#LangkahPertama

Pertama akan selalu jadi permata.

Apa yang muncul di benakmu ketika pertama kali ditanya mengenai cita-citamu? Kalau saya, jawabannya, walaupun hanya terpikirkan lewat dengkul, “Keliling seluruh dunia!”

Seluruh dunia itu, jauh atau dekat?

Ditilik dari segi filosofis, pertanyaan ini jelas akan dikaji dan dibahas bertahun-tahun. Namun, dari segi praktis jaman now, ah elah, satu kata saja mampu membungkam pertanyaan itu: internet! Mulai dari membuka mata hingga sebelum terlelap, tak bisa kita lepas dari gadget dan… internet. Hari tanpa internet, layaknya Jakarta tanpa macet. Mustahil.

Balik lagi ke cita-cita. Dua tahun lalu, saya dan dua teman sempat terlibat obrolan seru mengenai cita-cita dan seluruh dunia. Obrolan yang sangat berkesan—lha iya, buktinya masih ingat sampai sekarang. Kita membicarakan tentang mimpi. Duileh, ngomongin mimpi memang selalu bikin hati girang sekaligus gregetan. Semacam jauh, tapi terjangkau. Semacam dekat, tapi tak jarang bikin hati galau. Obrolan kami mengenai bucket list berisi hal-hal yang ingin dilakukan sebelum mati jadi tua has gone too serious. Terinspirasi dari seorang blogger, teman saya ini menulis 100 bucket list dan bercerita dengan mata berbinar, persis seperti Shinchan ketemu cewe seksi makanan. Kalau diingat-ingat lagi, bucket list itu sebenarnya sederhana saja, nggak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari. Contoh ya, makan tteok-bokki di resto kecil di Korea, nonton pertandingan bola di Manchester dan ikut mbikin gelombang manusia, ngobrol dengan orang asing di negara asing pakai bahasa asing, telanjang di tengah salju (oke oke, ini bucket list yang saya celetukin waktu itu, gara-gara terinspirasi film Thailand, Hello Stranger), meleleh dalam kembang api Disneyland, bercumbu di pantai, tidur beratapkan milky way, hingga ke negara yang ia tandai dengan sangat spesifik tanpa tujuan yang spesifik: Paris. Kenapa Paris? tanya saya ke temen saya itu. Engga tahu, titik. Pengen aja, titik. Nama kota ini bahkan menjadi password semua device-nya saat itu, dengan harapan agar—entah bagaimana caranya, mimpinya bisa kesampean. #HidupSugesti #Amin.

Tapi, mewujudkan mimpi tidak segampang membeli paket internet di Traveloka mengubah password di semua device. Jujur, ketika teman saya menyebut kota itu, saat itu juga, ada sesuatu yang membuncah dalam hati saya, hingga terbentuklah tekad itu. Paris juga, namun bukan Eiffel. Ada satu paham bikinan saya sendiri, yang saya namakan #LangkahPertama. Reverse to be Grateful. Intinya, apapun yang kita alami sekarang ini ngga hadir begitu saja. Itulah sebabnya untuk traveling, saya cenderung suka mengunjungi museum dan candi-candi. Historical-hopping. Sejarah mungkin menipu, sejarah mungkin misterius seperti senyuman Mona Lisa; tak terpecahkan mengenai apakah Mona Lisa itu cewek atau cowok. Ya, Paris bukanlah Eiffel, tapi Louvre! #LangkahPertama Paris adalah Louvre, karena di sana, sejarah Perancis dan negara-negara lain turut serta, tak lelah memberi jawaban. Karena di sana, rasanya saya tak akan bosan menyaksikan lalu-lalang mereka yang larut dalam mesin waktu, seraya membiarkan atmosfir seni berpesta di pikiran mereka. Artistik yang tak lekang dimakan detik.

Seperti yang tadi saya bahas, #LangkahPertama, Reverse to be Grateful ini penting, karena mengingatkan kita bahwa kejadian terjadi berkat faktor-faktor penyebab dan pendukung, sehingga penting untuk mengingat-ingat, apa #LangkahPertama suatu hal, sehingga bisa jadi begini? Gimana sih awalnya? Tilik balik lagi. Dengan begitu, akan selalu ada ruang untuk bersyukur dan menjadi orang yang tidak take it for granted. Dengan analogi yang sama, seseorang tidak mungkin naik pesawat tanpa booking tiket pesawat—kecuali dia sosok tajir yang fana, di mana pesawatnya sendiri yang mem-booking dirinya sendiri. Seseorang tidak mungkin booking tiket pesawat tanpa… internet. Tilik balik lagi, kalau nggak ada internet, apalah kita ini, hanya remah-remah biskuit di pinggir dunia.

Untungnya ada Traveloka (waktu ngetik ini langsung inget sama iklannya, hehehe!). Inget banget waktu pertama kali nyobain beli paket internet di Traveloka. Waktu itu, saya sedang otewe ke konser We The Fest dengan angan-angan yang sudah penuh dengan band asal Irlandia, Kodaline dan Instagram Stories yang berlimpah (belakangan baru baca dari survei Nielsen, mengenai peningkatan akses internet oleh netizen di hampir semua tempat, 53% di kendaraan umum, 24% di acara konser. #ohsotrue). Dan benar saja, SMS horor berisi pesan “paket internet Anda akan habis” ternyata lebih meresahkan daripada SMS Mama minta pulsa. KZL, karena waktu itu saya tidak membawa token, tidak pernah juga punya mobile banking apapun, dan… satu-satunya yang saya bawa hanyalah dompet dan kenangan. Memikirkan adegan singgah sebentar ke konter-beli pulsa-gosok voucher… rasanya begitu purbakala. Andalan saya hanyalah satu, kartu kredit. Transaksi yang sama seperti metode pembayaran lainnya (sama seperti beli tiket juga) dan seketika itu juga paket internet sudah terisi lagi. Hela nafas lega. Traveloka sang Penyelamat. Pun tidak usah khawatir kecolongan, karena sistem keamanan bertransaksi di Traveloka sudah saya buktikan sendiri berkali-kali.

Lucu ternyata, mendapati fakta bahwa paket internet menjadi #LangkahPertama bagi hampir setiap orang. Paket internet, menjadi penentu destinasi kita berikutnya, penentu kita akan jadi apa.

Yang menentukan langkah kita, entah itu langkah menginjak pasir yang dijilat debur ombak, atau langkah berlapis boots dengan jejak-jejak di salju.

#LangkahPertama yang menentukan tempat kita bersedia bangun super pagi untuk mengejar sunrise terbaik, atau menenteng kamera untuk melepas senja tercantik.

#LangkahPertama yang menentukan rasa kopi yang belum pernah kita seruput sebelumnya, atau makanan khas yang aneh tapi meninggalkan memori indah di lidah.

#LangkahPertama untuk segala kemungkinan dan kesempatan bertemu dan jatuh cinta, dengan orang baru, tempat baru, suasana baru.

Lucu tapi nyata, semua tiket mulai dari tiket pesawat, kereta api, hotel, atraksi… kalau dipikir-pikir, dimulai dari hal yang sesederhana ini: paket internet.

Ah, pertama memang selalu menjadi permata.

#JadiBisa #Traveloka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *