Janji Temu Minum Kopi

“Sehitam neraka, sekuat kematian dan semanis cinta.”

Kalau bukan karena kata-kata Mama ini, tidak akan mau Putri menyambangi coffee shop seumur hidupnya. Sudah terlalu rutin ia menunaikan kopi darat bersama spesies bernama lelaki, minum kopi sampai-sampai asamnya mengikis lambung, dokter bilang ada gejala maag, gejala mati rasa di hatinya. “Ah, pasti itu alasan kamu saja, kan?” Mama malah tidak percaya. Satu-satunya hal yang Mama percayai hanyalah, jam biologis putrinya sudah hampir meledak, Putri seharusnya mengerti apa yang mesti dilakukan.

Kopi1


Kedai kopi Filantropi. 16:11

Orang bilang, kalau jodoh tak ke mana. Makanya, Putri akan selalu ada di kedai kopi, tidak akan ke mana-mana, karena ia percaya bahwa ia-lah jodoh tersebut. Lagi-lagi, ia melirik arloji, sambil mendengus ia membetulkan letak poninya yang sudah asimetris lagi. Nafas Putri semakin lama semakin sesak, belakangan ia memang sensitif terhadap waktu, setiap detik seakan pintu neraka terbuka. Betul sekali kata Mama, sehitam neraka, sekuat kematian dan semanis cinta. Itulah kopi. Diliriknya lagi arlojinya, angka di tengah arloji analog-nya menunjukkan tanggal 14 Agustus 2016. Aduh, 2016. Benar-benar sekuat kematian. Sambil memejamkan mata, diusap-usapnya keningnya, sedikit berhati-hati agar riasannya tidak luntur dan memperjelas keriputnya.

“Selamat sore, Putri.” suara berat seseorang membuatnya mendongak. Ada lega yang menyeruak di hatinya, akhirnya datang juga orang yang ia risaukan ini.

“Gue pikir lo nggak akan datang,” namun ucapan itu segera ia tepis jauh-jauh, “Tumben manggil gue Putri.” jawab Putri singkat.

Yang diledek hanya tersenyum tipis lalu duduk di hadapan Putri, “Macet banget, gilak. Gue udah hampir puter arah, terus ngabarin lo buat atur waktu lagi.” Masih berkemeja biru muda yang dikancing sampai bikin leher sesak, masih juga dengan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat super nerdy, sekaligus super edgy.

“Tuh, kan, bener!” gumam Putri lagi, ia tepis juga jauh-jauh, “Terus kenapa dateng?” Putri bersedekap, mukanya masih sebal. Ia sebal dengan orang yang tidak tepat waktu. Bukan, bukan, ia sebal dengan waktu.

“Karenaaaa.. ada yang akan stop ngerayain ulang tahun lagi kalau udah 30 tahun. Happy last birthday, Putri Retania!” Oscar menjulurkan tangan dengan gaya bak tukang salon, gemulai yang sedikit lebai.

“Berapa kali harus gue ingetin, Oscar Walter? Ulang tahun gue itu besok, bukan hari ini.” Putri melotot. Kalau saja di depannya ini bukan Oscar, mungkin Putri sudah menyiram mukanya dengan kopi. Membahas tanggal ulangtahun dengan wanita adalah hal yang sensitif, apalagi kalau sudah di usia-usia seperti ini. Rawan.

“Yaaaa… siapa suruh besok mesti ke Bandara pagi-pagi.” Oscar mengedikkan bahunya, menarik kembali tangannya dari udara kosong.

“Titah ibu negara, O. Gue bisa apa.” ujar Putri kembali murung lagi.

“Ibu negara sudah pengen nimang cucu, ya?” tanya Oscar. Ini sebenarnya pertanyaan retorik, Oscar sudah tahu jawabannya. Ibu Negara, alias mama Putri bahkan rela mengawinkan putri semata wayangnya dengan Om Panji, tetangga mereka di kampung yang sejak tahun lalu sudah menduda. “Pukpuk Pupu. Seenggaknya ngerasain rasanya kawin, ya?” Oscar tidak dapat menahan dirinya untuk meledek sahabatnya ini, lucu banget sih.

“Mending kawin sama elo, deh, daripada sama si duda.” jawab Putri, wajahnya masih melamun nanar. Tubuhnya ditopangkan ke sandaran sofa yang empuk.

Kontan saja Oscar langsung protes, “Hah? Lelaki seperti gue dibanding-bandingkan dengan si duda? Mending lo gantung gue deh, di pohon mangga depan rumah lo!”

Lalu, pembicaraan mereka melebar ke pohon mangga depan rumah Putri yang mereka tanam bersama ketika lulus SMP. Pohon itu mereka namai Gayo, persis setelah meminum kopi aceh gayo bikinan Papa Putri. Itu adalah kali pertama Oscar mencicipi kopi dan langsung jatuh cinta. Ia sampai merengek-rengek hingga menangis, hanya untuk menanam biji kopi supaya nanti ia bisa terus-terusan minum kopi lagi.

“Terus, instead of nanem kopi, kita malah disuruh Ibu Negara nanem pohon mangga,” Putri geleng-geleng, “Lo inget nggak, waktu itu kita ngobrolin apa?” Pertanyaan Putri menciptakan jeda sejenak, Oscar tampak berpikir keras, sementara Putri melempar pandangannya, menyapu interior di sekelilingnya dengan canggung. Setidaknya, kafe ini memang sesuai untuk memulai perbincangan seperti ini.

“AH IYA! Kita bikin janji temu minum kopi bareng setiap tahun!” Oscar menepukkan tangannya, seakan menemukan aha moment-nya. “Tepat setelah Bapak Negara berceramah panjang lebar tentang perjalanan biji kopi sampe jadi minuman, sejak itu kita jadi lebih appreciate the little things, kan? Gue inget waktu itu lo sampe mewek, terharu—” Oscar tiba-tiba berhenti di tengah penjelasannya, ditatapnya Putri yang menyimak sambil menaikkan alisnya. “—Oh my.. Pupu, lo nggak beneran, kan? Jangan bilang lo masih inget…” nafas Oscar tertahan. Ia menatap Putri tak percaya, senyumnya terasa sedikit kaku, semua ini memang sudah terlalu lama. Benar-benar sudah basi.

“Kalo lo bisa nanya gue masih inget apa enggak, that’s mean lo juga inget,” simpul Putri sambil tersipu, “look, i know this is silly, but…” nafas Putri juga tercekat. Apa-apaan ini?! Bahkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun, tidak pernah terlintas sosok Oscar menjadi kekasihnya. Apalagi…di pelaminan!

“Hayo, apa hayo yang lo inget?” tantang Oscar sambil berdeham, dilipatnya kedua tangan di dada, menunggu jawaban Putri.

“Mmm.. Di janji temu minum kopi, kalo umur gue udah 30, lo bakal bertanggungjawab kawinin gue, nggak peduli lo udah punya istri atau belom.” suara Putri mengecil, tidak ada yang boleh mendengar pembicaraan memalukan seperti ini.

“ENAK AJA!” tepis Oscar, “Di janji temu minum kopi, kalo umur lo udah 30, lo bakal menyerahkan diri ke gue, itu pun kalo gue bersedia dan kalo gue belom punya bini. Gitu, kali. Lo nih udah mulai tua, ingatan udah mulai terganggu…”

“Bukkk!”

Wajah Oscar disambit dengan gula pasir sachet, Putri di hadapannya menatapnya datar, bibirnya yang dipulas gincu merah pekat itu bergerak pelan, tak bersuara, seraya terlihat mengucapkan “kampret.”

Oscar mengelusnya wajahnya sendiri sambil tertawa kecil, menyesali dirinya yang mau-maunya menjalin persahabatan cukup lama dengan wanita berkelakuan barbar ini.”Hmm… kalo dirujuk dari ceramah Bapak Negara, jadi kopi sudah ditahap fermentasi dan dikemas dengan baik, siap diseduh?” pancing Oscar, mimiknya jelas sedang menggoda Putri.

Putri memberengut. Fermentasi? Pikirannya langsung terbayang anggur, tempe, tape… argh, semuanya bau dan basi. “Suka-suka lo, deh!” jawab Putri kesal.

“Kalo kita kapan kawin? Suka-suka gue juga?” Oscar semakin rese.


SMA Permata Harapan. 04:55

Hanya terdengar derap kaki dari sepatu barunya sendiri, Putri terengah-engah begitu sampai di depan gerbang sekolahnya. Dalam hatinya, ia merutuk Papanya yang menyeduh kopi dan membuatnya ikut-ikutan minum kopi, hingga akhirnya Putri insomnia dan malah menemani Papanya menonton pertandingan bola. Telat. Sudah pasti ia telat. Bulu kuduk Putri berdiri begitu mengingat rumor kakak senior galak dan rentetan hukuman yang sudah pasti akan ia terima.

“Woi! Baru dateng?” sebuah tepukan keras mendarat di pundak Putri. Di depannya, tampak Oscar yang cengengesan dengan seragam putih abu-abu. Membawa kantong kresek hitam besar dan bersiap-siap menuju barisan.

“Aduh! Gue lupa bawa kantong kresek!” Putri menepuk jidatnya. Mampuslah dia, sudah telat, lupa bawa alat, pasti jadi dadar gulung, nih. “O!” panggilnya sebelum Oscar semakin jauh.

Oscar menoleh, lalu berlari mendekat lagi, “Kenapa, sih? Buruan! Telat, lho.” Oscar menatap Putri was-was.

“Gu… gue… lupa bawa kantong kresek… tolongin gue…” kata Putri pelan.

“Mampus looo, Poo-poo!” ledek Oscar cekikikan, “Makanya otak jangan di dengkul, perintah tuh dicatet! Gue duluan ah, bweeee…” sambil menjulurkan lidahnya, Oscar berlari menjauh sambil melambai-lambaikan kantong kresek hitamnya dengan dramatis, persis seperti pemenang Olimpiade.

Satu jam kemudian, Putri berdiri di lapangan, di bawah tiang bendera dengan sikap hormat, tak boleh bergerak. Di sampingnya, Oscar juga melakukan tindakan yang sama. Hanya mereka berdua. Kantong kresek besar warna merah, begitu instruksi kakak senior yang sebenarnya. Putri tidak bisa menahan dirinya untuk balas meledek Oscar, “Makanya! Nyatet tuh jangan di dengkul! Bweee!” dan mereka pun bersilat lidah lagi, menyebabkan durasi hukuman diperpanjang. Dua jam. Dua anak di hari pertama SMA. Lapangan upacara yang dingin hingga terpanggang terik mentari pagi.

Sampai mereka naik kelas, Putri dan Oscar masih sering diolok-olok sebagai pasangan kantong kresek. Ah, pasangan? Perjalanan kopi masih panjang, kopi bahkan belum matang, belum siap dipetik. Belum pada kualitas terbaiknya. Pasangan? Mereka masih terlalu bodoh untuk mengerti apa yang mereka rasakan. Sinyal-sinyal tak akan pernah tertangkap, karena di jaman itu, device mereka masih kurang canggih.


Universitas Pelita Bangsa. 01:44

“Pokoknya, lo janji nggak bakalan ninggalin gue!” teriakan Oscar melebihi debum musik di night club. Putri menarik tangan Oscar sekuat tenaga, berusaha membawanya ke luar ruangan. Ia tahu betul sahabatnya ini memang selalu penasaran dengan segala jenis minuman, mulai dari kandungan kafein sampai alkohol, tapi ini pertama kalinya Oscar mabuk. Kelakuan Oscar memang sulit dikontrol ketika ia merantau untuk kuliah, rasa penasarannya membuncah, kadang merepotkan orang sekitarnya, terutama Putri yang malam itu lebih mirip pengasuhnya daripada sahabatnya. Cemen sekali si Oscar, penampilannya setelah mabuk berat ternyata hanya menangis kejer, menjilati ingusnya sendiri sambil mengumpati pacarnya yang selingkuh dengan teman satu warnetnya.

Rekaman adegan Oscar mabuk ini kemudian menjadi senjata Putri untuk menyuruh-nyuruh Oscar melakukan hal yang paling membosankan: fotokopi. Mulai dari fotokopi catatan kuliah, fotokopi jadwal ujian, fotokopi draft skripsi sampai fotokopi ijazah.

 “Kenapa sih, lo selalu memperalat gue buat fotokopi?! Cita-cita gue itu jadi insinyur, paling mentok jadi tukang bikin kopi, bukan jadi tukang fotokopi!” protes Oscar, kekesalannya memuncak juga setelah disuruh fotokopi ijazah. Dalam empat tahun, Oscar bisa menghitung berapa puluh menit per-hari yang ia buang untuk menjadi suruhan Putri. Hanya gara-gara rekaman sialan itu! Sejak itu, Oscar tidak pernah minum-minum lagi, ia trauma. Cukup kopi saja yang ia minum, supaya tetap terjaga main game di warnet sampai subuh.

“Yaaa… supaya gue bisa tongkrongin bangku lo di warnet. Ini semua demi kebaikan lo juga, biar nggak kelamaan maen game.” Putri memulai ceramahnya sambil sewot, gayanya persis seperti emak-emak.

 “Halah, ngaku aja biar bisa deket sama si Yoyo!” balas Oscar tak kalah sewot.

 “Ih, apaan sih! Gue sama Yoyo tuh ngg.. nggak ada apa-apa!” Putri mulai salting.

“Kalo gitu, sama Albert? Atau si Brandon?” pancing Oscar yang makin penasaran.

“Iiiih! Sembarangan! Lo bilang Wella selingkuh, tapi lo juga deket sama… siapa tuh namanya, cewek yang sering lo ajak maen game bareng? Ollin?” balas Putri tak mau kalah.

Memilih, mengambil keputusan untuk menerima cowok dalam kehidupan Putri adalah hal yang sulit, sehingga Putri memilih untuk menghindar. Memilih untuk serius dengan satu cewek pun adalah hal yang sulit bagi Oscar yang waktunya tandas di warnet dan kelas. Seperti halnya buah kopi yang matang telah dipanen, kopi akan diseleksi untuk mendapatkan kualitas terbaik. Mereka juga menghabiskan waktu untuk bertemu lawan jenis yang berkualitas.

Namun, lama setelahnya, Putri baru tersadar, Oscar tidak pernah pacaran dengan cewek yang pergi ke warnet. Ucapannya ketika mabuk itu… janji nggak bakalan ninggalin gue… apakah ditujukan untuk Putri? Sinyal-sinyal lambat tertangkap, lalu hilang entah ke mana, hanya karena mereka tak berada di gelombang yang sama.


Terrarium Office Tower. 14. 22

“Hai, insinyur!” sapa Putri sambil meletakkan cappuccino-nya di atas meja, “Coffee shop ini penyelamat banget ya, biar lemburan lebih joss. Hahaha!”

No more lemburan, darling!” Oscar berjoget-joget kecil, “Gue bakal dipindahtugaskan ke Bangkok mulai bulan depaaan…”

Putri mengernyit kaget. Seingatnya, Oscar baru saja dipindahkan oleh perusahaannya ke kantor cabang terbaru di Jakarta. Baru saja beberapa bulan yang lalu Oscar bekerja di Terrarium, dan sekarang akan pindah lagi? Sejak memasuki dunia kerja, frekuensi pertemuan mereka menyusut menjadi beberapa bulan sekali. ‘Beberapa’ ini memang terkesan random, tak jarang pula batal karena salah satu dari mereka mendapat kegiatan dadakan. Putri yang mendadak dapat tawaran endorsement; Oscar yang mendadak harus memperbaiki maket di kantor cabang Bogor. Putri yang mendadak harus menjemput Mama ke Bandara; Oscar yang mendadak harus menghadiri launching apartemen terbaru menggantikan teman sejawatnya. Begitu banyak mendadak yang akhirnya menjadi kebiasaan.

“Ke Bangkok berapa lama?” Suara Putri entah kenapa tercekat.

Satu kedikan bahu dari Oscar saja, Putri sudah paham. Bagaimanapun, profesi Oscar hanyalah pesuruh di kantornya, berbeda dengan blogger independen seperti dirinya. Entah kenapa, ada ruang hampa yang seketika menguar dalam hati Putri, makin lama makin luas. Ruang hampa ini seakan enggan diisi dengan apapun, terselip di antara tontonan bioskop, treadmill yang menggulung di minggu pagi, makanan enak, kerikil di gunung, obrolan bersama komunitas, apapun… apapun aktivitas Putri. Hari-hari Putri perlahan mengering, walaupun ia akhirnya bisa membuat keputusan, tentang siapa yang berkualitas untuk mengisi hidupnya. Layaknya biji kopi berkualitas yang menjadi pilihan, yang setelah kering akan dikemas, siap menuju kedai kopi atau siapa saja yang hendak membeli.

“Hei, O. Gue mau tunangan, lo balik ke Jakarta, nggak?” Putri meninggalkan pesan di kotak suara. Rindu ini hampir membuatnya gila, Putri ingin menciptakan keajaiban yang bisa membawa pulang Oscar lagi. Membawa pulang persahabatan mereka. Dua hari kemudian, balasan baru datang dalam bentuk ucapan selamat dan maaf. Selamat akhirnya laku juga; maaf karena belum bisa pulang.

Tidak, O. Biji kopi dalam kemasan ini belum laku, namun Putri nekat menyangrainya. Hingga akhirnya gosong. Suhu yang terlalu tinggi tidak baik untuk biji kopi berkualitas; gelegak kecewa dalam hati Putri cukup untuk membuat hari-harinya suram. Namun, pertanyaan ini selalu menghantui Putri, apakah Oscar sudah lupa padanya? Perjalanan biji kopi, akankah selesai pada biji kopi yang gosong, lalu menghuni tempat sampah? Ah, jangan. Sebaiknya, biji kopi yang gosong, tetap digiling dan diseduh saja. Perkara minuman ini akankah tetap dinikmati, di luar kuasa Putri.

“Gue bohong, O. Gue… cuma butuh ngobrol panjang lebar sama lo.” Putri di kotak suara. Hampir saja ia mematikan teleponnya, tapi akhirnya ia meneruskan lagi, “Kangen, O. Filantropi, ya. Jam empat. Kapan aja lo sempat.”

Pekatnya kopi hanya sebatas membuat ngilu; pekatnya rindu akan membunuh. Putri pelan-pelan mengerti, bahwa selama ini ia memang buta. Apakah ada jalan, untuk kita pulang?


Kedai Kopi Filantropi, 16.55

Putri menatap Oscar, ada urgensi yang terselip di antara matanya. Diraihnya cangkir yang baru saja disajikan barista untuk Oscar, lalu diteguknya isi cangkir itu dalam satu tarikan nafas, tampak berkumur sejenak sebelum menelannya. Di depannya, Oscar tampak tercengang, masih mencerna kata-kata Putri yang terlalu filosofis. Apa tadi? Kisah persahabatan mereka seperti perjalanan biji kopi? Mulai dari tingkat kematangan, seleksi, pengolahan, pengemasan, penyangraian… yang ternyata menjadi gosong, namun nekat Putri seduh?

It’s always been the same, O. Pesanan kopi lo, aceh gayo, manual brew.” Ada senyum terkulum di bibir Putri. Perasaan ini aneh, jantungnya berdebar-debar namun rasanya lega sekali, ini adalah kopi daratnya yang terakhir. Padahal, Putri tidak perlu berkopi darat ria untuk menemukan sosok ini; namun kalau bukan karena kopi darat, ia pun tak akan menemukan sosok ini.

Oscar mengambil cappuccino yang ada di hadapan Putri, memasang ekspresi pura-pura tak tahu sambil menyeruput pelan-pelan. Kopi, selama ini selalu menjadi minuman yang membuatnya terjaga dan sadar, namun butuh berapa cangkir lagi agar betul-betul tersadarkan? “Yes, Pupu. It’s always been the same.” gumam Oscar dalam hatinya. Ia berdeham, “YES! Tebakan lo bener! Beliin tiket pesawat lah, gue mau ngopi bareng sama Bapak Negara.” ujar Oscar ringan sambil mengerling nakal.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Putri hanyalah menyambit wajah Oscar dengan beberapa sachet gula pasir lagi, sambil berkata tanpa suara, “Yes, I do.

Kopi4

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory 

Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

0 thoughts on “Janji Temu Minum Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *