Traveling to Phnom Penh & Siem Reap (Part 1): Menjadi Sejarah di Negara Kamboja

[sgmb id=”1″]”Mengapa Kamboja? Bukan Hongkong seperti temanmu?”

Kata-kata dari Nyokap sempat bikin saya kepikiran. Negara berkembang ini sebenarnya memang bukan destinasi impian saya, karena bagaimanapun saya lebih penasaran dengan India.

Nah, mengapa Kamboja?

Tiketnya waktu itu lagi promo, titik.

Tapi, setelah saya tilik, pasti ada ‘alasan’ lain yang mengantarkan saya ke Negara super panas ini, because even in my wildest dream, I’ve never dream for… Angkor Wat.

angkorwat22

Dilihat dari udara, kawasan Kamboja hanyalah petak-petak tanah yang tandus dan menguning—persis seperti kue lapis. Setelah kejutan suhu super panas, saya kembali disambut dengan spanduk ‘Happy Khmer New Year’ di bandara Phnom Penh, ternyata hari raya warga Kamboja jatuh pada tanggal 13 April sampai 16 April! Jalanan yang lengang, warga yang kebanyakan balik kampung, pasar-pasar yang ternyata tutup, semua sempat bikin saya sedikit menyesal, apa yang bisa dieksplor dari kota bak sauna ini?

Namun, timing tak pernah salah. Durasi piknik ini ternyata cukup autentik bagi saya, karena saya bisa mengalami langsung suasana rakyat Kamboja menyambut turunnya dewa yang membawa berkah, tepat jam delapan malam (disertai letupan kembang api) dan pula ikut sembahyang bersama. Meja berhias persembahan dilengkapi lampu kelap-kelip dipajang di depan setiap rumah. Di sisi lain, Royal Palace didekorasi sedemikian rupa untuk merayakan hari besar ini, pembuktian bahwa warga cinta banget sama Raja mereka, karena mereka memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesehatan Raja, sehingga Raja bisa menjaga mereka dan membawa kemakmuran untuk orang terdekat mereka.

Sejarah, menjadi nilai jual dari Negara ini. Saya mengunjungi dua kota paling mainstream di Kamboja: Phnom Penh dan Siem Reap.


 royalpalace

Phnom Penh, Sang Ibukota yang Bangkit dari Kelam

Saran bagi yang berniat ke Kamboja, pilihlah penginapan  dekat tepi sungai. Tempat wisata seperti Royal Palace dan National Museum (dan beberapa kuil) bisa dicapai dengan berjalan kaki. Sepanjang sungai Tonle Sap ini juga cukup refreshing karena banyak jajanan dan spot terbaik untuk ‘cuci mata’ karena.. yep, hot guys all along this hot city. Viva la tourists!

phnom penh

Tepi kota dan tuk tuk yang (kebetulan) lewat.

Kamboja memang adalah kota Buddhis Theravada dengan bendera Buddhis yang terpancang di sepanjang jalan, pagoda-pagoda dan vihara, serta bhikshu yang tampak di  jalan raya (if you lucky enough to see some of them). Terbukti juga dari Silver Pagoda, yang masuk satu komplek dengan Royal Palace, adalah kuil yang terbuat dari emas, dengan peninggalan barang-barang kerajaan yang juga terbuat dari EMAS MURNI (dilarang pegang dan dilarang foto!), ada kotak perhiasan, alat makan, mahkota raja dan ratu yang naujubile-dijual-bisa-berapa-duit-nih, koleksi rupang kecil Buddha dan stupika dan banyak lagi alat-alat yang menyokong kehidupan lainnya. Membuktikan bahwa Kamboja dulunya penuh dengan orang-orang tajir mampus, bahkan sisanya terlihat sampai sekarang. Never expect to see many mobil kaleng kayak di Jakarta, karena mereka bawa Lexus, Peugeot, bahkan yang paling butut pun… Corolla Altis. Well, back to the topic, Royal Palace tentu jadi prioritas kalau kamu kepingin disayang Raja Kamboja jalan-jalan sambil lihat-lihat.

royalpalace2

Masuk ke komplek kerajaan? Bayar tiket masuk 6 USD!

Bicara tentang Phnom Penh, pasti tak lepas dari wisata sadistik untuk menelusuri museum tempat korban genosida. Kalau kamu kepingin berkunjung ke Killing Field (like i did), maka akan memakan waktu sekitar 30-45 menit naik tuk-tuk, karena letaknya ada di desa, lumayan jauh dari perkotaan. Memahami sejarah Kamboja memang bikin sedih, bagaimana tidak, rezim Pol pot di tahun 1975-1979 (which is baru 41 tahun yang lalu) telah membinasakan lebih dari dua juta warga mereka sendiri dengan cara yang keji. Di sana, ada satu pagoda dengan rak menjulang tinggi, isinya… tumpukan tengkorak manusia! Mereka dibantai dengan kejam, lukanya membekas hingga retaknya tulang. Seram, sedih, hati berasa diremas sekaligus… horor, karena kami adalah pengunjung terakhir di hari itu. Kalau dipikir-pikir memang ngeri juga sih, satu lapangan tempat mayat-mayat (pernah) bergelimpangan dan kita dalam diam asik foto-foto sambil lihat-lihat, di jam 6 sore! Huks! Saya pulang dengan perasaan tidak enak, masih terngiang bau khas apek -sedikit mirip bau bangkai di pagoda penyimpanan itu. But, hey, i actually has seen real human skeletons! *pencapaian*

killingfield

Perasaan kelam dan gundah durjana ini pelan-pelan pudar ketika kami sampai di guesthouse lagi. Setelah beberes dan ikut kepo sembahyang, kami makan di restoran Lebanon yang… unexpectedly enak banget dan sempat mengobrol dengan waiter yang asik!

Malam itu, saya belajar satu hal: bahwa traveling sebenarnya ingin mengajarkan kita hal kemanusiaan yang paling fundamental: adaptasi. Bahwa sekangen-kangennya saya sama Jakarta, saya bisa bertemu hal-hal seru di luar dugaan, sekaligus menikmatinya dengan totalitas.


angkor

Siem Reap, Penjaga Masa Lalu yang Kekinian

Dari Phnom Penh, kami menempuh perjalanan 6 jam menuju Siem Reap dengan Bus Giant Ibis (VERY RECOMMENDED! Selain tempat duduk nyaman, free wifi in bus, on-time banget, petugas ramah dengan bahasa inggris oke dan roti enak). Sepanjang jalan, yang saya lihat masih saja hamparan ‘kue lapis’ yang super gersang, sampai-sampai saya jadi sedih melihat sapi-sapi diikat di sawah yang tandus di siang terik.

Sampai di Siem Reap, semua seakan mekar. Kota ini benar-benar hidup.

Kota ini bernafas dan cantik, walau angin sore masih terasa seperti embusan hair dryer, namun saya bisa menikmati fish amok (makanan khas Khmer dengan ikan kukus berbumbu santan dan bawang) serta makanan lain dalam damai.  Lalu, kembali menikmati ramainya malam di Night Market dan Pub Street.

pubstreet

Sama dengan Thailand yang menghelat festival Songkran, jalanan sekitar Night Market juga dipenuhi oleh remaja cabe-cabean yang membawa pistol air dan bedak babi mild, saling menyemprot dan menyiram satu sama lain sambil teriak sana-sini. Beberapa turis juga ikutan, terutama turis Thailand (yang kebanyakan ngondek). Kami sempat disemprot air juga dan batal galak karena orangnya hanya berteriak “Happy New Year!” sambil lari-lari. Ah, apa daya, negara orang. But, i enjoyed it. Live like a local, weeee!

Angkor Wat

Dan, satu-satunya alasan berkunjung ke Siem Reap begitu mengesankan adalah melesak bersama pusaran waktu, dan kembali ke Masa Lalu. Komplek Angkor Wat benar-benar kompleks dan bikin saya langsung terjun dalam lautan imajinasi. Apa rasanya kalau kita hidup di zaman kerajaan Khmer yang megah? Jalan menuju gerbang yang seakan masih menggaungkan derap kuda-kuda prajurit, timbunan batu-batu yang menjulang tak rela termakan masa. Seakan saya bisa membayangkan Raja Jayavarman beserta generasi-generasinya menunggang (kereta) kuda untuk melakukan ibadah di sini, karena inilah Angkor Wat… Istana Para Dewa, pusat semesta tempat semua orang melakukan penghormatan, tentu saja, komplek ini penuh dengan rahasia keagungan dan kejayaan. Dibangun di tahun 1000-an (kebanyakan hal tentang sejarah, nyontek dari Wikipedia), kemegahan Angkor Wat (kuil kota) tentu menginspirasi dan menyentuh banyak orang…. jangan-jangan di kehidupan lampau, saya sudah pernah datang ke sini? Ah, lupakan. Bahkan sampai saat ini, seakan saya masih bisa mendengar huru-hara manusia yang hilir mudik, hanyut dalam ibadah mereka. How beautiful. 

angkor3

Saya mengambil tur Small Circle dan mengunjungi candi-candi utama yang terkenal, hampir di setiap lokasi terlihat reruntuhan dan pahatan tipis apsara (bidadari yang menari), dewa-dewi di sela-sela bangunan, gambaran kehidupan istana, rupang-rupang Buddha di koridor lengkap dengan dupa dan aneka persembahan, lengkap pula dengan kehadiran bhikshu dan umat-umat yang memberi penghormatan dan juga konsultasi dan juga dikasih gelang.

angkor4

Bagaimana mungkin, hari itu rasanya saya seperti menjelma menjadi sejarah dan mendapati diri saya, sedang menyaksikan sejarah? Saya sendiri pun heran, mengapa harus Angkor Wat?

Angkor Thom – Bayon

Kuno, dengan peradaban super canggih. Gerbang Angkor Thom (‘Thom’ artinya Besar) ‘dijaga’ oleh barisan patung-patung gigantik yang diidentifikasi sebagai dewa dan asura, masuk ke dalamnya adalah Candi Bayon.

bayon

Siap-siap terpukau dengan wajah-wajah dewa menawan dan super besar (seperti namanya) yang berhias di mana-mana. Hasil kepoan curi dengar dari tour guide yang lewat, konon katanya, ini adalah perpustakaan. Tak heran, aroma pengetahuan masih meruap di sini. Walaupun ramai, ada damai yang menyesap di hati.

bayon2

Can you spot the beautiful face over the sunshine?

Entahlah, mungkin sejenis kagum dengan arsitektur dan pahatan wajah-wajah (well, i see them as avalokitesvara – simbol dari kebaikan dan cinta kasih)  yang menenangkan sekaligus menyenangkan.

Ta Phrom

Dalam bayangan saya, Ta Phrom tempat syuting Tomb Raider adalah tempat yang cukup sunyi, karena bersembunyi di lingkungan hutan. Masih banyak semak-semak dan mesti berhati-hati kalau jalan kalau enggak bisa ketimpuk batu atau akar pohon. Tapi kenyataannya! Oh my! Kawasan ini paling penuh oleh turis yang ingin berfoto di akar pohon megah kokoh yang menjalari bangunan, sampai-sampai kami perlu antri dan fotonya pun nggak boleh lama-lama!

taphrom

well the queue… started!

Faktanya, akar-akar pohon ini menyokong berdirinya bangunan, lho. Padahal, saya sempat berpikir, bahwa tukang bangunan zaman dulu agak bokangco (alias kurang kerjaan), sehingga mereka dengan kreativitasnya mendirikan bangunan di sela-sela pohon gede. Yep, it became legendary.

taphrom2

From Legendary Tree with love!

Banteay Kdei

Masih terkesima dengan Candi Muka, saya akhirnya berkunjung ke Banteay Kdei (Banteay artinya ‘Benteng’) yang lebih sepi, tapi tetap banyak yang jualan souvenir dan buah-buahan. Banteay Kdei adalah Bayon versi super kecil, yang di dalamnya juga ada altar dengan rupang Buddha.

banteay

Cantik banget Buddha Rupang-nya dihias di siniiii :3


Ya belum sih… saya belum menemukan alasan “mengapa Kamboja?” dan tak pula ingin beralasan macam-macam. Aneh memang, bahkan sudah pulang pun, saya masih saja suka heran. Anyway, mengunjungi Negara yang bisa leluasa ngomong bahasa Indonesia tanpa khawatir ada yang mengerti memang asik sangat, and I found the other pleasure of traveling… mengamati warga setempat.

Apa saja sih, keunikan orang Kamboja yang bikin gemes dan ngakak, tapi agak serem juga? Bagaimana cara menawar harga belanjaan di sana, well i mean ‘the keyword’?  Cerita horor tentang tuk-tuk? Bahasa apa yang bisa dikuasai selama di sana? Dan pula, hal-hal yang bikin susah lupa. Saya akan tulis di Part 2, ya. Jari udah keriting, ditambah lagi, kamu mungkin udah mau muntah darah capek baca dan pengen pipis. Bye for now, thanks for reading! *blow kiss ala-ala banci thailand*

15 thoughts on “Traveling to Phnom Penh & Siem Reap (Part 1): Menjadi Sejarah di Negara Kamboja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *