Borobudur: The Ancestors Who Lives Within Us

Berjanji pada Kesan Pertama

Sejak belajar mengenai Borobudur sebagai salah satu situs keajaiban dunia di bangku sekolah, cita-cita saya bulat saat itu juga: suatu hari, saya akan menginjakkan kaki di Borobudur! Sebagai anak yang lahir di kota terpencil di Sumatra, Magelang rasanya tak terjangkau. Aneh sekali mendapati bahwa ajaran Buddha mekar dan sempat ngetren banget di pulau Jawa—dan bukannya di India. Cita-cita ke Borobudur ini tercapai di tahun kedua kuliah saya. Kesan pertama? Wah. Begitu terperangah dan terpesonanya dengan kemegahan Borobudur, foto-foto hitam putih yang ada di buku cetak… lewat! Langsung hambar jadinya. Kebesaran Borobudur betul-betul menawan hati saya, ditambah kesempatan melihat begitu banyak turissaya dengan katro minta foto bareng terus, pengalaman-pengalaman saat itu diam-diam mengukirkan janji di hati, saya harus kembali.

Borobudur mungkin bukan destinasi yang asing bagi kebanyakan dari kita, malah mungkin sudah ke Borobudur berkali-kali. Entah ketika kunjungan sekolah, liburan keluarga, ikut kegiatan Waisak bersama dan pelepasan lampion … Tapi, mungkin pernah juga terbersit atau bertanya-tanya tentang, apa tujuan dibangunnya Borobudur? Kalau memang ukiran-ukiran itu menjelaskan tentang hidup Buddha, dari mana referensi dan adakah sumber yang komprehensif? Begitu banyak ukiran Buddha dan dewa-dewa lain, rupang Buddha (walau sudah tak lengkap, tapi bagi saya tetap memiliki keindahannya sendiri), apa ini merupakan pertanda bahwa Borobudur adalah tempat para Buddha? Magis dan penuh daya pikat, apa yang sebenarnya ingin disampaikan Borobudur?

 

BWCF 2017: Menilik Borobudur Jauh Lebih Dalam

23-25 November 2017 lalu, Borobudur Writers and Cultural Festival digelar untuk ke-6 kalinya. Untuk pertama kalinya, topik yang diangkat betul-betul memiliki korelasi erat dengan nama acaranya, Borobudur, dengan tema utama Gandavyuha. Seminar yang utamanya digelar di Hotel Manohara, Magelang ini memberi angin segar dan cara baru untuk memahami Borobudur. Sebut saja Borobudur yang selama ini dianggap merepresentasikan Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu. Kadang, begitu mudahnya kita percaya pada suatu teori hanya karena itu sudah ada di Wikipedia. Atau, karena istilahnya begitu canggih, “namanya alam-alam dalam ajaran Buddha mah urusan pakar agama saja, yang penting saya eksis aje pernah ke Borobudur!”

Andaikan kita bersedia memantik rasa ingin tahu kita dan bertanya lebih dalam, ditelisik dari sutra-sutra mengenai Karmavibhanga yang menjadi acuan dalam memahat lantai dasar Borobudur, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu sudah selesai dibahas di sana. Analisis ini membuktikan adanya alternatif lain bahwa Borobudur ini lebih dari sekedar membahas tiga alam ini! Namun, dikarenakan kondisi bangunan yang ditaksir akan melorot, maka lantai dasar ini ditutup. Di lantai ini, relief membahas tentang perbuatan bajik dan tidak bajik berikut konsekuensi-konsekuensinya, yang bertujuan mengedepankan kehidupan yang peduli, nilai-nilai kemanusiaan yang tidak serakah, tidak mengambil keuntungan dari yang lemah, hidup tanpa mencederai yang lain. Segelintir pahatan sutra ini masih bisa dilihat di bagian tenggara Borobudur, relief tentang virupa, terlahir buruk rupa yang disebabkan karena suka menggosip, sering murka, suka menyimpan kebencian, dan sebagainya. Dan kalau mau diperhatikan lebih jelas lagi, tokoh-tokoh yang diukir di relief itu ‘sangat indonesia’ karena… mereka pakai blankon!

Ini yang saya maksud! Takjub, ya?

Membaca Borobudur adalah suatu seni, butuh keterampilan dan pengertian sesuai kapasitas tiap orang. Seperti yang kita ketahui, Buddha mencapai penggugahan dan setelah itu menerima permintaan untuk memberi ajaran. Bagaimana cara agar tergugah dan mencapai potensi tertinggi? Fenomena ini tergambar pada 15 relief pertama di lantai 2, dinding dalam, yakni adegan pembuka (nidanaparivarta) dari Gandavyuha. Saat itu, Buddha sedang berada di Jetavana dihadiri oleh para Bodhisattva, Shravaka, Lokapala dan makhluk-makhluk yang tak terhingga jumlahnya. Saat itu, dalam benak semuanya, timbul pertanyaan tentang cara hidup yang memungkinkan dicapainya potensi tertinggi keberadaan ini. Di dalam hati masing-masing, mereka memohon agar Buddha berkenan menerangkan pada semua sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. Di sinilah tampak kegeniusan desain konsep Borobudur, dengan memilih dan menggunakan sutra-sutra yang relevan untuk membabarkan jawaban Buddha, yaitu memberi peta pengembangan potensi tertinggi untuk semua.

Adegan Pembuka: Buddha di Jetavana, dikelilingi oleh murid-muridnya

 

Cara Membaca Borobudur (dan Cerita Tersembunyi di Dalamnya)

Peta ini, bisa ‘dibaca’ dari lantai paling bawah, Karmavibhanga yang menjelaskan dampak dari tindakan bajik maupun tidak bajik, yang merupakan tahap mendasar (Adhamapurusa), yaitu masih mencari kesenangan-kesenangan indrawi untuk kepentingan sendiri dan tahap menengah (Madhyamapurusa), yaitu sudah tidak lagi memikirkan kesenangan-kesenangan kelahiran ini, menghindari tindakan negatif dan mencari pembebasan untuk diri sendiri.

Naik ke lantai 1, ukiran yang dibahas mendeskripsikan tahap tertinggi (Uttamapurusa), adalah mereka yang berkeinginan untuk menghilangkan semua derita dan duhkha yang dialami oleh makhluk lain tanpa memikirkan kesulitan diri sendiri. Untuk tujuan itulah mereka bertekad untuk mencapai penggugahan tertinggi yang lengkap dan sempurna. Kehidupan seperti ini disebut cara hidup Bodhisattva (bodhisattvacarya). Ini digambarkan dalam ajaran Jataka, Avadana, dan akhirnya di lantai 2, 3, dan 4 dalam Gandavyuha.

Mengutip beberapa ukiran kisah Jataka dan Avadana pun, sebetulnya sudah sangat berkaitan erat dengan hidup kita. Dan mungkin itulah salah satu tujuan dibangunnya Borobudur: mengubah hidup orang. Kisah-kisah mengenai kebaikan. Di tengah hidup yang penuh kegundahan dan pertikaian, kita bisa belajar untuk tetap berada di jalan kebajikan:

  • Kita bisa lihat bagaimana kisah Mahakapi menjadi panutan seorang pemimpin yang menyelamatkan kawanannya dari maut dan rela mengorbankan dirinya sendiri, cerminan pemimpin penuh integritas. Bagi yang ingin belajar memberi;
  • Ada kisah Raja Sibi yang tanpa rasa takut dan sayang memberikan daging dari tubuhnya sendiri untuk menyelamatkan nyawa seekor burung.
  • Bagi yang ingin belajar kesetiakawanan dan persahabatan, bisa terinspirasi dari Hamsa Jataka tentang angsa yang tidak meninggalkan sahabatnya yang dijerat pemburu dan ditinggalkan kawanannya.
  • Beralih ke Avadana, bagi yang ingin belajar mengenai cinta kasih dan kesetiaan, ada kisah Manohara dan Pangeran Sudhana yang walaupun dirintangi berbagai tantangan, tapi berjuang untuk saling menemukan satu sama lain.
  • Bagi yang ingin belajar tentang keberanian yang tangguh dan mengambil penderitaan semua orang, ada kisah Maitrakanyaka yang bertekad menanggung penderitaan semua orang yang durhaka kepada ibunya dan rela menerima konsekuensi roda bergerigi yang menggerus kepalanya!

Hingga setelah kebajikan tak terhingga telah dikumpulkan dan dikembangkan, bagaimana kiprah terakhir semua Bodhisattva sebelum menjadi Buddha Pemutar Roda Dharma? Semuanya terukir pada Lalitavistara, yang berhenti pada adegan Buddha memutar Roda Dharma dengan mudra vitarka lalu berlanjut pada adegan pembuka Gandavyuha, Nidanaparivarta. Setelah adegan pembuka, Gandavyuha menceritakan tentang Sudhana yang belajar dengan kalyanamitra (mitra handal) dari latar belakang yang berbeda-beda, cermin dari pluralisme.

Sudhana sedang mengunjungi para mitra handal

Terpilihnya Sudhana pun bukan tanpa alasan, melainkan karena Sudhana memiliki modal kebajikan (kusalamula) dan niat kuat untuk belajar. Inilah yang memungkinkan dirinya mengunjungi para kalyanamitra, di mana kalyanamitra yang satu memperkenalkan Sudhana ke kalyanamitra lainnya, konektivitas seperti ini memperluas zona nyaman, sehingga di mana saja Sudhana berada, di situ jugalah zona nyamannya. Dari perjalanan Sudhana, kita bisa belajar untuk memiliki keterbukaan hati, punya rasa terima kasih, gigih dan rendah hati. Meneladani sikap hidup Sudhana yang menjunjung kesetaraan dalam hidup bermasyarakat: tidak minder ketika berhadapan dengan yang lebih pintar; tidak sombong ketika berhadapan dengan yang ‘kurang’ dari dirinya.

Tidak ada patokan pasti seperti apa orang yang akan ditemui Sudhana berikutnya, namun Sudhana tak gentar dan beranjangkarya dari satu tempat ke tempat lain menemui kalyanamitra. Suatu bentuk keberanian dalam ketidakpastian hidup, tapi tahu arah. Karena ketika hati terbuka, akan selalu ada orang atau sesuatu yang menunjukkan jalan. Tak jarang, orang yang ditemui Sudhana ini memiliki kekayaan atau kemampuan yang sangat mumpuni. Alih-alih berpikiran iri, Sudhana benar-benar turut senang dan berbahagia atas kesuksesan dan pencapaian orang lain. Perjalanan Sudhana yang tak kenal lelah dalam memperluas wawasan, dengan hati yang mantap, pada akhirnya membuat dirinya tersadar bahwa esensi dari perjalanan itu bukanlah tentang jumlah orang atau tempat yang ia datangi, namun makna dari setiap aktivitas yang ia jalani.

 

Tentang Sudhana: Tiada ‘Antara’ dalam Kamu dan Aku

Mendekati penghujung perjalanannya, Sudhana bertemu dengan Maitreya. Pengalaman-pengalaman Sudhana sewaktu bertemu Maitreya, memasuki kutagara beliau dan menyaksikan sepak terjang Maitreya dipahat dalam porsi yang banyak.

In the middle of the great tower … Sudhana saw one tower which was bigger than all the others and arrayed with adornments surpassing all the other towers. In that tower he saw a billion world universes … And everywhere there Sudhana perceived himself at Maitreya’s feet … He also saw the walls of the palatial towers resplendent with checkerboards of all jewels, and in all of the jewel square he saw Maitreya carrying out all the practices of enlightening beings, as he had done while performing enlightening practice in the past …”

“Di tengah maha kutagara … Sudhana melihat satu kutagara yang lebih besar dari kutagara-kutagara lainnya, dan kutagara itu tertata hiasan-hiasan yang melampaui semua kutagara lainnya. Di kutagara tersebut, dia melihat ribuan koti jagat raya … Dan di semua tempat, Sudhana melihat dirinya bersujud di kaki Maitreya … Di dinding kutagara-kutagara yang sangat indah bergemerlap segala permata bercorak kotak-kotak, dan di semua permata persegi, dia melihat Maitreya sedang menjalankan praktik-praktik Bodhisattva, sebagaimana Maitreya lakukan selagi menjalankan praktik Bodhi di masa lampau…”

Ternyata Sudhana adalah diriku, juga dirimu atau siapa saja yang mencari makna hidup. Mencari tanpa menilai, mengadili baik-buruknya suatu pengalaman. Pantulan yang dilihat Sudhana dalam celah setiap stupa itu adalah dirinya, yang melakukan kebaikan tak terhitung jumlahnya. Di saat bersamaan, tepat ketika ia bersujud, ia melihat dirinya bermanifestasi dalam jumlah yang tak terhingga. Detik itu juga, ia menyadari, kebenaran yang dicarinya selama ini terasa begitu dekat, dan begitu sederhana. Tak sukar untuk dipahami. Ia sudah mengerti sekarang. Kenyataannya, kebenaran tidak pernah berada jauh darimu. Ia selalu ada dan berpijar, menjadi suluh, mengingatkan pada mereka yang mencari makna hidup; mereka yang mencari kebenaran, bahwa kebenaran akan selalu berdampingan dengan kebaikan.

Hingga akhirnya, dari esensi kebenaran itu sendiri, terbentuklah tekad. Bhadracari. Dari satu lantai naik ke lantai berikutnya, tanpa terasa kita sudah mengelilingi dan sampai di lantai paling atas. Dan ketika mengelilingi sebagian atau seluruh Borobudur, tanpa sadar dan tanpa terasa… benih kebajikan telah ditanam. Sejak saat itu juga, kebajikan ada dalam diri kita sendiri dan menjadi manfaat bagi siapa saja yang ada di sekitar kita.

 

Tentang Makna, Perspektif dari Perjalanan Ini

Selama tiga hari ini, melakukan perjalanan dan mengikuti Salim Lee (keynote speaker BWCF 2017) dalam berbagi pengetahuan mengenai Borobudur, membuat saya mengerti bahwa tepat di atas tanah yang kita pijak, bumi Pertiwi, masih banyak kabut yang ingin disingkap, mengenai warisan bangsa kita sendiri. Ini selayaknya menjadi tanggung jawab kita, untuk setidaknya mengerti dulu, menggali informasi dan menyebarluaskan, betapa berbesar hatinya kita menjadi warga Indonesia, betapa bersyukurnya kita akan warisan bangsa kita sendiri, Borobudur, yang sedari dulu sudah “mengumandangkan” bahwa kita adalah bangsa yang penuh toleransi, kita bisa hidup berdampingan walau berbeda-beda. Berbeda-beda tapi tetap satu juga.

Borobudur adalah produk dari nenek moyang kita; kita juga adalah produk dari nenek moyang kita. Masih ingat jelas dalam benak saya, di pagi itu, bersimpuh di salah satu sisi Borobudur dan membacakan Bhadracari Pranidhana. Bagaimana hati ini meluap penuh haru-biru, penuh rasa terima kasih pada setiap insan yang terlibat, hingga hari ini masih bisa menyaksikan dan menyentuh Borobudur. Para nenek moyang mewariskan apa yang telah mereka pelajari: peta Borobudur. Para nenek moyang bertahan demi kita, sebagaimana Borobudur bertahan demi kita. Inilah yang mestinya membuat kita kuat, berbesar hati dan tangguh sebagai bangsa Indonesia!

Setiap gestur pahatan, setiap arah, setiap rupang, setiap ukiran, berjuta maknanya.

Lain hari, bila saya, atau kamu, siapa saja, pergi ke Borobudur, akan selalu ada makna dan perspektif baru yang bisa kita pelajari.

Dan makna ini, akan lebih bermakna bila dibagikan kepada orang lain.


Acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2017 diliput dalam berbagai media:

Buddhazine: http://buddhazine.com/gandawyuha-kawedhar/

Jakarta Post: http://www.thejakartapost.com/life/2017/11/24/borobudur-festival-puts-spotlight-on-pluralism.html

Liputan6: http://regional.liputan6.com/read/3173306/pesan-tersembunyi-di-borobudur-writers-and-cultural-festival-2017

Tempo: https://majalah.tempo.co/konten/2017/12/17/IQR/154563/Menggali-Kedekatan-NalandaMuaraJambi/43/46

Tirto: https://tirto.id/borobudur-writers-amp-cultural-festival-2017-angkat-soal-keberagaman-cAl8

….dan lain sebagainya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *