putih aja nikmat tiada tara, pulen dan seger gitu. Onigiri atau segala yang dibeli di convenient store nggak pernah terasa abal-abal. Begitu pula telur setengah enggak matang yang ditabur di atas nasi, seger dan nggak amis! Sushi-nya juga! *ya iyalah* Tips untuk teman-teman yang ingin ke Jepang, plis jangan buang-buang waktu untuk cari Hakata Ikkousha atau Sushi Tei (kaga ada cuy!) atau resto-resto Jepang yang sudah ada di Indo.

Random aja gitu masuk ke resto manapun—i mean it, resto mana saja yang kalian lihat cukup meyakinkan dan makanlah di sana, niscaya enak-enak semua! Well at least, itulah yang gue rasakan, setelah dua-tiga kali di PHP Yoshinoya dan kawan-kawannya itu. Resto random yang sampai sekarang rasanya masih nempel di lidah adalah resto ramen di Odawara dan Akihabara. Sumpah saking random-nya gue sampai lupa fotoin nama restonya. Ah, memang nggak berbakat jadi food blogger. Hehehe.


‘Manusia’ ini, dengan padu padan seperti yang dijabarkan di atas, tak heran kalau kurang dari 24 jam, gue sudah benar-benar terpikat, jatuh sudah dalam ketakjuban yang tak berdasar, dan… sama sekali tidak ingin tersadar. Jelajah, di mana tempat baru selalu memberi sejarah yang baru. Setiap langkah, selalu ada penemuan dan pengalaman baru. Pemandangan, entah di hiruk pikuk kota, kedamaian di tepi kota menuju senja, atau yang benar-benar menyejukkan seperti di Kawaguchiko… semuanya bikin meleleh sih beneran. Tergila-gila dengan senja dan jalanan sepi di Jepang, yang setiap kalinya begitu menawan. Yang difoto berkali-kali pun, rasanya beda banget sama kenyataan. Fotonya indah, aslinya lebih-lebih indah lagi!

Tak terhitung keadaan di Jepang yang bikin hati jadi bahagia tanpa alasan, yang tiap kali, kalau diingat-ingat lagi bikin hati hangat. Trotoar, jalanan biasa, yang di mana kalau angin berhembus sedikit lebih kencang, maka kelopak-kelopak sakura akan bertebaran di udara, cantik… cantik sekali. Apalagi sambil makan es krim matcha—yang sehari nggak bosen-bosen makan sampe tiga kali! Hehehe.

Mengamati lautan manusia di Jepang juga menjadi rutinitas yang menyenangkan. Entah di waktu kecapean di dalam kereta, lalu-lalang manusia di Shibuya, Akihabara, Dotonburi, atau tempat-tempat wisata yang sesak, dengan jajanan dan suvenir di sekelilingnya. Tiap lapis usia manusia ternyata begitu menarik, kagum banget sama Oma-oma pakai topi bulat yang masih semangat jalan, remaja SMP SMA dengan seragam keren seperti di komik-komik, bocah TK SD yang ributnya minta ampun.

Last but not least, yang jadi elemen yang paling penting: toilet. Toilet yang begitu pengertian, bidet depan dan belakang (bisa atur arah dan tekanan, dan suhu air), tempat duduk yang hangat sendiri, ada angin pengeringnya, yaowoh kucinta padamu, wahai toilet Jepun. Sumpah, untuk pertama kalinya dalam traveling, urusan ke belakang lancar jaya setiap hari!

Terima kasih Jepang dan semua mimpi yang kemudian menjadi nyata. Akan ada kali kedua untuk Jepang, dan kali-kali berikutnya.

And when you can’t ‘unlove’ Japan, therefore you can write countless poems about the cities. The country, a living breathing poet.

 

#NyarisPuitis #WhenInJapan

April 7-16, 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *