Matanya, Kota yang Sepi

Matanya mengingatkanku pada kota yang sepi.

Entah karena aku pernah mendengar kata-kata seperti ini di salah satu film, tapi memang begitulah matanya memberi kesan. Matanya tidak indah hingga layak dibikinkan lagu; tidak pula bulat seperti bola pingpong dan bikin susah lupa. Matanya seperti kota yang sepi, dan di sanalah aku tersesat.

“Kalau memang begitu, kamu itu apa?” Ia mengerjap, menatapku dengan jenaka.

Ah, tidak, aku tidak ingat pernah memberitahunya pikiranku yang satu ini. Aku ingin menyimpan hal ini sebagai rahasia kecil, yang diam-diam kunikmati tiap kali dia mulai sibuk membicarakan pekerjaan barunya atau petualangan barunya ke pulau terpencil yang entah di mana itu.

“Hah?” responku agak kaku. Maaf, rasa-rasanya aku tersesat di kota yang sepi itu, tiada satu pun yang bisa aku tanyai tentang jalan keluar, atau memang sejak awal aku tidak ingin membebaskan diri.

“Iya, kamu itu apa? Bagian printing, merchandising atau purchasing?”

Hela nafas menyelinap keluar dengan lega, memang namanya membaca pikiran itu hanya mitos belaka. Kujawab ia layaknya petasan, lalu kami kembali tenggelam dengan basa-basi yang tak berkesudahan. Basa-basi seperti ini, seperti bermain game 2048 yang tak berkesudahan, ketika sudah game over pun, kau tidak akan berpikir banyak untuk mengulangnya dari awal.

Ah, kadang aku sering berpikir bahwa… salah satu dari kita harus meledak. Kalau tidak, selamanya kita akan berpusar dalam ketegangan yang tak kentara. Ah, tapi kuingat-ingat lagi, ia adalah kota yang sepi. Kota yang menganggap bahwa suara akan meluluhlantakkan udara… apalagi ledakan. Mustahil. Salah satu dari kita mungkin tidak akan pernah meledak, kita begitu hebat mengendap-endap dalam gelap, bermain petak umpet dalam senyap, kita begitu menikmatinya.

“Terus, tentang Kota yang sepi, apa itu?” ia mengangkat alisnya, bertanya dengan penuh selidik.

“Hah?” kali ini responku agaknya tampak lebih mampu menguasai diri.

“Aku membaca blog-mu. Kamu bercerita tentang mata seseorang yang seperti kota yang sepi. Kota yang sepi, mana seru untuk dieksplor?”

“Hmm, tergantung kamu tipe traveller seperti apa.” Aku nyengir kuda.

Matanya adalah kota yang sepi. Bukan kota yang terlupakan. Suatu tempat yang megah berdetak sendiri, bukan reruntuhan yang berlutut dalam pedih. Seringkali, ia tampak begitu terluka, tapi aku selalu menemukan kekuatan dalam lukanya. Sejenis kepercayaan diri yang malu-malu mengintip dari ringisannya.

Matanya adalah kota yang sepi, bukan kota yang kesepian. Mungkin, ia memang tidak suka diusik oleh deru-deru kendaraan dan ingar bingar kembang api membuncah di angkasanya.

“Setidaknya, aku harus tahu siapa yang rela menemaniku ke kota seperti itu.” Ia membalas cengiranku.

Kalau memang benar ia adalah kota yang sepi, mungkin ia masih butuh lampu jalan—setidaknya yang memberinya temaram yang hangat, sekaligus pengingat bahwa kota yang sepi tak boleh menjadi dingin. Tak pernah boleh jadi dingin lalu beku, menjadi sejarah.

“Siapa, hayo?” kubalas lagi cengirannya.

Sekejap saja, kutemukan kilat di kota yang sepi itu. Gemuruh tak bersuara yang mengerjap di hamparan langit kota itu. Setidaknya untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

cerpen-nyaris-puitis-kota

Mustahil memang untuk bilang cukup. Tapi untuk saat ini, sungguh, ini sudah lebih dari cukup.

Satu senja di Yogyakarta, Februari 2016

Kota yang sepi, mendengungkan juta-jutaan makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *