Review: Pokemon Go Indonesia Versi Puitis!

Ibukota. Semua manusia tersihir oleh gadget. Lebih akut daripada sekedar stalking social media mantan. Gadget dipegang erat-erat—walaupun bukan balonku ada lima, selalu dibawa pada saat dibonceng motor, duduk di dalam mobil, bahkan ketika sedang berjalan (dengan kecepatan super slow motion) dan mendadak berhenti ketika ada kembang-kembang warna merah jambu yang nge-lure. Apakah sebetulnya, lure itu dipasang bukan untuk mengundang Pokemon, tapi untuk mengundang para manusia ini?! Ah, mulai random. Intinya, saya sedang membicarakan saya sendiri semua orang yang tergila-gila dengan mainan baru, di install di hampir segala jenis handphone kecuali ASUS: Pokemon Go

Berjuta-juta behaviour yang bisa diamati semenjak mainan ini muncul di muka bumi. Yang jelas, Pokemon Go bukan sekedar mainan-sekali-pake-buang. Saya yang notabene-nya jarang main game pun membikin diri sendiri jadi autis. Saya yakin, banyak kok orang-orang seperti saya. Dan game ini, adalah tentang banyak hal.

Tentang Nostalgia.

“Gotta catch ’em all”

Well, generasi 90’an pasti akrab dengan tagline ini, ya? Waktu saya kecil, saya sama sekali nggak ngerti maksudnya apa. Oh, ternyata nangkep monster, toh. Nama-nama monster ini bahkan hafal di luar kepala, sering ikut dalam permainan lompat tali: “Sebutkan nama-nama pokemon!” (terus loncat). Charmeleon si cicak berapi, Bulbasaur si punggung bawang, Squirtle dan Clefairy yang jadi favorit karena unyu-unyu, dan tentu saja Pikachu! Oh ya, dan pula Meowth si antagonis. Nah, nama-nama ini bisa diingat dengan mudah, karena selalu muncul sebagai stiker hadiah lollipop dengan gula pasir halus (apa namanya? Cup Cup? Oemji!), sering pula  jadi objek omelan Nyokap kebanyakan jajan permen. Gigi bolong.

Masih permainan lompat tali (alias yeye) yang diteruskan dengan “Sebutkan nama-nama Digimon!” Ah, kangennya! Kini, impian masa kecil untuk ‘memelihara’ Pokemon akhirnya menjadi ‘nyata.’ Dahulu, cara saya memelihara Pokemon adalah merengek ke Nyokap minta dibeliin boneka Pikachu, yang akhirnya dikabulkan waktu saya demam nggak masuk sekolah. Sekarang, saya baru  tersadar bahwa… itu bukan boneka Pikachu, melainkan Raichu (Pikachu setelah evolve). Semalam, seorang bocah SMP bertanya, “Oh, jadi bukan cuma kami yang main, ya? Temen kantor cici juga pada main?”

EH, KAMU. BELOM BROJOL AJA KITA UDAH TAU POKEMON, KELEUS. *nggak nyante* *kibas rambut*

Pokemon Go adalah mesin waktu di waktu yang tepat. Ia membuka gerbang menuju masa kanak-kanak yang ingin kita cicipi sekali lagi, dengan senang hati.

Tentang Kepekaan

Loading Page Pokemon

“Remember to be alert at all times. Stay aware of your surroundings.”

Begitu banyak kejutan yang bisa hadir di sekitar kita, entah dari suku Rattata atau Duduo yang nyebelin saking banyaknya, atau spesies langka seperti Ponyta atau Tentacool—well, tergantung dari tempat hunting-nya juga, sih. Dan, sadarkah kamu kalau Pokestop hanya akan ada di tempat tertentu, seperti Masjid / Mushola, Tugu / Patung, Air Mancur, Lukisan dan Gedung? 

Peka, tidak hanya demi Pokestop, namun juga perasaan si dia. #eh

Maksudnya, peka ke setiap orang di sekitar. Siapa tahu, kita bisa bantu dia move on.

Tentang Perkenalan

Pemandangan epik bisa ditangkap di mana ada lure. Yes, ini penampakan di depan gedung APL Central Park, tidak pernah seramai ini!

Tampak depan.

Tampak belakang.

Konon, penampakan ini lebih epik di waktu malam minggu. Benar-benar prospek yang cerah ya, untuk para jones kita semua? Lumayan buat gebet yang cakep tambah temen yang satu hobi, secara semua manusia tampaknya punya ‘hobi’ yang serupa sekarang, setidaknya untuk beberapa bulan mendatang.

Menarik bila ditilik, ketika sapaan “hello” bisa berwujud dalam rupa menarik, “Ternyata kamu juga main Pokemon, ya?” Ternyata kita, hidup di dunia yang sama.

 

Tentang Diri Sendiri

Seringkali ada yang berkata, “Jangan main game, nanti jadi ketagihan dan nggak bisa lepas.” 

Super kagum dengan orang-orang yang rela merogoh koceknya demi item-item dari game yang jelas-jelas adalah fana; jelas-jelas tak bisa disentuh, namun bisa begitu dicandu. Tidak ada yang bisa disalahkan, karena membeli item game pun tak beda dengan membeli sepatu baru, makanan enak, gadget kekinian dan lain-lain. Ini hanya masalah pilihan: main dan kecanduan; tidak main dan tidak kecanduan. 

Namun, kau juga bebas untuk memilih main dan tidak kecanduan, sepanjang kau mengerti dirimu sendiri. Sesederhana itu, karena game diciptakan agar semua bisa bersenang-senang, menikmati dan bersosialisasi, tentunya. Pemikiran seperti inilah, yang akhirnya membuat saya klik-donlot. 

“Semenjak ada Pokemon, kalian jadi akrab, ya?”

– salah satu rekan kantor. 

Karena Pokemon Go, perjalanan menjadi lebih bermakna; setiap sudut tempat menjadi begitu berarti; lahir bermacam topik dialog baru; kesempatan baru dan senyum-senyum baru. Well, selamat men-pokemonisasi duniamu! Jangan lupa siapkan charger, colokan, powerbank dan hati yang riang! Sebab, memburu Pokemon tidak harus menutup gerbang kedekatanmu dengan orang tercinta di sekitar. Salam Pikapi!

*tulisan ini iseng dibuat, murni karena gemes melihat ‘fenomena langka’ ini. Apakah bisa disebut review versi puitis? well, screw it, as long as you enjoy it!

1 thought on “Review: Pokemon Go Indonesia Versi Puitis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *