Bicara

Pernahkah kau merasa betul-betul rapuh?

Seakan hembusan angin sesemilir apapun akan meluluhlantakkan segala niatmu dan kau lalu ingin menjadi angin itu sendiri, berhembus entah ke mana, yang penting berhembus. Ke arah mana saja, kalau bisa menjadi arah itu sendiri karena kau tidak ingin lagi dipusingkan ketika ditanya mengenai arah apa yang ingin kau ambil.

Pernahkah kau merasa betul-betul rapuh, karena sadar tekanan bisa datang dari mana saja dan siap meremukkan sekujurmu, dan sebelum mereka betul-betul datang, kau memilih untuk meremukkan dirimu sendiri, agar sakitnya bisa diprediksi dan kau setidaknya tahu cara mengantisipasi infeksi tersebut.

Bila rapuh yang kau rasa dalam dirimu, demikian jugalah orang-orang yang akan kau temui. Kemudian, kau mengeluh karena kau menginginkan sesuatu yang lebih tegar dan gahar, sehingga bisa kau jadikan panutan dalam melangkah. Tidak, tidak pernah akan ada hal ataupun orang seperti itu, karena apapun yang kau lihat di luar sana, adalah cerminan dalam dirimu sendiri. You only deserve what you think you deserve for.

Bila rapuh bisa diibaratkan seperti makanan, maka ia adalah kerupuk. Yang bisa cocok dengan makanan apa saja—ah dasar orang Indonesia!—Kerupuk yang bisa (di)remuk(kan) kapan saja, tapi begitu nikmat hingga kau tak ingin makan tanpanya; hingga kau tak ingin hidup tanpanya. Ternyata, bersahabat dengan rasa rapuh ini begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan diri sendiri…

“Sedang berdoa atau sedang melamun?” suara berat itu menjadi angin yang menggoyahkan dialog dalam batinku. Aku menoleh ke sumber suara itu, wajah itu seperti godam yang menghancurkanku, sukses menjadi remah-remah.

“Namanya juga siang bolong.” kilahku.

“Nona, kapan terakhir kali kau berbicara dengan dirimu sendiri?” Ia berjongkok di sampingku, menatapku dengan sorot mata yang sulit ditebak, tatapan yang membuat hati teduh sekaligus tersudutkan.

“Baru saja, kalau kau mendengarnya.” jawabku retorik.

Apakah suara remuk itu ternyata sama sekali tidak redam di angkasa dan udara? Sehingga orang-orang bisa mendengarnya jelas?

Tidak. Tidak. Ia menggeleng dan mengubah posisi duduknya, bersimpuh di sisiku, “Bukan bertikai dengan dirimu sendiri. Tapi berbicara, lalu membiarkan suara-suara itu menjadi udara, menjadi angkasa, bebas memilih apapun yang mereka inginkan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Tadi, ketika berdoa, aku pun tak mengerti kenapa tiba-tiba aku menangis.” ujarnya pelan, tatapannya menerawang.

Sulit rasanya membayangkan dirinya… ‘berdoa.’ Seorang laki-laki brewokan, wajah yang tegas dan hanya terlihat sedikit lebih bersahabat kala berada di tempat yang mewajibkan ketenangan seperti di sini. Seorang laki-laki yang selama ini selalu berdialog tentang proyek pembangunan yang sedang berlangsung, lokasi di mana tukang dan mandor harus ditambah atau dikurangi, merk semen dan pasir seperti apa yang harus dibeli.

“Kenapa kau menangis?” Aku tak bisa mengurung rasa penasaranku.

Ada jeda yang melangkah di antara kita sebelum ia akhirnya buka mulut, “Karena seakan aku menemukan rumah dalam diriku.”

Kubiarkan jeda dan senyap menyelinap lagi di antara kita, aku tahu ia masih punya banyak yang ingin ia sampaikan, yang tak bisa diinterupsi oleh pertanyaan “terus, terus?” seperti kau mendengar gosip atau curhat.

“Sebanyak apa orang yang ingin mendirikan gedung yang lebih tinggi, mencari rumah di tanah yang semakin mahal, dan menjadi gila karena semua itu. Seakan rumah yang strategis, akan menjadi tempat bernaung yang paling manis, hingga mereka kehilangan ‘rumah’ yang ada dalam diri mereka sendiri. Kita pun begitu, ya kan?”

Apakah rapuh yang kurasakan, karena aku tidak menemukan rumah yang ia maksud? Apakah rapuh yang kurasakan, karena sudah sekian lama mengabaikan apa yang sebenarnya ada dalam diri?

“Kapan-kapan, cobalah ganti kebiasaan melamunmu itu dengan merasakan apa yang terjadi dalam dirimu. Mudah-mudahan, menjadi rapuh pun tak akan lagi merapuhkanmu.” ada seutas senyum yang diam-diam terselip di ujung bibirnya ketika ia berucap. Ah, lagi-lagi dia bisa membaca isi kepalaku yang selama ini kupikir, saking ricuhnya tak lagi membuat orang lain acuh.

“Apakah karena, menjadi rapuh di ‘rumah’ sendiri adalah suatu kekuatan?” aku tercekat.

Ia mengedikkan bahunya, “Atau, tanpa ‘rumah’ itu pun, kamu paham kalau kamulah kekuatan itu?”

Seperdetik itu juga, aku merasakan jawaban halus yang berdesir di hatiku, sebentar saja, namun rasanya seperti selamanya. Aku membalasnya dengan seutas senyum yang sama. Tanpa berkata-kata, aku tahu bahwa ia tahu jawabanku. Percakapan seperti ini, singkat, tapi selalu memikat.

Aku bersyukur.


Kamu, kapan terakhir kalinya kamu berdoa?

Maksudku, pulang ke ‘rumah’ mu? 

Atau, merasakan bahwa di ‘rumah’ pun tiada ‘rumah’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *