Doctor Strange, nggak ribet pake jubah sepanjang itu?

Itu pertanyaan pertama yang muncul dengan jahat di kepala gue begitu Cloak of Levitation tersampir di pundaknya Doctor Strange. Imajinasi berikutnya? Gue membayangkan diri gue dicekik dan diseret sama si jubah kayak anak buahnya Kaecillius itu. Metong.

tumblr_ofu9dpqtcx1rpb83ho4_500

Memang, beberapa superhero Marvel nggak kalah ribet, sih. I mean, Doctor Strange kan mesti lari-larian di gedung yang entah vertikal atau horizontal itu. Sayang loh kalo ganteng-ganteng kepleset gara-gara si jubah jahil itu.

doctor-strange-8

Cloak of Levitation, Mordo yang menjelaskan bahwa ‘senjata’ akan memilih pemiliknya sendiri, terdengar enggak asing. Masih ingat Patronus atau sapu terbang di Harry Potter? Dengan stereotipe seperti itu, tak heran gue langsung kebayang kalo Doctor Strange ini semacam perpaduan film Inception, Harry Potter dan LUCY.

Berhubung seperempat populasi Jakarta pastinya udah nonton Doctor Strange (terbukti dari update-an Path), jadi nggak papa ya kalo review ini dipenuhi sama spoiler? Hehehe.

Banyak yang bilang, Doctor Strange adalah film yang menabrakkan logika dan magis, film yang aneh. Tapi, bagi gue, film ini layaknya kembang api. Penuh kejutan dan nggak bosen-bosennya bikin kita terperangah. Gue suka banget cara penyajian ceritanya. Bener-bener mindgasm. Lebih-lebih pada scene-scene awal pertemuan Doctor Strange dan The Ancient One di Kamar Taj. Dialog super cerdas, efek visual super mejik, *clapping hands with joyful tears*

doctor-strange-4

doctor-strange-5

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your life trying to widen it. Your work saved the lives of thousands. What if I told you that reality is one of many?”

Apa itu realita?

Apa itu mimpi?

Apakah mereka sama? Apakah mereka berbeda?

Seringkali gue berpikir, segala sesuatu tak serta-merta tentang hitam dan putih, ada banyak sekali kemungkinan dan alasan tentang diperbuatnya suatu hal. Mungkin sekali, yang mendasari segala perbuatan adalah cara pikir. Itulah aspek yang ingin dijelaskan dari seorang Doctor Strange yang lulus S2 dan S3 bersamaan. Lalu, apa gunanya kalau ia begitu pintar, kalau apa yang ia lihat hanya dari ‘lubang kunci’?

Ah, apa bedanya sih kita sama tokoh ini? Begitu pintarnya kita dalam ‘memilih apa yang ingin kita lihat, dengar dan rasa.’

Dr. Stephen Strange: “I don’t believe in fairytales about chakras or energy or the power of belief.”

doctor-strange-6

Cara pikir; cara pandang, begitu menentukan tindakan kita selanjutnya. Bagi gue, film ini nggak cuman sekedar transformasi seorang sombong yang menjadi rendah hati dan menolong sesama. Not that simple—well, gue malah nggak ngerasa tokoh Strange ini sombong, cuman rada songong aja sih. Tapi ya wajarlah songong kalo emang pinter mampus gitu ya, ganteng tajir melintir lagi, and afterall, Tony Stark lebih sombonglah! *lah, nyerempet ke Iron Man pulak* :p

doctor-strange-7

Anyhoo, kembali ke topik, ada sesuatu yang lebih profound yang (gue kira) gue temukan dari film Doctor Strange ini: baik atau buruk itu hanya persepsi, yang paling penting adalah alasan dari diambilnya suatu pilihan. Gue ikutan frustasi saat Doctor Strange yang helplessly teriak ketika ia membunuh salah satu anak buah Kaecillius. I feel you, bang. *alah* Menjadi seimbang adalah mustahil, yang paling penting adalah motivasi dari tindakan.

doctor-strange-10

Hal lain yang tak kalah profound adalah persistence.

“Dormanmu, I’ve come to bargain!” – Doctor Strange

Ketahanan hati, untuk gagal dan gagal lagi. Akan gue camkan dalam hati, bahwa nggak ada salahnya untuk nggak menang. Yang penting berani untuk gagal. Ketahanan hati seperti Doctor Strange ini, rasanya bisa diaplikasikan ke aspek hidup mana aja, entah ketika lagi marah (ketahanan hati untuk hadir merasakan emosi yang meluap); lagi bete atau nggak mood; lagi dalam proses menjadikan mimpi jadi nyata; lagi pedekate atau dipedekatein.

Nggak melulu tentang aksi si pahlawan, Doctor Strange juga enough banget di porsi lucu-lucuan sama romance-nya. Shamballa as wifi password? Wong-face expression as.. Adele? Beyonce? Eminem? Dan balik lagi… Cloak of Levitation! Usil, ih!

tumblr_oehlsipcex1ugcxlfo1_400

Gue juga sempet kaget ternyata yang jadi aktris utamanya si Rachel McAdams (yang notabene-nya… not so Marvel!) *ketauan nggak meratiin trailer* *fokusnya cuman ke abang Cumberbatch* Sayang sih, porsinya nggak cukup banyak *we want more, definitely.*

strange-palmer-1 strange-palmer-2 strange-palmer-3

Dari awal film, Doctor Strange menyuguhkan topik tentang Dimensi dan Waktu. Nggak nyangka juga ditutup dengan satu kesimpulan (pure dari gue doang, sih) tentang kenapa pada akhirnya Doctor Strange memilih untuk bernegosiasi sama Dormammu dan tetap hidup di dimensi waktu.

Time will tell how much I love you.” -Christine Palmer

Pantesan ya, bang, jam rusak aja disimpen mulu. #StephenStrangePuitisBanget #ChristinePalmerJuara #PalmerStrangeWinsMyHeart

Udah ah, gitu aja. *lagi berusaha mengabaikan scene ndak logis, seperti ‘kenapa si dokter cantik Christine Palmer boleh pake kuteks warna biru kece, padahal dia kan dokter.’ Coba deh lihat tangannya. Ah, sudahlah.

tumblr_ofwt73cvhw1sjory7o1_500

PS:

Berasa nggak sih kalo Doctor Strange itu filmnya #quotable banget? Nih, satu lagi yang terakhir:

Doctor Strange: “I am not ready.”

The Ancient One: “No one is ever ready.”

Bye. 

Hestekin #NyarisPuitis ah.

Yah, endorse lagi.

Bye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *