La La Land: Romantis yang Realistis

Perlakukan mimpimu secara romantis, walaupun tak selamanya manis,

namun itulah hal yang paling realistis.

La La Land merupakan film yang membungkus bara semangat mengejar mimpi, tapi tetap berdarah-darah. Tidak ada yang impressing bagi gue, hingga akhirnya Sebastian (Ryan Gosling) yang mengucapkan kata-kata ini pada saat saudaranya berkunjung ke apartemennya yang dipenuhi oleh barang-barang antik dari artis favoritnya: “I’m a phoenix rising from the ashes!”  Terkadang memang susah membedakan songong dan kepercayaan diri, but I looooove Seb!

la-la-land-movie-trailer-image-still-9

Berkisah tentang Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang idealis dan Mia Dolan (Emma Stone), aktris yang berkali-kali gagal casting namun tetap on fire, La La Land berhasil menggiring gue hanyut dalam indahnya musikalitas dan dialog kecil-kecil yang menyentil, kadang-kadang juga terselip dalam lagunya. Sebastian dan Mia, bisa dibilang sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Well, spoiler nggak papa lah, ya? Toh juga udah pada nonton, kan? #maksatapi #sebodoamat #ditimpuksendal. Nah, jadi gini: di restoran, mereka nggak sempet kenalan karena dalam state of mood yang berbeda. Seb terlalu keki karena dipecat tepat pada malam natal, sementara Mia butuh sesuatu yang bikin dia terpesona (dan terhibur) dan itu ada pada permainan piano Seb yang hanya bisa diapresiasi oleh Mia seorang.

Berlanjut ke pertemuan mereka di salah satu pesta, ketika Mia dengan songongnya me-request lagu “I Ran.” Mereka berakhir di Griffith Garden sebelum senja menjadi malam, dan… siapapun gemes kali ya sama koreografi mereka saat menampilkan What a Lovely Night? Hehehe.. gue personally sukak pakek banget sama liriknya. Lucu ngegemesin. Ceritanya suka tapi gengsi. Suka tapi malu. Suka tapi (a)ma (e)lu. Hahaha!

Seb: This could never be, you’re not the type for me.

Mia: Really?

Seb: And there’s not a spark in sight. What a waste of a lovely night

Mia: You say there’s nothing here? Well, let’s make something clear

Mia: There’s some chance for romance. But, I’m frankly feeling nothing

Seb: Is that so?

Mia: Or it could be less than nothing

Seb: Good to know. So you agree?

Mia: That’s right. What a waste of a lovely night

(Sebastian & Mia Dolan – What A Lovely Night)


Walaupun tak begitu ketara, entah kenapa gue merasa bahwa Mia memang sedari awal terus-menerus mendukung Seb dengan caranya sendiri, untuk tetep berada dalam mimpinya sendiri, sesuatu yang ia yakini bisa dicapai.

Seb: What do you mean you don’t like jazz?

Mia: It just means that when I listen to it, I don’t like it.

Dan pula ternyata, tidak harus punya mimpi yang sama untuk bersama-sama mencapai mimpi. Lama-kelamaan, plot menjadi semakin jelas bahwa walaupun sama-sama ‘nyeni’ (atau bahasa kerennya: artsy), Mia dan Seb jelas memiliki mimpi yang benar-benar berbeda, namun tetap berusaha mendukung satu sama lain, walaupun pada akhirnya jelas banget sih, mereka nggak bisa benar-benar mendukung dan inilah yang bikin film ini semakin bermakna, karena realistis! Seb yang harus ‘get a life‘ dan punya ‘pekerjaan yang tetap’ dengan menjadi anggota band agar nantinya bisa punya bar sendiri; Mia yang berhasil tampil dalam pertunjukannya sendiri tapi karyanya tidak diterima khalayak. I mean, this is so true. Bukan berarti dengan kemegahan mimpi dan segala kembang api bersama orang yang dicintai, akan menjadi jaminan bahwa semuanya pasti tercapai. Film ini menunjukkan luka dalam suka; pahit yang bikin bangkit; ironis yang manis, tapi tetap dikemas dalam ingar bingar yang menyenangkan hati.

Menonton La La Land, gue nggak bisa menghitung berapa kali hati ini mencelos. Berkali-kali. Nafas yang tertahan. Berkali-kali. Chemistry yang tercipta antara Ryan Gosling dan Emma Stone memang juara! Paling suka bagian mereka main piano bareng di apartemen dan nyanyiin lagu City of Stars bareng. Suka suka suka. Oh, dan tentu saja di scene terakhir ketika Mia melemparkan senyum pada Seb yang selesai memainkan pianonya. It could be anything. Cinta yang lenyap untuk dimensi ruang dan waktu. Baca di sini.

A look in somebody’s eyes
To light up the skies
To open the world and send it reeling
A voice that says, I’ll be here
And you’ll be alright

I don’t care if I know
Just where I will go
‘Cause all that I need is this crazy feeling
A rat-tat-tat on my heart

Think I want it to stay

(Sebastian & Mia Dolan – City of Stars)


Tidak hanya itu, karakter mereka pun begitu mengagumkan dan mencengangkan secara independen. Suka banget sama cuek dan sombongnya Seb, terlebih ketika dia berseru “Fuck it!” dan cara dia bunyiin klakson mobilnya, dan cara dia memainkan piano, dan ekspresi dia yang sendu sekaligus charming tiada tara. Ahaha.

Kalau Mia? Wah, apalagi. Ekspresinya ketika pertama kali menemukan Seb yang bermain piano, ketika menyaksikan penampilan Seb di The Messengers (I feel you, kok, sis. Pacar ganteng tapi cuman jadi figuran itu emang jleb banget. Etapi ya iyalah, vokalisnya si John Legend. Bohuat sih emang), ketika sedang menari (ini di scene manapun deh, semangat banget elah!), ketika ‘menceritakan’ The Fools Who Dream yang bikin… berkaca-kaca, ketika Mia… PAKE BAJU APAPUN BAGUS BANGET YAOWOH. Seriously, bukan gue doang kan yang naksir semua outfit yang Mia pake?! Lucu-lucu, ih! Apalagi postman bag dia yang warna kuning ituuu. #kemudianbukasitusbelanja

la-la-mia-dolan-emma-stone-la-la-land-outfit-fashion-baju

Anyway, pernah gue nonton salah satu tayangan TED yang dibawain oleh penulis naskah Toy Story, Andrew Stanton. Beliau bilang, setiap tokoh pasti memiliki muse-nya sendiri.

She captured feeling

sky with no ceiling,

the sunset inside with rain

Here’s to the ones who dream, as foolish as they may seem

Here’s to the hearts that ache.

Here’s to the mess we make.

Di akhir film ini, gue baru menyadari bahwa inti dari cerita ini adalah tentang Tante dari Mia Dolan yang kemudian membuatnya tergila-gila pada dunia akting dan perfilman. Lagu The Fools Who Dream ini juga merepresentasikan tentang ‘dinginnya air di sungai Seine, walaupun sudah tahu betapapun dinginnya dan bahkan terkena flu selama sebulan, Tante saya tetap saja masih ingin terjun ke sungai itu lagi. Percik-percik kegilaan, membuat hidup ini berarti.

Betapapun ‘bodoh’ nya mimpi yang kita impikan, tetap saja kita ingin mengusahakannya. Mungkin sang sutradara, Damien Chazelle juga sama melankolisnya dengan orang-orang yang mengagumi film ini. Bagaimanapun, mimpi kita, karya kita, tidak akan pernah sia-sia. Hanya saja butuh untuk dipertemukan dengan audiens yang tepat. Apresiasi yang tepat. Sedikit percikan, lalu semua menjadi nyata, (mungkin) dengan cara yang tak pernah kita ekspektasikan sebelumnya.

She smiled,

Leapt without looking and she tumbled into the Seine!

The water was freezing

She spent a month sneezing

but said she would do it, again

I’ll always remember the flame.

Mia Dolan – The Fools Who Dream (Audition)

tumblr_oaj608zsvy1qfv89lo4_500

Pria dan wanita, dengan mimpi yang menggebu-gebu. Akankah mimpi mereka tercapai dan berakhir bahagia, saling mencintai satu sama lain? Bisa jadi iya, bisa jadi enggak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *