Of Being Graduated. #NyarisPuitis

“Nanti habis kita lulus, kita masih bisa main bareng nggak, yah? Lo bakal kangen nggak sama gue?” mendadak ucapan temen baik gue terngiang di kepala. Waktu itu, dengan ringannya sambil bercanda gue menjawab, “Ya enggaklah!” dan berhasil bikin dia bete maksimal.

Topi toga yang mengawang beberapa detik di udara.

Pidato rektor yang terasa selamanya.

Teman-teman berkebaya dan berjubah wisuda berkeliaran di mana-mana.

Momen di mana kita bisa menyentuh perasaan bangga orangtua dan saudara kita.

Helaan nafas lega.

Wisuda bagai ajang selebrasi yang ternyata sesederhana itu. Wisuda adalah hal yang paling menyenangkan, memang. Sekaligus pintu menuju ketidakpastian dan pengangguran. Pelan-pelan setelah itu, hidup akan berubah. In a way you would never expect. Kamu akan jadi lebih dewasa, in many the other way. Lebih terbiasa memaknai perpisahan, walau masih berderai airmata, tapi semua terasa lebih lumrah.

Lumrah, tidak ketemu lagi sama teman-teman yang biasanya ngerecokin di bangku kuliah. Lumrah tenggelam dalam aktivitas kantoran sambil sesekali merindukan masa-masa nongkrong bareng, bolos bareng dan banyak kegiatan bareng teman-temanmu.

Semua remeh temeh dan pembicaraan mengenai masa depan akan menguar sesaat setelah wisuda: jadi mau kerja di mana? Gaji berapa? Pacar udah bisa diajak nikah belom? Emang masih zaman nikah pake duit orangtua? Lalu, tanpa terasa akan ada jarak yang ditarik, karena jadwal yang tak lagi cocok, anggota geng yang menyebar ke berbagai pelosok (bahkan Jakarta – Tangerang aja rasanya udah beda, lho), kebiasaan yang berubah, benteng yang didirikan hanya karena dengar-dengar lingkungan kerja itu membahayakan, rekan kerja bisa menusuk dari belakang, tidak ada tempat aman, blablabla.. ah sudah berapa seringnya kata-kata seperti itu menjadi rumor? Hingga naik pamor.

Namun, ternyata kita masih sebego itu. Sepolos itu. Banyak ‘fakta’ yang kemudian terurai, bahwa kita tak tahu apa-apa, walaupun rasanya sudah belajar banyak di kuliah. Ternyata, wisuda dan masuk ke dunia kerja (atau se-desperate itu mencari kerja) tak ada bedanya dengan masuk SMP, masuk SMA, masuk ke dunia baru. Semua tentang pergantian. Semua tentang adaptasi. Semua tentang kaget yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.


Lalu, apa yang berubah?

Sesaat setelah kau melangkah ke ‘dunia nyata’ (bagi yang tidak melanjutkan studi S2), dan menengok ke belakang, lenyap sudah segala ‘masa muda.’ Selamat datang di fase hidup yang baru, sayang. Di saat-saat ini, akan banyak hal tak disangka yang kamu temukan. Si A yang cupu di kelas ternyata dapat gaji paling tinggi; si B yang IPK-nya biasa-biasa saja diterima di perusahaan bonafid; si C yang keliatannya jomblo terus selama kuliah tiba-tiba udah married; si D yang mendadak kuliah atau kerja di luar negeri. Aneh bin lucu sih memang, sementara kalau dilihat dari dirimu sendiri, sepertinya kamu masih saja kamu yang dahulu. Tapi percayalah, di mata kalangan teman-teman (yang biasanya kepo di social media), kamu pun juga sudah berubah. Jadi, sebetulnya itu hanya bisa-bisanya kamu saja membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain.


Lalu, apa yang perlu dipersiapkan?

Brace yourself. Tidak ada yang perlu dipersiapkan. Tidak ada pula yang perlu ditakutkan. Kehilangan akan selalu ada, mulai dari kehilangan teman-teman satu geng yang waktu kuliah katanya nggak bakalan bubar dan bakal tetep komit untuk rutin ketemuan, kehilangan (mantan) pacar, kehilangan teman mengobrol, teman makan dan segala kehilangan lainnya, but you will always know how to survive. We are human, anyway. Kedengarannya memang mellow, tapi lama-kelamaan, semua teman yang dulunya kau pikir adalah duniamu akan perlahan menguap di group chat, berbagai meet-up yang terencana bagai kembang api akan meletus dan menjadi udara, makin lama makin jarang, karena sibuk dengan hidup masing-masing. Kamu pun begitu, akan sibuk dengan duniamu sendiri. Dan lingkaranmu sendiri. Tanpa kamu sadari, kamu pun jadi lebih menghargai setiap momen meet-up, tak hanya melulu tentang upload foto ngumpul-ngumpul di social media.


Lalu, apa yang bisa didapatkan?

Pelajaran berharga, kalau setiap fase dalam hidup begitu berharga untuk diapresiasi.

Kangen, tapi tak ingin lebih.

Nostalgia, tapi tak ingin kembali.

Beberapa tahun setelah kamu di wisuda, mungkin kamu nggak pengen lagi balik jadi anak kuliah naïf yang rela bolos kuliah cuma gara-gara urusan yang kamu anggap penting banget dulunya. Masih seringkah kamu melihat Memories di Facebook? Masa-masa seseruan bareng, tapi mukanya kamu masih culun dan imut. You prefer yourself now, or….? *sotoy lah*


Lalu, apa nasehat dari wisudawati tiga tahun lalu?

Well, advise for fresh grad? Ehem. Jangan pernah takut ambil kesempatan untuk coba-coba. Masa kalo sama gebetan aja kita coba jalanin dulu, sama kesempatan berkarir juga sama, dong?

Kita tidak hanya memilih pekerjaan. Pekerjaan juga yang memilih kita. Jodoh, if you want to name it like that. Dan setelah memutuskan untuk menjalani karir tersebut, jangan pernah menyesal dengan keputusan apapun yang kamu ambil. Entah meneruskan hidup di ibukota: bekerja kayak kuli di perusahaan terkenal tapi gaji macem upil, kerjaannya manual banget kayak robot, kurang dihargai atau bikin cape hati, embrace it. Belajar menguatkan hati, sambil terus gigih mencari kesempatan lain, lalu resign-lah secara baik-baik. Demikian juga bagi kamu yang memutuskan untuk pulang kampung, membangun kerajaan bisnis sendiri, segala keputusan adalah pilihan. Kita, para fresh grad, hanya punya ‘modal’ antusiasme dan giat yang berlimpah-limpah, salurkanlah energi tersebut dengan baik. You decide. There’s many thing to be appreciated in this life. Oh ya, satu lagi yang paling penting, never ever give up for things that you really love. Jangan gara-gara kerja dan gaji, kamu lupa sama hobi atau kesukaanmu. Atau meninggalkan ‘jati diri lo’.


*berikut obrolan gue dengan anggota keluarga saya yang baru saja wisuda*

T: Jadi apa perasaanmu setelah officially graduated?

J: Senang. Lega.

T: Jadi, gimana rasanya ketika liat ke depan?

J: Aduh, mesti jawab sekarang ya?

Bingung itu pasti, tapi… jangan lama-lama ya?

nyaris-puitis-binus-wisuda-55-bunga

Happy Graduation!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *