Kota dan Kotak – Dirgahayu Jakarta ke-489

Delapan tahun lalu, sama sekali tak terpikir untuk menginjakkan kaki di Jakarta. Sama sekali tidak ada mimpi yang lebih besar daripada menjadi seorang nerd profesional di Singapura. 

Tujuh tahun lalu, pikiran-pikiran tentang Jakarta: macet, ondel-ondel, Monas, Toko Buku mulai gentayangan di benak. Ternyata tidak akan ada Singapura dalam hidup setelah lulus sekolah, bahkan Jakarta yang ada dalam bayangan, ternyata begitu berbeda dengan kenyataan. Saya terdampar di sini, dengan orang-orang yang sudah familiar, berusaha mengenali mereka yang tak familiar di luar sana. 

Kata orang, “Ibukota itu kejam, sayang.” Tapi, tujuh tahun sudah, dan siapa sangka begitu banyak yang terjerumus terpesona dengan Jakarta. We are just trapped, beautifully trapped in this beautiful yet painful wonderland. 

Kadang, Jakarta itu surreal.

Kadang, Jakarta itu manis. 

Jakarta, adalah eksplorasi tanpa henti. Saya terjebak dalam sejenis love hate relationship dengan kota ini. Persetan dengan macetnya (yang kadang pula dirindukan dan dipertanyakan kalau tidak macet). Hidup di sini, memang hidup yang benar-benar kota, benar-benar (selayak) hidup dalam kotak pula. 

 

KOTA(K)

Ada kota di balik kotak,

Ada kotak yang tersembunyi di balik kota.

 

Kota ialah nafas yang tak pernah berhenti berdegup;

kotak ialah sengal yang sudah tak sanggup.

Kota ialah mercuasuar nyala harap tanpa henti;

kotak ialah muram yang ingin segera berhenti.

Kota tempat segala hidup bergantung;

kotak tempat segala kapasitas mengatung.

 

Sepi, sepi.

Sudahkah kau kesepian di tengah kota yang sesak bagai kotak?

Kita hidup di kota yang seperti kotak,

hendaknya tak perlu membatasi eksplorasi dengan mengkotak-kotakkan.

 

Ramai, ramai.

Ramainya percakapan yang terus digelar di dalam benak,

Beranak pinak, tak lagi menyisakan jarak

Tak ada pula yang bisa diajak berbagi cakap.

Kita hidup di kotak sosial yang itu-itu saja,

hendaknya alam pikir tak perlu seingar-bingar kota.

JKT

Dirgahayu, Jakarta ke 489. 

“Happy birthday to you, happy birthday to you.”

Di tengah segala kesempatan dan kesemaputan, saya selalu tahu, bahwa Jakarta ingin mengajarkan cara bertahan hidup, cara merayakan kesepian dan rasa rindu pada apapun yang memang tak akan lagi kembali, cara menikmati hidup bersama pribadi-pribadi yang luar biasa.

Jakarta mengajarkan saya, cara untuk bertumbuh.

Entahlah, mungkin pula Jakarta hanyalah tempat persinggahan, untuk tahun-tahun mendatang. Siapa yang akan tahu.

Saya ingat, beberapa teman pernah mengungkit, “Kamu mau pulang ke kampung halaman lagi?”

Jakarta tahu, hati ini, jawabnya apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *