Warna dari Monokrom Tulus

“Apapun yang dikerjakan dengan hati, pasti akan ada hati yang mendengarkan.”

Tahun lalu, Tulus hanyalah sekedar penyanyi baru yang booming lewat Sepatu. Gara-gara dapet tiket gretong, gue sengaja ‘mempelajari’ seluruh isi album lama, biar kalo diajak nyanyi bareng-bareng enggak kagok. Tulus terkesan seperti Raisa versi cowok, kesan pertama gue waktu menyaksikan private concert Tulus: ini gajah yang ramah. Gue… suuuuuuuka!

Namun di balik itu, gue beneran jatuh cinta dengan isi lagu-lagunya. Bermakna dan dalam. Membuat remuk hati, sekaligus meredakan kecamuk. Seolah-olah mengajak bicara hati terdalam, mencicipi getir dan petir; merayakan cinta-cinta dan cita-cita; menyentil ulu hati dengan cerdas.

Hadirnya Monokrom cukup mengobati kangen, karena Pamit semata tidak cukup ‘nyaring’ buat gue. Vokal Tulus juga terdengar matang dan dewasa di album ini. Tulus tak hanya melulu tentang lagu cinta, tapi juga membakar semangat dan percaya diri dengan caranya yang unik: memaksimalkan potensi yang kita punya (mulai dari Gajah, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Kita Bisa, Bunga Tidur, hingga Manusia Kuat, Mahakarya, Lekas dan Monokrom di album baru). Mumpung masih dalam rangka tergila-gila, gue kepingin share beberapa lagu dari Monokrom yang berhasil memberi warna dalam hari dan hati:

Ps: You can simply click on the title for listening.

Manusia Kuat

Kalau Olimpiade ternyata dilaksanakan di Indonesia, pada setuju dong kalo lagu ini cocok banget sebagai theme song? Lagu ini juga yang memberi tepukan di pundak untuk tetep pada ‘jalan yang bener’ dan nggak perlu risau akan hal remeh-temeh yang berusaha merusak cara pikir lo. “Tidak satupun culasmu akan bawa bahaya.”

Patah kaki, tangan, rebut senyum, hitamkan putih, semua jahat yang didefinisikan di lagu ini dihantam habis-habisan oleh Manusia Kuat: kokoh pada mimpi; yakin bahwa diri sendiri punya ‘obat’ paling mujarab.

**

Tergila-gila

Lagu ini ‘bumbu’ banget, bikin senyam-senyum sendiri. Emang sih, jatuh cinta udah bukan hal yang baru lagi. Ini bukan yang pertama, tapi ini paling menarik. Di sesi jatuh cinta ini, fase ‘tarik ulur’ dinyanyikan dengan manis dan bikin gregetan. I was wondering siapa sih yang Tulus pikirin waktu tulis lagu ini? Pasti mirip gue should be a very lucky girl.

**

Ruang Sendiri

Nah, tema ‘mencari ruang untuk me time’ memang jarang digaungkan di lagu-lagu Indonesia. Proses cinta seringkali diceritain dari segi jatuh cinta, patah hati, jomblo atau diduain. Menceritakan ruang, menghargai sepi, memberikan kesempatan agar rindu bisa tumbuh… lagu tentang menghargai hubungan buat gue sih cukup unik. Ku butuh tahu, seberapa ku butuh kamu. Oke, oke, gue emang demen sama lagu ini gara-gara sering muncul di Spotify juga, enak aja di kuping.

**

Langit Abu-Abu

Welcome, kegalauan! Gue suka cara Tulus membawakan lagu patah hati, nggak pernah mendayu-dayu minta dikasihani, tapi menyayat hati. Dan suaranya, tetep aja terdengar ‘ringan’ tapi entah kenapa bikin pilu. Tentang disia-siakan, tentang cinta yang tak terbalas dengan layak. Tentang pertanyaan yang masih menggantung dan perasaan yang selesai dalam keruh.

Di lengangnya malam menuju minggu, kau di mana, kau di mana?

**

Tukar Jiwa

Sudut pandang tiap orang itu berbeda. Kadang susah juga kalo mau dijelasin. Lain kali, kalo Bebeb nanya, “Kenapa sih kamu bisa suka sama aku?” Udah, udah, nggak usah dijawab, pertanyaan ini nggak bakal ada habisnya! Sodorin earphone aja ke si doi, niscaya eargasm. Lagunya cukup catchy, walaupun lirik sering berulang, tapi convincing.

Coba sehari saja kau jadi diriku, kau akan mengerti bagaimana kumelihatmu, mengagumimu, menyayangimu.

**

Mahakarya

Gue selalu percaya kalo karya adalah energi. Penulis, walopun udah mangkat, tetap akan ada yang baca tulisan si penulis. Pelukis, walopun udah mangkat, tetap akan ada yang menikmati lukisan si pelukis. Nah, lagu ini seakan merupakan terjemahan dari pemikiran itu. Bukan cuma tentang karya aja, tapi semua kerjaan yang kita lakukan, berikanlah hati lo. When you put your heart in your works, the energy will always be there. Jadi, karya lo akan ada nyawanya. Bukankah itu indah banget?

Aku bisa rasakan ia bisa rasakan semua bisa rasakan, biarkan hati terus bicara.

**

Tulus_concert

Tulus, 2015.

“Apapun yang dikerjakan dengan hati, pasti akan ada hati yang mendengarkan.”

Kata-kata ini, masih sering terngiang di kepala gue, tak jarang jadi benchmark gue dalam berkarya pula. Terima kasih banyak ya, Bang Tulus, sudah menyentuh begitu banyak hati dengan hatimu. I truly appreciate.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *