Traveling To Phnom Penh & Siem Reap (Part 2): Mengamati Manusia Kamboja

“Perjalanan adalah mengenai manusia itu sendiri.”

Mengamati manusia, menurut saya adalah hal paling seru, karena saya datang dengan sepasang mata yang baru; belum terkontaminasi oleh ekspektasi dan pula konsep apapun. Setelahnya pun, as a result, saya tidak berhak menghakimi apapun, karena saya ‘kan bukan orang lokal yang mengerti seluk beluk negara tersebut.

IMG_0110

#NyarisPuitis Goes To Cambodia! #eaa

Atas dasar prinsip di atas, jadilah saya pengamat yang baik nyerempet kepo. Pengamat ini suka berinteraksi dan iseng kalau sudah ketemu sama orang baru. Dan itulah yang dilakukan di Kamboja, saya tertarik untuk punya banyak temen ngobrol di negeri dengan bahasa dewanya. Tapi, memang dasar kepingin cuci mata, hal pertama yang saya tanyakan ke teman saya yang pernah ke Kamboja adalaaaah… “Ada yang ganteng, nggak?”

Tentu saja jawaban yang paling bisa dipercaya adalah “Jangan ngarep”, “Lu jadi paling cantik lah di sana.”

Kesan pertama saya terhadap penduduk Kamboja sama sekali nggak impresif. Mereka ini galak-galak, nyolot dan agak lola. Apalagi kalau sudah mbak-mbak yang notabene-nya bukan petugas restoran atau hotel, wah sering banget deh digalakin! Contohnya, waktu kepingin beli sim card yak, belom apa-apa udah disela: “So, you buy or not?!” Beeeeeh. Galak amat, kak.

Berhubung lagi suasana traveling, sikap yang kurang ramah seperti ini sangat bisa saya maklumi, karena udara yang panas, bikin orang-orang lebih gampang esmosi. Semakin saya mendalami Negara ini, ternyata banyak juga hal kocak dan menarik untuk ditilik.

Tuk tuk Scam

Tawar-tawaran dengan supir tuk-tuk (sejenis bemo) lumayan challenging, maklum karena pake USD, saya enggak tahu apakah harga yang ditawarkan ini sudah reasonable apa belom. Menurut review bule-bule, banyak yang ketemu abang tuk-tuk yang tega ninggalin eneng-eneng cantik di pinggir jalan sebelum nyampe di tujuan. Tapi, saya jadi inget lagi katanya Windy Ariestanty – travel writer di satu sharing mengenai insecurity ketika mengunjungi negara berkembang dan belom begitu ‘aman’, waktu itu dengan santainya ia menjawab, “Kenapa mesti takut? Kamu sekarang di Jakarta aja belum tentu aman.” I think, maybe it’s also the reason why i finally went to Cambodia. I wanna try how far i can overstep my insecurity.

1460697402825

strolling with insecurity?

Tapi, perjalanan saya 100% aman. Bahkan, beberapa abang tuk-tuk malah meninggalkan kesan yang lucu. Di Phnom Penh contohnya, kami cewek bertiga pergi ke Russian Market. Walaupun abang tuk-tuk terlihat ramah, saya tetep aja berasa parno, sampai-sampai si abang ngomong, “Don’t worry. I will protect you all. You are safe, ya. I can be your bodyguard!” sambil gaya-gayaan. Begitu ternyata Russian Market tutup, dengan muke gile muke kecewa dia minta maaf dan akhirnya kita nego buat ke desa Choeung Ek yang letaknya 45 menit dari kota (tempat Killing Field itu lho, baca cerita Part 1 nya, deh) yang saya tagihin lagi, “But you promise yah will take care of us, be our bodyguard?!” (jangan tanya masalah logat yah, udah mirip anak SMP internasional Jakarta, dah!)

Abang tuk-tuk: “Yes, of course, you are my sister.”

Saya: “Okelah. So how much?”

Si abang: “No expensive, oke? Only plus fifteen dollar. Oke?”

Saya: “Aiyoooo… too expensive, lah! (nah, yang ini pake logat singapore), “you are my brother, ten dollar, oke?”

Setelah ber-brother sister beberapa saat, akhirnya kami pun ketemu harga yang oke. Si abang ini saking baiknya nungguin kita, sampai-sampai katanya dia nolak tawaran bule lain, lho. Karena keliatan cape banget, begitu kita sampai guest house, kita pun ngasih dia kenang-kenangan koin seribu rupiah as a good fortune and wish you can visit Indonesia someday. Reaksinya?

What money this in riel?” (mata uang Kamboja).

Ah, dasar si abang mata duitan!

The Power of Duit Koin Seribu

Ehm.. sebenarnya nggak ada power apa-apa juga sih, cuman ternyata lucu aja. Koin seribu ini juga sampai di salah satu abang penjaga konter di Phnom Penh. Awalnya kita udah pusing karena belom web check in, sementara waktu dari bis ke bandara benar-benar mepet. Mau nggak mau, memang harus dapet tempat print malem itu juga, dengan kondisi warnet pada tutup karena hari raya. Akhirnya, setelah sempat ditolak, si abang konter akhirnya bohuat juga dan membantu kita nge-print. Di sela-sela itu, temen saya pun iseng godain nanya-nanya si abang yang bernama Sengnarith.

Have you married? I see ring in there!” *tunjuk jari manis*

(Si abang cuman tersipu sambil menggeleng, jawab “not yet” dengan suara pelan, “only want to wear it.”)

But you absolutely have girl friend, right? You are good looking! How many girl friends do you have??” *nada rada maksa*

(Masih senyam-senyum, waktu dia jawab cuma satu, keukeuh banget dah pokoknye. Iya, bang, iyaaa. Percaya lah. Abang ini sih emang keliatannya masih bocah. Untuk ukuran orang Kamboja, dia cukup manis, sih. Begitu dah pokoknya, malu-malu ngegemesin gitu. Jadilah dia bahan ceng-cengan kita malam itu).

What kind of song is it? What is the meaning?”

(SUMPAH LAGU-LAGU KAMBOJA SIH NGGAK NYANTE, LHO. SEMACAM DANGDUT. Tapi kali itu, lagunya kedengeran lucu aja gitu, duet, and he said the meaning is about funny thing. Entahlah apa itu).

Do you ever travel to Indonesia? Bali? Jakarta? No? Well, you should!”

Dan bacot-bacot lainnya untuk mengulur waktu. Sebagai tanda terima kasih, kita pun ngasih dia koin seribu yang disimpan dengan manisnya di dompet. Aww.. so sweet. Lucunya, orang-orang Kamboja yang kita temui suka malu-malu gimana gitu, terutama cowok yang terkesan kemayu. Tapi setelah ngobrol lumayan lama, mereka… bawel.

20160415_125246

nah, cerita si abang tuk-tuk masih ada lagi nih…

Yes, (cowok) kemayu!

Ini memang cuma hasil pengamatan aja sih, tapiii banyak banget orang Kamboja yang berwajah kekar tapi melambai. Motor dengan warna shocking pink dengan pengendara cowok berjaket soft pink, kontras dengan warna kulit yang terbakar dan warna rambut yang disemir pirang. Pernah juga saya menemukan se-geng yang lagi naik tuk-tuk, lagi ngegosip sambil cekikikan. Ya ampun, lucu banget! Saya makin amazed sama abang tuk-tuk yang membawa kita ke Angkor Wat. Masih muda banget, subuh-subuh pas saya samperin, dia masih leyeh-leyeh di tuk-tuk nya sambil nonton Youtube (can you see how sophisticated this developing country?). Begitu ia nge-klik back, kelihatan deh call log si doi: “Mum” Woohoo. Kece lah. Setelah diperhatikan, walaupun nggak kemayu-kemayu amat, namun si abang yang beralis tebal ini ternyata punya bulu mata yang super lentik juga! Iiiih, ngiri deh, bang!

Beda pula cerita di Night Market

1460910373194

Saya: “Eh, ini yang jual pancake banana termasuk cakep juga, ya?”

Temen saya: “Hey, sir. She says, you are very handsome!”

Si abang pancake: *ekspresi datar* *sibuk bikin makanan*

Saya: “Yes, sir. You are very ganteng. You know what is ganteng?

Si abang pancake: *senyam-senyum* *tetep aja nggak digubris*

Akhirnya gagal juga rencana kita dapet pancake diskonan (harganya beda sama penduduk lokal, entah kenapa). Ternyata teori temen saya yang menyatakan bahwa saya adalah orang paling cakep di Kamboja ini… hoax semata.

Cara nawar di Night Market Siem Reap

Lumayan susah, memang. Tapi, seperti halnya belanja di pasar malam pada umumnya, jangan pernah cape nawar dan belilah sekali gambreng. Kalau bisa patungan sama temen. Dan kalau belom begitu ngaruh, kamu boleh coba keluarin jurus rayuan seperti menepuk lengan si penjual (kalo sesama jenis ya, jangan ganjen juga), sambil bilang, “Come on… no expensive lah, we buy so many. Oke? You are my sister. Oke, sister?”

Trik ini sebenarnya dipelajari dari abang tuk-tuk pertama, lumayan works juga sih.

Oh ya, jangan sampai terenyuh kalau saat kamu nawar, terus penjualnya menatapmu dengan mata nanar sambil bilang, “Oh my god…” (lafalnya seperti ‘oh my goat‘ abis), seakan-akan kamu nawarnya parah dan tak berperikemanusiaan. I saw few of them. Same expression. Kebanyakan sih ibu-ibu. Hehehe.. jadi pake saja jurus si sister, setidaknya kamu bisa dapet harga yang lumayan di pasar malam yang termasuk mahal ini.

20160414_072159ds 20160414_110409 20160414_072159

Dari kiri: fish amok, ice coffee (super enyak!), nasi babi. Okelah, saya tahu ini kurang nyambung, tapi siapa sih yang traveling tanpa mikirin makanan? :3

Sebagai penutup, perjalanan ke Kamboja memicu saya untuk terus mengeksplorasi. To let the city experience you. Dan pula, dari mengamati manusia, saya pun belajar satu hal: bahwa traveling sebenarnya ingin mengajarkan kita hal kemanusiaan yang paling fundamental, yakni adaptasi. Bahwa sekangen-kangennya saya sama Jakarta, saya bisa bertemu hal-hal seru di luar dugaan, sekaligus menikmatinya dengan baik.

And yes, bring no expectation, karena segala ekspektasi saya tentang gambaran Negara Kamboja seketika luruh saat saya sampai di sana. Bukan jauh lebih keren; bukan pula jauh lebih jelek. It just… beyond expectation. Mungkin karena itulah, perjalanan itu namanya pengalaman. Yang ngalamin, ya… kamu sendiri.

Mmm… Jalan-jalan lagi, yuk?

[sgmb id=”1″]

2 thoughts on “Traveling To Phnom Penh & Siem Reap (Part 2): Mengamati Manusia Kamboja

  • Eh, udah sampe sini aja neh ceritanya? *nantangin* hihihi…
    Kalo ketawan kita turis harganya beda ya neng? Kasus yg pancake. Kayak di Bali gitu? Eh, masih gitu gak sih di Bali? Trus masalah bahasa gak terlalu kendala ya krn banyak yg ngerti bahasa Inggris?

    Oh ya, setau gue kalo pernyataan misalnya gini, si abang ini cakep deh untuk ukuran orang anu — dianggap rasis bo, karena berarti orang anu rata-rata nggak cakep, gitu. :O Misalnya, si anu tuh cakep yah untuk ukuran orang Indo. Berarti orang Indo biasanya gak cakep. Oh nooo….

  • Eh yes! Ngga kepikiran di bagian itu lho. But for me, ini jadi bikin gw berasa tiap orang punya kecakepannya masing-masing, if we dare to look deeper. #eeeaaa

    Iya, kayaknya beda deh, mungkin karena lokal belinya pake mata uang mereka kali ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *