Resensi Novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Ika Natassa, novel terbaru dengan judul The Architecture of Love. Novel ini ‘terbeli’ karena dua alasan: pertama, karena emang kepingin; kedua, karena gue ditawarin sama mas-mas penjaga Gramedia. Iseng, gue tanya sama Mas itu, kaget juga sih ternyata dia ikut Meet and Greet bareng Ika Natassa dan bahkan selalu baca novel-novel Ika Natassa. Well, gue emang nggak ngikutin #PollStory yang diadain Mbak Ika Natassa di Twitter, malah dengan begonya berasumsi bahwa The Architecture of Love ini adalah… lanjutan kisah Harris sama Keara dari Antologi Rasa. Hahaha! Suer, gue pernah melihat scene tulisan yang di salah satu postingan Mbak Ika, deh. #tetepngotot.

Intinya, resensi novel ini… ditulis biar yang belom baca jadi mupeng! Hehehe!

Secara keseluruhan, novel The Architecture of Love ini adalah #LifeGoal dari para wanita kekinian yang hidup di kota metropolitan. Memang sudah field of expertise dari Mbak Ika Natassa untuk mengangkat sosok seperti Raia Risjad, sih. Raia digambarkan sebagai penulis best seller, yang sebenernya punya hidup yang instagramable banget, sedang sweet escape ala-ala di New York, tapi sayangnya mengalami writer’s block. Karena ide nggak kunjung datang, kerjaan Raia setiap hari adalah ngider-ngiderin tempat di New York. Enaknya lagi, dia nggak perlu bayar uang sewa apartemen, hidup ‘berkecukupan’ plus digambarkan cakep mampus, fashionable dan suka pake lipstik merah cetar. Berbeda banget kan, sama pandangan orang pada umumnya, bahwa penulis adalah nerd. Yang baca ini awal-awal pasti bete deh, udah lagi seseruan begitu, eh Raia malah menarik diri dari party yang diadakan sohibnya dan merasa ‘tidak nyaman dengan suasana ramai’ seperti itu.

Tapi, tindakan Raia ini malah bikin dia jadi menemukan sosok yang juga sedang menepi dalam gelap, yang akhirnya diketahui bernama Bapak Sungai. River. Lalu? Persislah seperti film-film romance ala Amrik yang so sweet dan bikin gregetan. Mereka sering pergi bareng, bertukar pikiran dan… cinta muncul dari ketertarikan, memang, pada awalnya. Lama-lama, mereka jadi terbiasa bercerita apa saja, yang kebanyakan merupakan hal-hal nggak penting, sampai-sampai mereka jadi segan dan tidak mengorek hal-hal yang esensial, contohnya: “Lo sebenernya lagi jomblo, nggak?”, “Kok di New York terus, nggak balik ke Jakarta?”, “Apa rencana hidup lo ke depannya?” de-el-el, de-el-el. Malahan, Raia dan River ini saling mendapat informasi esensial itu dari stalking socmed yang nggak update-update banget. Kekinian banget, kan?

Seberapa jauh kau mengenal orang yang sedang kau habiskan waktu bersama?

Satu-satunya hal yang bikin gue stay awake baca novel ini adalah, gue pengen tau alasannya. Alasan, memang jadi daya tarik luar biasa dalam plot. Apa alasan Raia sampe melipir lama ke New York? Apa alasan suami Raia minta cerai hanya karena kisah cinta mereka jadi inspirasi Raia dalam menulis? Pede banget lagian ya, si suami Raia ini. #jadisewot. Apa pula alasan River nggak pengen balik ke Jakarta, padahal udah jadi youngpreneur sukses? Oh ya, kenapa pula sih River suka pake kaos kaki warna ijo? Bagaimana pula cara River… membunuh istrinya sendiri?

“You have to stop doing this to yourself, Ya.”

“Doing what?”

“Searching for answers.”

“There’s nothing wrong in wanting an answer, right? Rin?”

Walaupun akhirnya hanya berhenti di ‘Oh’ yang biasa-biasa aja, but the story keeps me up. Ini pula yang jadi salah satu pesan sponsor novel ini: kalo kamu terus-terusan nyari jawaban, nyari alasan, kamu nggak bakalan bisa melihat masa depan kamu. Siapapun orang yang bakal jadi masa depannya kamu. Bicara tentang isi novel, siapa sih lagian yang enggak kepayang dengan cara penuturan Ika Natassa yang nyablak, detil sekaligus filosofis dan berbobot? Tentang setiap sudut kota New York—di mana yang baca bisa tiba-tiba ketarik ke salah satu coffee shop sambil mengamati si ganteng River lagi ngelukis, pacaran ngobrol-ngobrol di Perpustakaan dan Whispering Gallery, jalanan dan stasiun kereta, makan dessert pake acara Tom Hardy lewat, godaan-godaan yang bikin baper, hadeeeeh… sukses!

Ika Natassa selalu bisa menulis novel dengan konten yang brilian, bayangkan saja dalam The Architecture of Love ini, ada pembahasan mulai dari mitologi Yunani, psikologi karakter, segala nama bangunan beserta sejarahnya, sampai aplikasi pencari jodoh Tinder, pesan makanan lewat aplikasi sejenis Go-Food dan… tentu saja, aplikasi taksi online Uber. Woohoo. Sukak deh!

Sukak nya juga jadi bertambah karena… tokoh utamanya adalah Penulis! Curhat dikit ah, dulunya gue suka sebel sama orang-orang yang begitu tau gue suka nulis, basa-basinya jadi begini, “Mau dong kisah cinta gue ditulisin jadi satu novel.” lalu berakhir dengan curhat panjang lebar. Ada juga yang beranggapan, “Jangan pernah menyakiti hati seorang penulis karena kau akan abadi di karyanya.” Well, this one… I can hardly say, nggak usah jauh-jauh sampe bicara hati, karena semua jenis interaksi dengan penulis—yang menarik—bakalan jadi sumber inspirasi, deh. Nah, nggak jauh-jauh juga dari inspirasi, gue sering juga nemu orang yang nanyain tentang cari inspirasi di mana, penulis kan royaltinya banyak, kok kerjanya bengong terus, dan nggak ada habis-habisnya. Jadi ya begitulah, ketika baca The Architecture of Love jadi seringan ngangguk-ngangguk seru, sekaligus ngarep bisa ketemu arsitek setaraf Hamish Daud. *I read the ucapan terima kasih part, uye.

Kenapa lagu ini? *Montauk scene as Ika Natassa describes in her twitter!

Overall, jujur nih ya, gue masih belom bisa move on dari Antologi Rasait is the best one I’ve ever read from Ika Natassa. Dan rasa kangen itu terjawab dengan adegan resepsi Harris-Keara yang muncul sebagai cameo (which is also happened in Critical Eleven). Mungkin, kalo dari segi umur dan pengalaman hidup, Antologi Rasa ini masih ada di spektrum umur gue kali, ya. Sementara karya-karya Ika Natassa sudah ‘jadi dewasa’ dan merambah dunia pernikahan, gue yang baca jadi berasa nggak begitu ‘bunyi’, nggak bikin baper. Heheehe. Dan akan lebih baik lagi, kalau Ika Natassa bisa ‘melampirkan’ salah satu cerpen Raia Risjad di TAOL, so we can really feel it, gimana sih isi cerpen terakhir yang dikirim ke editor Raia? I mean, inspirasi apa yang ia dapetin abis ketemu sama River di Jakarta? Penasaran, deh.

1 thought on “Resensi Novel The Architecture of Love – Ika Natassa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *