Tentang Kenyamanan dan Kafe Outdoor di Senja itu.

Zona Nyaman

Aku juga heran mengapa akhirnya aku mengajak orang seperti Phillip keluar untuk sekedar menikmati senja di kafe outdoor yang tak sengaja kita temukan, menyesap bau keringat para pekerja kantoran yang berlalu lalang menyambut kebebasan mereka di tengah-tengah kemacetan yang membahana. Alasanku sederhana, aku bosan. Alasannya pun tak kalah sederhana, dia butuh teman bicara, dia sudah hampir mati karena tidak ada interaksi di ruang apartemennya yang sudah sesak dengan ide dan idealisme-nya. 

 

“Menurutmu, bagaimana seseorang harus memperlakukan zona nyamannya?” Aku menghirup chamomile sambil memejamkan mataku sejenak, lalu menghela nafas berat. Orang bilang, chamomile bisa meruapkan efek yang menenangkan, tapi kepalaku juga tak kalah penuh dengan idealisme yang ingin segera memberontak dan memburai menjadi ketakutan.

 

“Memperlakukan?” Alis Phillip yang tebal itu mengernyit, “Zona nyaman itu sama sekali tidak eksis. Zona nyaman itu hanya akal-akalan yang dibuat oleh diri sendiri, seperti membangun jeruji dan menjebloskan diri sendiri ke dalamnya,” Phillip terhenti sejenak dengan mata yang menunda berkedip, “bahaya juga, ya?” lalu ia melirikku sambil tersenyum kecut. Senyum yang tidak totalitas, tidak seperti senyum-senyum miliknya yang biasanya boros.

 

Aku menggeleng. Berbicara dengan Philip seperti berhadapan dengan tembok polos dimana aku tidak akan mengerti apa-apa, tapi kadang setelah sekian lama menatap tembok polos akan muncul ‘penemuan’ yang tak disangka-sangka. Tapi kali ini, aku belum mendapat pencerahan apa-apa. Phillip masih saja penuh dengan tanda tanya dalam kata-katanya, atau mungkin hanya aku yang terlalu bodoh. “Jadi, zona nyaman itu tidak baik?” tanyaku, ini seperti anak SD yang membeda-bedakan baik dan buruk. Bila baik, maka hendaknya diikuti. Bila buruk, maka hendaknya dihindari. Nyatanya, dunia ini tidak sesederhana baik atau buruk. Demikian juga dalam hal membuat keputusan. 

 

“Saya sama sekali tidak bilang begitu. Bagi seseorang yang ingin hidup aman dan tenang dari ancaman dunia luar, penjara tentu saja tempat paling membahagiakan, bukan begitu?” Phillip mengerling, ia tahu bahwa aku tahu. Sudah tak ada gunanya menggunakan berbagai metafora untuk menuju topik ini. Topik yang melelahkan: mengenai rasa bersalah.

 

“Belakangan saya sadar, semakin saya mencari-cari cara untuk menenangkan diri, entah itu tidur lebih panjang, mengulur-ulur waktu, menonton lebih banyak film, pergi party atau… sekedar minum teh seperti ini… semakin saya jauh dari diri saya sendiri. And it’s torturing.” Suaraku pelan, sedikit bergetar, aku butuh pelukan.

 

“Mungkin kamu tidak menyediakan cukup waktu untuk berkomunikasi dengan dirimu yang sebenarnya, lalu larut terlampau jauh dalam pemikiran-pemikiran aneh. Like always, you.” Phillip tersenyum simpul.

 

Aku menunduk sambil mengaduk-aduk teh itu lagi, sudah dingin dan gula pasirnya juga sudah larut entah ke mana, kuhela nafas sambil menjawab, “Ya, aku mengaduk diriku sendiri dalam kebingungan, sampai-sampai bingung di mana letak semua kebingungan ini. Complicated, ya?” 

 

Phillip mengangguk-angguk, “Itu… zona nyaman kamu?” 

 

Kuangkat kepalaku. Sekejap, senja hari ini terasa begitu jelas, entah itu udara yang kuhirup, bayangan Philip yang sedang mengerjap menatapku juga terlihat lebih beresolusi tinggi, bunyi gelas ditaruh di meja sebelah yang terdengar lebih nyaring. 

 

Semua terasa begitu ringan, terutama kepalaku. 

 

Lamat-lamat aku mengangguk. Sepertinya aku mengerti sekarang. 

 

Zona nyaman itu, siapa yang menciptakan?

Zona nyaman, apakah hanya lingkaran yang kita gambar sendiri di sekitar kita sebagai pembuktian bahwa kita ‘ada’ di muka bumi ini? Ada untuk bersedih, ada untuk marah dan bingung, ada untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang bahkan belum pernah ada… 

Apakah zona nyaman yang tadi kupertanyakan itu, juga tercipta dari kebingungan? 

Bagaimana mungkin kita bisa menjawab kebingungan? Mustahil. 

Kebingungan mungkin sekali adalah pusaran yang harus diamati dengan sabar, seperti.. menatap pusaran air teh setelah sendok diletakkan. Begitu saja, sudah. Begitu saja rasa bersalah akan pelan-pelan tersipu malu dan bersembunyi di dasar. Setelah itu, mungkin kita bisa menelaah rasa dengan lebih tenang dan tidak begitu emosional.

 

Aku tak perlu lagi melempar pertanyaan bertubi-tubi kepada Phillip. Hari ini, pertanyaanku tuntas terjawab dengan pertanyaan darinya. Karena kata orang, jawaban itu sebenarnya sudah ada jauh dalam dirimu sendiri. Kamu hanya butuh orang yang pas untuk memancing jawaban tersebut.

 

“Boleh peluk nggak?” tanyaku, tak bisa membendung senyumku. Senyum merayakan sedikit ‘kebebasan.’

 

Tidak begitu emosional, tapi tetap saja, satu pelukan bisa lebih menenangkan daripada menenggak teh yang sudah dingin.

 

Bagaimanapun, kita semua hanya butuh teman bicara. Teman yang kebetulan betul-betul ada dan bersedia mendengar dengan tulus. Tanpa syarat dan pamrih.

 

Lalu kemudian aku tersadar, tujuanku mengajak Phillip ke kafe outdoor ini, bukan karena aku bosan. Mungkin aku pun sama dengannya, sesak dengan isi kepala sendiri dan butuh teman bicara. 

 
 
 

Jakarta, 2 Maret 2016.

11.52

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *