Susah Sinyal: Menghubungkan Jarak Ibu dan Anak

Mari kita lihat bagaimana film ketiga dari Ernest Prakasa, Susah Sinyal, ditilik dari sudut pandang #NyarisPuitis.

Seorang pengacara cantik, badan super bagus, punya anak yang super cakep dan baru akan resign untuk membuka firma hukumnya sendiri. Sukses!

Anak sekolah yang punya Instagram follower super banyak, udah bisa nyari duit sendiri dari hasil endorse-an, cantik eksotis, punya sahabat baik merangkap jadi manager, tipikal kids jaman now yang jadi panutan kayak Awkarin. Sukses!

Tapi, definisi sukses untuk mencapai bahagia, ternyata bedanya bisa seperti langit dan bumi. Hubungan orangtua dan anak akan selalu jadi topik yang menarik dan kadang krik-krik kalau nggak dikemas dengan baik. Inilah zona di luar zona nyaman Ernest Prakasa, yang di karya ketiganya sudah tak lagi membahas mengenai Cina tok. Ini jugalah yang membuat gue jadi penasaran, akan jadi sebagus apa sih film Susah Sinyal ini? Mengingat, Cek Toko Sebelah sukses membuat gue nangis kejer, ngangguk-ngangguk setuju dan nggak berenti ketawa. Gue terpesona sama cara bercerita Ernest yang ringan tapi penuh makna; nyeleneh tapi ngena. Khas beliau banget.

Salah satu daya tarik Susah Sinyal ini juga nggak lepas dari pemandangan Indonesia Timur, Sumba. Habis nonton film ini, wishlist travelling #NyarisPuitis otomatis nambah lagi: pergi ke Sumba untuk melihat si ganteng Abe pemandangan laut lepas dan padang savana. Niscaya yang baca juga, ya? Kalau biasanya film Indonesia yang mengangkat setting Indonesia Timur selalu terkesan serius, dikutip dari Brilio, seperti (yang paling baru) Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Pendekar Tongkat Emas, Humba Dreams, Atambua 39 Derajat Celcius, kali ini Susah Sinyal memberi genre lain: humor kehidupan. Kayaknya sih, habis film ini booming, efeknya akan beriak seperti Laskar Pelangi di Belitung yang kini banjir wisatawan. Amin for Sumba! Ngomongin setting, gue pribadi paling demen sama adegan pergi ke pasar dan waktu Abe ngeboncengin Kiara naik motor menyusuri padang savana. Autentik.

Susah Sinyal pun seperti ajang melepas kangen terhadap CTS (Cek Toko Sebelah), jadi semacam reuni karena cast-nya nggak banyak berubah, yang ada malah tambah rame. Gemes banget dengan aktingnya Gisel yang improvisasinya jauh lebih terasa dan insisted banget di bagian debat bumi datar, Aurora Ribero as a newcomer yang sukses menyita perhatian—si anak jutek tapi menawan, Tante Maya (diperankan Asri Welas) yang masih sama kocaknya, Adinia Wirasti yang tampak keibuan dan tegar berwibawa, daaaan tentu saja favorit gue… Ngatno! Nggak di CTS, nggak di Susah Sinyal, ngocolnya selalu presisi dan effortless! Film ini mungkin punya cast paling ramai, tokoh-tokoh yang diselipkan sana-sini, sehingga memang tidak membutuhkan fokus khusus dari penonton. Walau pada akhirnya, akan ada beberapa yang berhasil nyantol di kepala. Demikian juga celetukan nggak penting yang bertebaran dari awal sampai akhir film, tapi yang paling ngena di gue itu adalah di kebon pake baju ijo, NGATNO, “Makanya kawin sama Cina” (this one definitely! Semua cina pasti feel si Kokoh deh), mamanya Koh Iwan yang super detil and poor you karyawan si mama, dan banyak lagi. Suka sekali dengan cara bercerita di film ini yang begitu ‘sehari-sehari’ nya sampai lupa bahwa kita lagi nonton film!

Bicara tentang filmnya Ernest, pun nggak bisa lepas dari bicara makna. Walaupun terkesan ringan dan receh, selalu ada makna yang diam-diam bikin hati terenyuh. Contoh, sudah tahu kalau Oma-nya akan meninggal sejak dari sinopsis, tapi tetap saja menahan nafas ketika adegan itu tiba. Cara mendeskripsikan keadaan itu yang benar-benar ‘menampar’, ketika Kiara malah memeluk asisten rumah tangganya sambil menangis, padahal Mamanya ada di sana. Ditambah lagu Bila yang disuarakan oleh penyanyi pendatang baru, Ardhito Pramono, sukses bikin hati retak.

Kini kau tlah tiada.

Pesan tlah tersampaikan. Kelak jadi kenyataan.

Lalu dari sanalah mulai terbit inti dari film ini, antara Ellen dan Kiara, ibu dan anak yang berlibur bersama ke Sumba untuk memperbaiki hubungan satu sama lain. Tidak berjalan dengan mulus? Tentu. Bayangkan saja rasanya membangun komunikasi dan perasaan dengan orang yang bertaut darah daging denganmu, tapi tidak pernah mudah. Dari segi jarak, hati dan hari mereka jauh sekali. Lalu bagaimana Sumba dan segala angin pantai, asin laut, rambut kering tapi tetap cantik dan senyum matahari berhasil merekatkan hubungan ibu dan anak ini? Di sela-sela itu, mereka berakhir dengan merayakan kesedihan akan kepergian Oma. Dan dari retak hati yang berderai airmata itu, merupakan jawaban untuk saling lebih terbuka.

Susah Sinyal tidak hanya menyampaikan bahwa kalau di pulau memang sinyalnya jelek dan fasilitasnya kadang bikin bete—which is memang sudah menjadi pengetahuan umum. Jauh dari itu, Susah Sinyal juga menggaungkan tentang keluarga—lagi-lagi tentang keluarga and I love it—dan tantangannya itu sendiri. Kita lahir, tumbuh berkembang dan menjadi dewasa dengan ‘frekuensi’ yang berbeda-beda, tak jarang sinyal kita susah ditangkap oleh orangtua kita, demikian juga sebaliknya. Kalau dibiarkan berlarut, akan banyak pesan-pesan yang menumpuk dan meluap bagai banjir bandang, seperti akhirnya Ellen harus menjelaskan kepada Kiara tentang semua latar belakangnya dan bagaimana ia terperangah mendengar kata hati Kiara.

Susah sinyal, tentu akan sering terjadi dalam keluarga, we didn’t born fully equipped with the sophisticated antenna to catch all the signals, instead we learn and maneuver. Tapi, tak selamanya sinyal akan susah, beberapa kegiatan, contohnya liburan bersama di tempat yang susah sinyal, bisa jadi akan membuka ‘sinyal’ yang lebih jernih, bahwa dalam keluarga, penting untuk saling menjaga dan saling mengerti.

Lastly, film ini cocok ditonton dengan siapa saja di penghujung tahun, sekedar melepas lelah dan membiarkan bibir ketarik lebih tinggi lagi; melatih kerut di mata sambil bersih-bersih belek mata biar ‘penglihatan’ makin jernih (I mean, will be some people who cry, tapi jujur di film ini gue nggak mewek, cuman berkaca-kaca aja, nggak seheboh CTS, mungkin karena gue bisa lebih relate ke CTS berkat topik Cina dan konflik saudara dalam keluarga yang diangkat) dan sampai akhirnya ya… seger! Melangkah keluar bioskop dengan langkah yang jauh lebih ringan, hati yang lebih plong dan siap untuk menyambut (film Ernest di) tahun depan. Turut berbahagia dan terima kasih untuk kejujurannya yang selalu!


PS: Jadi apa yang dikasih tahu Ellen ke Andien sampai akhirnya bisa dapetin video itu untuk Kiara? #tetep

#NyarisPuitisSusahSinyal

#WatchedOnPremiere

 

Sumber gambar: DetikHOT, BookMyShow, Pikiran Rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *