Jalanan Ibukota adalah Restoran Non Halal

Bagimu, jalanan ibukota tak lebih dari medan perjuangan yang melelahkan.

Bayangkan, berapa banyak umat manusia yang rela tertumpuk di jalan raya agar bisa sampai ke tujuan? Kamu, salah satu orang yang beruntung itu. Kamu memang bukan supir Uber, tidak mencari nafkah dari kemudi mobil. Maka dari itu, rasa-rasanya kamu merdeka untuk mengumpat motor-motor yang tidak berperikemotoran, suka bikin kejutan dengan segala tiba-tiba yang bikin jantung copot. Rem mendadak, salipan dari belakang, nyala lampu sen yang beda dengan kenyataan hidup, bunyi klakson yang lebih heboh dari sirene ambulans… ah, memang para pengemudi motor ini tak sayang nyawa! Bahkan rasa-rasanya, kamu lebih sayang nyawa si pengemudi motor daripada nyawamu sendiri. Buktinya kamu marah-marah demi mereka, menyia-nyiakan kebahagiaanmu sendiri.

Kamu juga bukan ojek online yang mencari nafkah dari notifikasi pelanggan sekitar, sehingga kamu rasa kamu bebas memarahi pengemudi mobil sialan yang rem mendadak, lebih parah lagi kalau mobil tersebut tersendat di sebuah jalan kecil dan tak mau mengalah dengan mobil dari arah sebaliknya. Hasilnya, kamu harus mencium asap knalpot dan membiarkan rambut klimismu itu pelan-pelan jadi lepek di balik helm yang lupa kamu jemur. Oh ya, ada lagi, kamu yang menggeleng-gelengkan kepala sambil mengumpat ketika mobil di depanmu dihadang galau-pilih-jalan-yang-mana.

“Bangke nih mobil!” serumu, seakan lupa bahwa kamu ini naik motor karena mobilmu sedang diservis. Seakan lupa pula bahwa mobilmu diservis karena ditabrak motor. Tapi apalah hidup ini, kamu tidak mungkin mau memilih jalan kaki ke kantor, kan?

Selasa pagi.

Begitu banyak orang yang merayap mengejar waktu, demi sebuah mesin absen. Demi sebuah janji dengan klien. Demi tender yang diharapkan menang. Demi si cakep yang sering berpapasan di lift. Demi sebutir nasi. Demi sebongkah berlian dan tiket pesawat.

Suara klakson membahana lagi dari sebelah kanan motor, kamu refleks menggeser gerak motormu ke kiri, sedikit tidak rela, “Babik, jalanan punya kakeknya kali, ya!!” umpatmu.

Aku memandangi sekitarku. Papan reklame putih dengan wajah bersih iklan dokter wajah, bus kota menyerupai kaleng yang menggeram, asap dari knalpot Transjakarta yang seperti kentut, papan reklame nugget yang masih berasap, perut yang tiba-tiba jadi cengeng, papan reklame kartu kredit dengan grand prize mobil terbaru, rekaman himbauan jalan tol dengan kartu akses khusus, desing kendaraan di sekitar yang berpesta, dan… langit. Bagaimana mungkin mereka yang setengah kehidupannya dihabiskan di jalan tak pernah menengadah ke langit lalu berdecak kagum?

Pagi, awan, kaca-kaca gedung perkantoran, gondola yang menggantung di tengah-tengah gedung…
“Pernah nggak kepikiran buat jadi petugas gondola?” tanyaku tiba-tiba.
Anying, capek-capek selesaiin skripsi, jadi tukang gondola?” kamu masih saja nyolot, mungkin amarahmu baru bisa mereda kalau sudah ketemu makanan.

Aku kembali mengedarkan pandangan. Puisi berikutnya mungkin akan kuberi judul “Jalanan Ibukota adalah Kebun Binatang”, walaupun ‘anjing’ tidak hidup di kebun binatang. Babi juga. Siake juga. Kalau begitu, lebih
tepatnya, “Jalanan Ibukota adalah Restoran Non Halal.” Kedengarannya kurang dramatis. Tapi ya sudahlah, intinya aku juga kepingin marah-marah seperti kamu, tapi tak bisa. Bagiku tidak ada yang perlu diumpat dari keadaan seperti ini. Jalanan ibukota cukup bersahabat, bagiku yang tidak dalam keadaan kebelet pipis atau kelilit jam karet. Aku suka menikmati suasana bagai simfoni deru kendaraan dan klakson yang bersahutan; awan pagi yang bertumpuk-tumpuk kalau sedang tidak panas, bintang malam yang bertebar dalam kabut, menyaru dengan kelip lampu gedung, lampu jalanan dan lampu kendaraan; oh ya, satu lagi, kata-kata di setiap papan reklame yang tak jemu kubaca.

“Kok diem? Tidur lagi, ya?” serumu.
“Enggak kok. Lagi mikir, hari ini mau traktir kamu bubur atau mie pangsit.” kilahku.
“Apa aja deh, yang penting kamu yang bayarin.”
“Kok gitu? Bukannya, ‘yang penting makannya bareng kamu’ gitu?”
“Iyain aja deh, biar seneng.”
“Kok kamu nyolot?”
“Namanya juga lagi nyetir.”
“Kok kamu banyak alesan?”
“Kamu mau diturunin di jalan?!”
“Iya. Soalnya kantorku udah sampe!”
“Oh, sip. Untung kamu ingetin.”

Kuserahkan helm dan sekilas kulihat wajahmu yang memerah. Jalanan ibukota bisa mengubah emosi orang, semudah itu, orang-orang rela emosinya dipermainkan di sana, setiap harinya.

Jalanan ibukota pun bisa mengubah hubungan orang, seperti dari orang asing, menjadi teman sarapan setiap pagi. Diam-diam aku berharap, lain kali kamu yang traktir, bukan dibalas dengan bubur atau mie pangsit, tapi setidaknya di Restoran Non Halal yang sedikit lebih mahal.

Ah, nanti saja deh. Aku harus kumpulkan lebih banyak ‘amunisi’ dulu.

4 thoughts on “Jalanan Ibukota adalah Restoran Non Halal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *