Payung Teduh, Banda Neira dan hal-hal yang tak kita bicarakan.

Is pamit dari Payung Teduh. Pamitnya terasa lebih getir daripada lagunya Tulus yang kedengaran masih bersahabat. Izinkan saya mengungkapkan apa yang membuat hari (dan hati) belakangan terasa sedikit lebih kosong (dan lega?). Anggap saja ini sebagai surat perpisahan dari kita yang tak pernah betul-betul mengenal, sama halnya seperti saya yang ngga pernah bisa mengerti, alasan hakiki tentang Akad yang menjadi begitu mainstream.

Dear Payung Teduh, terima kasih untuk karya-karya kalian yang sendu tapi penuh harap; membelai tapi nggak alay. Teman menulis dan mengkhayal, entah di sore habis gerimis atau malam buta di mana semua ide dan idealisme membuncah tanpa ingin ditampung, dan lalu pengantar menuju lelap. Di atas segalanya, terima kasih atas atmosfir romantis yang cengeng tapi keren, yang tanpa daya apa-apa saja sudah bikin jatuh hati. Terima kasih untuk musik yang indah, lirik yang jujur, lagu-lagu yang berjiwa. Kejujuran yang kurang-lebih saya dapatkan ketika menikmati lagu-lagu Banda Neira. Walaupun orang-orang di sekitar jarang sekali ada yang betul-betul paham makna dari lagu-lagu kalian (“What? Payung Teduh? Band apaan tuh?”, “Nggak sekalian terpal aja, adem?”, “Payung Teduh apa? Lagunya Rihanna?”), saya tetep cinta sama kalian. Jarang banget ada lagu yang saya dengarkan satu album tanpa nge-skip, tapi itu terjadi di album Dunia Batas.

Dan, ya. Setelah Banda Neira yang sukses membikin hati kami-kami ini, para fans-nya berdarah-darah, sekarang giliran Payung Teduh. Hore. Bukannya ingin menjadi melankolis dan menyalahkan siapa-siapa, hanya saja…. ditinggal ketika sedang sayang-sayangnya itu rasanya seperti nonton drama yang belum sempat tamat tapi mati lampu. Nanggung. Ngga nyaman banget. Tapi setelah dipikir-pikir, egois juga ya. Sudah tahu bahwa ngga ada yang longlast di dunia ini, apalagi di dunia musik. Orang datang dan pergi. Apakah kita hanya ngga kepingin, musiknya pecah dan lenyap begitu saja ketika lagi senang-senangnya. Kita hanya ngga kepingin ditinggal, maunya meninggalkan (karena tak berjejak. Kalau sudah ngga nge-fans, ya sudah, toh musisinya ngga pernah tahu). Kita, manusia egois yang ngga siap menghadapi perpisahan. Dan itulah yang dilakukan Banda Neira dan Payung Teduh. But, come on, apalah kita ini, hanya deburan ombak yang datang menjilat bibir pantai lalu undur diri lagi. Toh juga bukan tipe fans hardcore yang menyambangi setiap show yang kalian bikin, kita (mungkin) tidak seniat itu. Masa-masa mengejar idola sambil minta tanda tangan sudah lewat. Saya hanyalah pengagum rahasia yang menjadikan karya-karya ini sebagai teman melamun, teman menggali inspirasi dan mengistirahatkan pikiran yang hiruk-pikuk. Tapi karena itulah, bagi saya, karya-karya yang seperti ini begitu berharga dan pula langka.

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita Adalah Sisa-Sisa Keikhlasan Yang Tak Diikhlaskan – Payung Teduh

Butuh waktu yang tak sebentar, untuk akhirnya terbiasa. Butuh waktu yang tak sebentar, untuk mencerna rindu yang tak bisa terbayar lagi. Rasanya baru kemarin patah hati gara-gara Banda Neira bubar (terus, iseng cek instagram Banda Neira, ternyata sudah hampir setahun yang lalu. Well, 23 Desember 2016 tepatnya, time flies.). Dan sekarang, Payung Teduh. Ah, kejam sekali. Tapi bagaimanapun, izinkan saya dan mungkin teman-teman yang membaca ini merasakan terima kasih mendalam, karena pernah ada, singgah dan menjadi berarti di hidup kami. Urusan mencipta karya, menjaga hubungan dan komunikasi (seperti yang diungkapkan Is di sini) atau urusan lain-lain pun mungkin pelik dan tak akan bisa kami mengerti – bagaimanapun kami hanyalah fans yang patuh kalau diminta duduk sebelum konser dimulai, lalu kemudian ikut ber-parara dan kadang berlinang airmata emosional ketika sing-along. (Oh ya, khusus di bagian sing-along ini, Banda Neira juga juaranya. Sampe bercucuran airmata, untungnya waktu itu konsernya malam terus gelap. Ah, dasar sentimental).

Tentang bagaimana kami menata kembali emosi kami setelah berita bubar, biarlah itu menjadi urusan kami saja. Setidaknya, karya-karya kalian abadi. Karena saya percaya, setiap karya yang diciptakan dari hati memiliki nyawa, sehingga, kalau kangen masih bisa ‘menghidupkan kembali’ karya-karya tersebut, dan kembali bermimpi hanyut dalam hangatnya pelukan cahaya mentari (nah, lho, inget siapa). Tentang bagaimana kami berdamai dengan harapan semoga-kalian-kembali-dan-bikin-karya-lagi, biarlah kami itu menjadi urusan kami. #rindubandaneira #kitasamasamasukahujan #terimakasihbandaneira tentu merupakan hashtag yang masih berkesan, bukan? Kalau ini saja bisa kami lalui, tentu begitu pula dengan Payung Teduh.

Aku cari kamu

Di setiap bayang kau tersenyum

Aku cari kamu

Kutemui kau berubah

Kucari kamu – Payung Teduh

Akhir kata, terima kasih Payung Teduh, telah temani gundah dan merubahnya menjadi lebih gundah lagi, lalu di sela-sela itu cercah-cercah cahaya merambat dari segala arah.


Catatan Penulis:

Awalnya tulisan ini direncanakan akan menjadi begitu emosional dan menggebu-gebu, apalagi setelah membaca wawancara Is bersama Rolling Stone. Is jelas merasakan ketidakadilan, tapi bagi saya, karya-karya Payung Teduh itu, merupakan suatu kesatuan yang mahal, agak kecewa ketika Is mengungkapkannya seperti terkesan ‘kerja sendiri.’ Sedih sekaligus marah sebenarnya. Payung Teduh itu band yang bagus dan bermasa depan cerah setelah Akad melesat! (dan tentu saja dengan begitu banyak komen sampah lainnya).

Tapi entah kenapa, ketika sedang menulis ini, rasanya ada di titik damai yang menenangkan. Lega mendapati bahwa karya-karya itu masih akan tetap hidup di hati dan memercik inspirasi dalam cara apapun; lega mendapati bahwa menghadapi ‘perpisahan’ dari sudut pandang ketiga bisa dirasakan dengan cara begini. Dengan cara penuh syukur. Tak lagi se-emosional ketika Banda Neira bubar.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti – Banda Neira

 

Diri sendiri, yang memberi makna, pada perpisahan atau perkenalan.

Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan

Biar jadi rahasia menyublim ke udara

Hirup dan sesalkan jiwa

Langit dan Laut – Banda Neira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *