Balada Cacar Air

cacar air 7

Ada beberapa hal yang hanya terjadi sekali seumur hidup: lahir, menikah (well, it depends) dan meninggal. Setelahnya gue baru nyadar bahwa gue melewati satu hal lagi: cacar air. Never in my wildest dream, cacar air dengan kulit bentol-bentol merah akan menyerang dengan cara seperti ini. Memang sudah mitosnya bahwa setiap orang pasti akan mengalami cacar air sekali seumur hidup, tapi kena cacar di usia dewasa? Nggak asik banget.

Cacar air memang bukan penyakit berat, cacar akan sembuh sesuai waktunya—yakni 2 minggu, tergantung antibodi masing-masing orang. Di usia 25 tahun, cacar lebih menyerang ke sisi emosional dan produktivitas, jujur gue sendiri menjadi super sentimental ketika masa-masa inkubasi. Tsaah. Jadi, gue nggak bakalan nulis pengalaman kena cacar dengan puitis, tujuan gue cuma satu: agar yang sedang membaca ini—dan kebetulan lagi kena cacar air, bisa enjoy melewati ‘masa-masa kejayaan’ virus Varicella Zoster ini. Tsaaaaah.

Oh ya, there will be no picture of me, karena… seperti kata Ajahn Brahm: kita hanya akan mengambil gambar dari hal-hal yang kita senangi, nggak bakal ada yang mengambil gambar ketika pergi ke dokter gigi atau lagi sedih. Yap, gimana mau foto-foto kalo tiap kali ngeliat ke cermin bawaannya langsung baper dan pengen mecahin kaca?! Those were the darkest hours of ma’ life!!! Tuh kan baper lagi, plis deh.


cacar air 1

Setelah menghadiri kondangan temen gue di luar kota, pikir gue emang jetlag, bawaannya pengen tidur terus, tapi kali itu sangat ekstrim: pulang jam 3 siang – tidur sampai jam 7 siang – mandi dan makan – tidur lagi sampai… jam 9 pagi. Bukan, bukan karena gue kebo, tapi rasanya pengen selimutan terus. Anehnya lagi di jam tidur yang super panjang ini, gue NGGAK PERNAH KEBANGUN sama sekali. Paginya, muka gue udah dipenuhi bentol-bentol merah berisi cairan kayak jerawat, tapi warnanya bening. Aneh. Gue cek badan gue, juga ada beberapa. Mungkin namanya firasat cewek yah, dengan cepat gue googling ‘cacar air’ dan seketika itu gue yakin gue korban.

Obat-obat yang dokter kasih masih gue hafal di luar kepala: Acyclovir tablet (dimakan 4 jam sekali dengan dosis 400mg per-konsumsi, 5 kali sehari, udah kayak makan permen), acyclovir salep, vitamin C dan Paracetamol.

Hari Pertama:

Meriang plus baper parah. Bawaannya nangis-nangis cuman gegara AC nggak adem, pengen mandi tapi masih demam, nggak nafsu makan, lemes dan segala derita dunia. Wajah, leher dan badan udah penuh sama bintik-bintik merah, beberapa dengan lenting berisi air. Terakhir, gue baca, ternyata meriang dan badan panas gerah ini juga salah satu efek samping dari acyclovir.

Hari Kedua & Ketiga:

Kepala nyut-nyutan, badan masih panas dingin tapi tetep butuh AC. Udah bisa nrimo makan nasi pake sayur sama abon. Ke teras aja nggak berani, takut diterpa angin. Hari-hari itu, pikiran gue cuman ramen, ramen, ramen, sambil mengamati badan gue yang masih bermunculan bentol-bentol baru.

Hari Keempat & Kelima:

Masa-masa kegelapan sudah berlalu, udah sehat bugar dan semangat, lenting-lenting berisi air menjadi sedikit lebih keruh (kekuningan) dengan pinggir yang kemerahan.

Hari Keenam sampai Hari Keduabelas:

Hari ke enam, gue kembali cek lagi ke dokter. Setelah melihat bekas luka cacar yang variatif, beberapa sudah berkeropeng, dokter akhirnya ngasih obat lagi (yes, baby, it’s your highness acyclovir again) dan kembalilah gue ngemut tuh ‘permen’ untuk tiga hari ke depan. Sisanya, tinggal menunggu para keropeng mengelotok dengan sendirinya. Kadang kalo lagi gemes atau kurang kerjaan, tangan gue suka gatel juga, sih.

Bagi teman-teman yang terkena cacar (atau orang sekitarnya lagi kena cacar), hari ke enam sampai ke dua belas ini adalah masa-masa penularan yang paling rawan. Jadi, plis jangan berasa sehat dan songong, karena kesian orang-orang sehat di sekitarnya bisa ketepa. Virus cacar di tubuh orang dewasa memang lebih ganas, bahkan mereka yang DULU UDAH PERNAH KENA CACAR BISA KENA LAGI.


SEMACAM KESAKSIAN DI MASA KENA CACAR AIR

cacar air 2

  • Plis ditelaah lagi mitos “cacar air jangan mandi”, karena rasanya merana banget. Apalagi dengan mitos “cacar air jangan keramas” YAOLOH. Sebenernya, mitos itu berlaku kalo kamu lagi demam atau nggak enak badan, di luar itu, mandilah demi kesehatan kulit dan jiwa raga. Jangan lupa tambahkan larutan PK atau Dettol antiseptik di air mandi.
  • Menurut mitos, beberapa makanan yang dilarang selama cacar air maupun masa penyembuhan: kecap, wijen, nanas dan timun. Gue pribadi menghindari makan kecap, mengurangi makanan yang digoreng dan makan lebih banyak makanan dengan antioksidan tinggi: sayur dan buah. Pola hidup sehat banget ya, bray. *mendadak kangen Shihlin* Gue juga menghindari seafood, telur, ayam broiler, sapi dan… well, no idea what to eat kecuali tahu tempe daging b*bi.
  • Adapula mitos “cacar air jangan kena angin” sebenernya gue masih nggak ngerti kenapa nggak boleh kena angin. Menurut pemikiran gue, mungkin ada hubungannya dengan penularan virus cacar air yang terjadi melalui udara dan pernafasan. Kalo kamu lagi kena cacar air dan terkena angin (which is kamu pasti lagi demam dan nggak enak badan), kamu akan lebih lama sembuhnya. Belum lagi, dengan keberadaanmu yang terekspos di jagad raya itu, kamu mengancam keselamatan jiwa banyak banget orang yang berinteraksi—langsung maupun tidak langsung denganmu. Ingat, penularan virus cacar air gampang banget melalui udara dan tidak bisa dideteksi langsung. Setelah seminggu atau dua minggu, barulah orang lain menyadari kalo dia sudah terjangkit.
  • Mitos yang nggak kalah tersohornya adalah “cacar air kalau digaruk akan meninggalkan bekas.” Nah, let me tell you the truth: cacar air pasti akan meninggalkan bekas, karena cacar air nggak ada bedanya sama luka. Bekasnya dalam bentuk warna kehitam-hitaman alias lebih gelap dari warna kulit sebenarnya. Bekas luka akan hilang seiring waktu, begitu juga dengan bekas cacar air. Semuanya tergantung dengan kondisi kulit masing-masing, biasanya sih 3-4 bulan kemudian, warna kulit sudah merata. Rajin-rajin pake perawatan (scrub, krim dan hindari sinar matahari berlebih). Beda kasusnya kalo cacar air masih seger banget dan dipecahin secara sengaja atau kegaruk, akan menimbulkan ceruk di wajah (bekas lukanya dalem) dan itu yang sulit banget dihilangkan. Jadi, plis dijaga baik-baik ya, para kesayangannya.

cacar air 3

  • Virus cacar orang dewasa itu ba-ha-ya. Terbukti, seluruh orang rumah gue berguguran terjangkit cacar air satu demi satu, dimulai dari Nyokap. Si Nyokap waktu kecil udah pernah kena cacar, karena kecapekan dan antibodi sedang menurun, jadi beliau kena lagi. Can you imagine how heartbreaking was it? And she’s not even prepared for this! Well, nobody did, kecuali adik gue. Adik gue akhirnya terjangkit cacar juga, sehari setelah Koko gue. Gue rasa, dia juga nyesel serumah sama gue. Hahaha.
  • Bentol-bentol cacar air yang muncul di wajah adalah penyebab kegalauan seluruh negeri. Rajin-rajin cuci muka (dengan penuh kehati-hatian, jangan sampe cacarnya pecah) dan olesin salep acyclovir supaya cacarnya cepat mengering. Di saat-saat begini, wajah jadi gampang minyakan dan komedoan, tapi untungnya langsung sembuh setelah dikasih toner (gue pake Laneige Power Essential Skin Refiner for Sensitive, wah dewa deh, ini bukan endorse loh ya, ahaha).
  • Gatal, gerah, panas, meriang, tepar terus, nggak nafsu makan, mencr*t atau feses berwarna putih, semua itu adalah efek dari obat acyclovir itu sendiri, jadi jangan kuatir nggak sembuh ya. Ini wajar banget, percayalah proses itu hanya berlangsung 3-5 hari aja.
  • Menurut dokter, cara kerja acyclovir adalah menahan perkembangbiakan virus cacar air, bukan membunuh virus itu. Setelah sembuh, virus cacar air akan mengendap di tulang belakang dan sewaktu-waktu bisa teraktivasi lagi—kalo antibodi sedang drop—menjadi cacar api / cacar ular. Jadi, vaksin is considerable lah, ya.
  • Ngomongin tentang antibodi, ini juga dikutip dari dokter, nggak ada parameter yang menunjukkan apakah antibodi kita sedang dalam kondisi prima atau sebaliknya. Antibodi bisa dijaga dengan tidur teratur, makan makanan bergizi dan mengandung banyak antioksidan. Kenapa orang yang lagi sakit cacar air mesti istirahat terus dan makan makanan sehat? Karena dengan beristirahat, akan mempercepat metabolisme tubuh dan nge-boost antibodi kita.

Sekiranya begitu yang bisa gue share, kalo ada pertanyaan bisa langsung komen di post ini, mungkin gue bisa bantu melalui pengalaman gue. Akhir kata, dengan mengalami cacar air bikin gue jadi lebih bersyukur dengan hal-hal kecil dan ‘merasakan’ hidup. Antusiasme dan melankolis dadakan ketika terkena sinar matahari (lagi), ketika menghirup aroma mall (setelah sekian lama di rumah terus), ketika dijenguk temen-temen (they mentioned they had chickenpox before), ketika akhirnya boleh minum kopi lagi—ini belom sih, ketika punya me time untuk baca novel dan tidur lebih sering. Kadang, begini juga kemewahan yang udah jarang didapat ketika kita dewasa. Bukankah begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *